RSS Feed

Regarder La Ciel Part 2

Posted on

DO Kyungsoo | Choi Sooyoung

Seungri | Seohyun | Ji Eun | Kyoyoung

Romance | Light Angst | PG-15 | (2/?)

Han Hyema Storyline & Artposter

Backsound : Memories of The Day

Author Note : Uah udah 4 bulan gak ngelanjutin FF ini. Kemarin Hye sibuk UN dan pendaftaran universitas. Jadi lagi sibuk-sibuknya. Kalau sekarang Hye libur sampai september awal, dan FF yang dulu tertunda akan Hye lanjutkan. FF RLC mungkin akan menjadi series, karena itu Hye mohon dukungannya. Happy Reading All.

Sooyoung POV

“Eonni?” Aku mendengar sebuah suara memanggilku dan terus menguncang tubuhku.

“Eh?” Aku pun menoleh kearahnya. Aku langsung mendapati Seohyun yang sedang berdiri menghadapku. Kereta sudah berada di statiun dan sekarang suasana sudah sepi. Ternyata kereta sudah berhenti sejak sepuluh menit yang lalu. Dan berarti aku telah melamun lebih dari sepuluh menit?

“Eonni, gwecanayo?” Kumerasakan nada kekhawatiran dari Seohyun. Aku tahu itu. Entah mengapa semenjak mimpi buruk itu, perasaanku tidak pernah tenang. Ah bagaimana ini?

                “Ne, gomawo Hyunie. Kajja!” Aku menarik Seohyun untuk segera turun dari kereta. Mataku menjelajah sekeliling statiun sebelum melangkah mendekati gerbang statiun. Tiba-tiba saja aku terlalu takut untuk berada di sini. Ya, terlalu takut.

Seohyun yang sedari tadi mengekor di belakangku, sesekali memanggil namaku. Mungkin dia merasa aneh dengan tingkah lakuku belakangan ini. Ya, dia pantas merasa seperti itu. Karena aku pun heran dan merasa aneh dengan diriku sendiri.

Kyungsoo POV

Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Seoul. Sebuah tempat yang selalu ingin ku datangi. Aku ingin datang ke sini karena seorang yeoja yang amat berarti untukku. Aku merasa ia marah padaku. Aku merasa ia membenciku. Aku merasa aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar padanya. Aku ingin menjelaskan semuanya. Ya, walau sudah tiga tahun berlalu. Dan walau mungkin pada akhirnya dia tetap membenciku, namun setidaknya ia harus mendengar penjelasanku. Mendengar penyesalanku. Mendengar permintaan maafku. Entah apapun jawabannya nanti.

Aku menaiki sebuah taksi dari dermaga menuju sebuah apartemen di dekat Universitas Seoul. Sudah lama aku mengincar apartemen itu. Hanya karena dekat dengan universitas tempat yeoja itu bersekolah dan hanya itu satu-satunya informasi yang ku dapat.

Bahkan nomor yang aku hubungi saat tiba di sini. Tak ada balasan sama sekali. Apa dia berganti nomor? Tapi kenapa masih aktif?

Taksiku menikung di jalanan berbelok dan beberapa meter kemudian terdengar ban berdecit. Ku buka kaca mobil dan melongokkan wajahku keluar sambil memandang ke atas. Tepat dimana sebuah apartemen yang kelihatan-agak-mewah berdiri dengan angkuhnya.

Ku turun dari taksi dan segera mengambil tas ranselku di bagasi. Tak lupa pula membayar uang dan segera menuju ke dalam apartemen itu.

“Ada yang bisa saya bantu agashi?” Seorang ahjumma menghampiriku saat aku menutup pintu lobi. Wajahnya mulai mengeriput. Tatapan matanya teduh. Dan dia wanita yang ramah.

“Saya penghuni baru kamar 305.” Ucapku kemudian yang di respon anggukan senang.

“Ah, Do Kyung Soo. Benarkah? Sudah lama saya menunggu. Kau ternyata masih muda.” Ahjumma itu bernama Go Book Mi, wanita lanjut usia berumur 40 tahunan. Ahjumma itu pemilik kamar yang akan aku tempati.

“Ne,”

“Baiklah, ayo bergegas ke atas.” Ahjumma itu berjalan mendahuluiku menuju lantai 10 dengan menggunakan lift.

Book Mi Ahjumma mulai bercerita banyak tentang kamar yang akan ku tempati. Mengenai segala hal yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.

“Sebenarnya saya tak mau pindah.” Ucapnya tiba-tiba. Aku hanya bisa memandangnya bingung.

“Tempat itu berisi banyak kenanganku bersama mendiang suamiku. Tetapi karena kenangan itulah yang membuatku pindah.” Terdengar sedikit isakan kecil. Satu hal yang aku tahu, wanita ini sedang rapuh.

“Apa ahjumma tidak apa-apa?” Book Mi ahjumma memandangiku sesaat. Ia kemudian tersenyum.

“Maaf saya terbawa suasana.  Ah itu dia kamarnya.” Book Mi ahjumma berjalan menuju pintu kamar paling ujung. Di sana tertera nomor 305. ‘Ah benar itu kamarku,’

Book Mi ahjumma menekan kode pintu berkali-kali dan menengok ke arahku. “Sekarang kau bisa mengganti kodenya, silahkan.” Tanganku mulai mengisikan kode yang baru. Dan lampu hijau kecil menyala.

“Ayo kita masuk.” Ahjumma itu masuk terlebih dahulu.

“Bagaimana?” Aku hanya bisa tersenyum. “Sesuai yang ada di foto. Terima kasih telah memberikan tempat ini pada saya.”

Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu.

“Maaf, jika ahjumma tidak tinggal di sini lalu sekarang ahjumma tinggal dimana?”

“Oh itu, saya tinggal di dekat sini. Dekat jalan yang menuju bukit.”

“Bolehkah saya minta alamatnya? Mungkin suatu saat nanti, saya ingin berkunjung.” Ahjumma kembali tersenyum. “Tentu saja, kau boleh datang kapanpun.”

Book Mi ahjumma kemudian pamit setelah menjelaskan banyak hal tentang kamar yang aku tempati, bagaimana akses kendaraan, dan yang paling aku tunggu-tunggu tentang Universitas yang berdiri angkuh di depan jendela kamarku.

“Sooyoung, aku pasti menemukanmu.” Ku  pandangi langit yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Langit ini masih terlihat sama. Walau aku sudah pergi beratus-ratus mil dari kota padang rumput itu. Mungkin lewat langit ini aku bisa menemukanmu, karena kita masih di satu atap yang sama. Langit.

*

Sudah dua minggu aku menetap di sini. Namun aku belum juga menemukannya. Informasi yang ku punya hanya dia kuliah di Universitas Seoul. Itu pun aku dapat setelah berulang kali membujuk pekerja di rumahnya. Walaupun begitu, aku belum ingin menyerah. Aku harus bisa menemukan Sooyoung. Harus!

“Kyung Soo-shi!” Aku menengok ke belakang. Seorang yeoja datang menghampiriku sambil tergopoh-gopoh dengan beberapa buku yang di bawanya. Yeoja itu bernama Lee Ji Eun. Teman pertamaku kuliah di Universitas of Seoul.

“Ah, Ji Eun-shi. Ada apa?”

“Ini jadwalmu. Mr.Lee menitipkan ini padaku.” Ucapnya sambil sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang sering mengendur.

“Kamshahamnida.” Yeoja itu mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu Ji Eun kembali sibuk dengan buku-buku yag di bawanya.

“Apa yang akan kau lakukan dengan buku sebanyak itu?” Dia menengok dan hanya membalas tersenyum sambil berkata. “Aku ingin menitipkannya.”

“Sini ku bantu.” Aku mengambil separuh dari jumlah buku yang di bawanya. Awalnya dia menolak namun akhirnya memperbolehkanku juga setelah aku memaksanya berulang kali.

“Anggap saja, ini balasan karena kau mau mengantarkan jadwal kuliahku.”

*

Aku masih mengekor di belakang Ji Eun. Yeoja itu ingin menitipkan buku yang ia miliki pada temannya yang berada pada jurusan lain.

“Temanku ini suka baca buku. Sama sepertiku.”

Dan saat ku tanya kenapa ia menitipkan buku miliknya pada temannya itu, dia menjawab, “Itu karena rak bukuku penuh. Sedangkan aku baru saja mendapatkan kiriman buku dari kakakku. Jadi kemarin aku mencari buku yang jarang aku baca lalu aku minta tolong pada temanku untuk menyimpannya. Sehingga buku kiriman itu bisa aku pajang di rak. Hehe.”

Ji Eun berbelok ke sebuah ruang kelas yang sudah di kosong. Di sana hanya ada seorang yeoja yang sedang duduk menyender di meja kuliah. Tubuhnya menghadap ke arah papan tulis. Pikirannya agak kosong. Dan dia hanya menorehkan senyuman kecil saat melihat kami datang.

“Ah eonni, mian. Apa kau menunggu lama?”

“Aniya. Aku baru saja sampai.” Ji Eun menghela nafas kecil, dan meletakkan buku yang di bawanya di atas meja. “Mian merepotkan.”

“Hai, kau sudah mengatakannya untuk ke sepuluh kalinya, Ji Eun-ya.”

“Benarkah?”

“Aish, kau ini.”

“Ah, Kyung Soo-shi, kemarikan bukunya.” Ji Eun mengambil bukunya. Sembari diselengi ucapan “Mian merepotkan.”

“Ah ani. Aku akan sudah mengatakan ini balasan karena kau sudah membantuku.”

“Benarkah?” Ji Eun tertawa nyengir. Yeoja ini menarik. Dia begitu berbeda dengan yang lainnya. Dan yang pasti dia teman yang baik.

“Oh ya Kyung Soo-shi, kenalkan ini Seohyun eonni. Dia temanku yang akan membantuku dengan buku-buku ini.”

“Halo, Seohyun imnida.”

“Ah ne,Kyung Soo imnida.”

BRUG! Tiba-tiba saja ada suara benda terjatuh dari sebuah ruangan di samping papan tulis.

                “Eonni? Ada apa?” Dan sekejap kemudian Seohyun langsung berlari ke ruangan itu.

“Eonni, gwencana?”

“Ne, gwencana. Tenanglah, aku hanya terjatuh.”

Hanya suara-suara itu yang dapat ku dengar. Entah dengan siapa Seohyun berbicara, namun ada satu hal yang aneh. Suara yeoja yang sedang berbicara dengan Seohyun terdengar sangat familiar di telingaku. Terdengar seperti suara hembusan angin di padang rumput itu. Suara yang membuatku tersenyum. Suara yang selalu memandang langit. Suara.., ah itu mungkin hanya perasaanku saja? Ah mungkin.

“Ji Eun,”

“Eum..,”

“Aku pulang dulu ya? Salam untuk temanmu.”

“Ah baiklah. Hati-hati ya? Dan terima kasih untuk hari ini.” Aku hanya bisa tersenyum. Yeoja ini terlalu banyak berkata terima kasih.

Aku berjalan meninggalkan ruang kuliah itu. Samar-samar aku masih mendengar Seohyun masih berbicara dengan yeoja di ruangan tadi.

Soo Young POV

Aku masih merasa tak tenang. Bahkan pikiran mengenai Kyung Soo yang datang kemari pun masih menghantuiku sampai ke ruang kuliah.

“Kau kenapa?” Seohyun menyenggol lenganku. Yeoja itu setengah berbisik bicara padaku  yang sedari tak memperhatikan dosen.

“Cerita saja.” Lanjut Seohyun masih dengan berbisik. Matanya masih menatap ke depan dengan sesekali melirikku.

“Aku tak apa.”

“Jangan berbohong, kau tak pandai melakukannya.” Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Seohyun benar aku memang tak pandai berbohong.

“Sudah cerita saja, sehabis kuliah oke?” Kali ini Seohyun menatapku, tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Yeoja itu pun kembali memperhatikan dosen tanpa melirikku lagi yang kembali larut dalam pikiran mengenai Kyung Soo.

*

Selepas kuliah selesai. Seohyun dan aku masih berada di dalam ruang kuliah. Seohyun sedari tadi masih memaksaku untuk bercerita. Namun entah mengapa, mulutku begitu kelu.

“Bukankah aku sahabatmu?” Tiba-tiba pertanyaan yang menohok hatiku keluar dari mulutnya.

“Tentu saja! Kenapa kau berpikir sebaliknya?” Seohyun menatapku.

“Tapi kau tak pernah mau menceritakan apapun tentang dirimu. Hanya hal-hal umum saja yang ku tahu. Sedangkan yang lainnya, kau seperti tak mempercayaiku.” Aku balik menatapnya. Seohyun sekarang sedang menunduk.

“Hai Seohyun angkat wajahmu, kau tahu aku bukan hanya menganggap kamu sebagai sahabat tetapi juga seorang adik. Dan tentang hal itu, aku minta maaf. Entah kenapa mulutku begitu kelu untuk bercerita. Aku ingin bercerita namun ternyata aku tak bisa.”

“Eonni?”

“Eum..,~”

“Berjanjilah padaku,”

“Berjanji apa?”

“Berjanjilah padaku, saat hatimu siap untuk bercerita. Jadikanlah aku tempat pertama. Yekso?”

“Ne, Yekso.” Kini sebuah senyuman mengembang di wajahnya.

“Terimakasih eonni,” Dan Seohyun memelukku dan aku pun membalasnya.

“Seharusnya aku yang berterima kasih, kau mampu memahamiku dengan baik. Terima kasih”

Kami melepaskan pelukan. Seohyun menatapku masih dengan tersenyum. Kini dia tidak lagi memaksaku untuk bercerita. Sebaliknya, aku terus memaksa diriku sendiri untuk bercerita namun ternyata belum bisa.

“Soo Young-shi?” Seorang teman datang menghampiri kami berdua.

“Kyo? Ada apa?” Yeoja bernama Kyoyoung itu menyerahkan secarik kertas padaku. “Itu dari Mr. Kang,”

“Ah baiklah terima kasih.”

“Ne sama-sama”

Selepas Kyoyoung pergi. Ku baca isinya dan mataku langsung tertuju ke ruangan kecil yang berada di samping papan tulis.

“Ada berkas yang harus ku antar, kau tunggu sebentar.” Ku langkahkan kakiku kesana dan mulai mencari. Samar-samar aku mendengar Seohyun bertanya padaku.

“Perlu  ku bantu?”

“Tidak usah, terima kasih.”

“Kau yakin?”

“Ne,”

Tak berselang lama kemudian, aku mendengar Seohyun berbicara dengan dua orang. Walau aku tak melihat  secara langsung, namun aku tahu dua orang itu yang satu namja dan yang satu lagi yeoja.

Ada perasaan aneh muncul. Perasaan ini sama seperti ketika pertama kali aku mendengar Kyung Soo berbicara. Perasaan ini membuatku menajamkan pendengaranku. Karena suara namja itu terdengar familiar di telingaku. Suara itu dan perasaan ini.

Sambil menajamkan pendengaran. Tangan dan mataku masih saja mencari berkas yang akan ku antar untuk Mr. Kang. Sampai akhirnya aku menemukannya. Letaknya di rak buku paling atas. Bahkan dengan tubuhku yang tinggi pun, aku masih saja kesulitan untuk menggapainya.

Tanganku masih mencoba untuk menggapai. Kakiku mulai jinjit(?). Saat tanganku sudah menggapai berkas itu. Tanpa sengaja telingaku mendengar sebuah  nama di sebut. Nama itu…,

“Oh ya Kyung Soo-shi, kenalkan ini Seohyun eonni. Dia temanku yang akan membantuku dengan buku-buku ini.”

                “Halo, Seohyun imnida.”

                “Ah ne,Kyung Soo imnida.”

BRUG! Tubuhku melemas dan terjatuh begitu saja bersamaan dengan berkas-berkas lainnya yang tanpa sengaja ku senggol dan terjatuh. Suara jatuh itulah yang menimbulkan bunyi berdebum. Lama diriku terdiam sambil menanti sinyal dari otakku agar tubuhku ini bergerak. Namun itu sia-sia. Karena aku terlalu terkejut dengan nama itu. Nama yang kembali terdengar. Nama itu ternyata begitu dekat. Nama itu..,

“Eonni? Ada apa?” Derap suara langkah mendekat membuat diriku tersadar. Seohyun datang mendekat.

“Eonni, gwencana?” Yeoja itu terduduk di depanku. Mengamati setiap inchi tubuhku dengan tatapan miris.

“Ne, gwencana. Tenanglah, aku hanya terjatuh.” Ku gerakkan kakiku dan mencoba untuk berdiri tapi aku terjatuh kembali.

“Eonni, kau terluka. Biarkan aku membantumu.”

“Ah ani, aku bisa sendiri.”

“Ya! Eonnie? Jangan memaksakan.” Seohyun hendak membantu kembaliku namun tangannya segera ku tepis. “Aku bisa.”

Seohyun terdiam sambil menatapku. Ia tiba-tiba duduk di sampingku. Aku menengok padanya, “Apa yang kau lakukan? Lantainya kotor, bangunlah.”

Seohyun menggeleng. “Kau juga duduk. Aku akan bangun jika eonni bangun.” Katanya lemah.

“Hyunnie..?”

“Aku tahu eonni ingin terlihat tegar. Tapi aku hanya ingin membantu. Setidaknya itu yang bisa kulakukan.” Ucap Seohyun mulai terisak. Hatiku lemas. Tuhan apa yang telah kulakukan?

“Hyunnie..? Mianhae.” Ku gerakkan tubuhku perlahan mendekati Seohyun. Adik kecilku yang manis ini, kenapa menangis?

“Mianhae, hyunnie..,” Kupeluk tubuhnya.

“Eonnie, aku hanya ingin membantu. Ingin membantu.” Ucapnya lagi di sela isakkannya.

“Nde, kau boleh membantu eonnie.” Seohyun menghentikan isakkannya seketika. Aku melepaskan pelukanku. “Tersenyumlah.” Ucapku kemudian.

“Gomawo eonnie..,” Dia memelukku erat dan kembali melepasnya. Aku tersenyum tak percaya melihat apa yang dia lakukan. Kenapa harus berterima kasih? Seharusnya aku yang melakukannya bukan? Aku yang seharusnya berterima kasih karena telah memiliki teman yang .. ah bukan .. adik.. ya adik yang sebaik dia.

“Hai, seharusnya eon yang berterima kasih.” Yeoja di depanku hanya tersenyum dan berdiri. Tangannya mengulur hendak membantu. “Aniya, aku yang seharusnya berterima kasih karena eonni bersedia di bantu olehku. Setidaknya kali ini, bukan eonni yang selalu membantuku namun aku.” Aku terharu mendengarnya dengan tanpa ragu aku menerima uluran tangannya. “Gomawo.”

Seohyun membantuku berdiri. Dia berusaha membantuku namun aku kembali terjatuh.

“Eonni, gwecana?” Aku mengangguk.

“Ayo bantu eonni lagi.” Seohyun tersenyum menatapku. “Pasti.” Dia mengangguk. Sungguh senangnya memiliki adik seperti Seohyun.

Seohyun kembali lagi membantuku. Walau kakiku terasa amat sakit, namun aku juga terus berusaha untuk berdiri. Sampai akhirnya aku tidak terjatuh lagi.

Seohyun memapahku keluar dari ruangan ini. Saat keluar, aku melihat Ji Eun yang sedang menatap ke arah pintu keluar kelas dengan tersenyum. Pandanganku beralih ke arah pintu. Dan di sana aku mendapati punggung seorang namja yang sangat familiar. Punggung itu. Apakah dia benar-benar ada di sini?

Hampir saja aku terjatuh lagi. Bukan karena rasa sakit di kakiku. Tapi karena tubuhku merasa lemas setelah melihat apa yang ingin tidak kulihat. Bukan karena punggungnya yang kurasa familiar. Tapi tasnya. Gantungan tasnya berbentuk awan. Gantungan awan. Apakah itu benar-benar dia?

FLASHBACK

Suara ban berdecit membangunkanku dari tidurku. Aku melihat ke arah suara dan mataku terbelalak mendapati namja itu berada di sini. Ya, Kyungsoo ada di sini.

“Tidurmu nyenyak?” Tanyanya dengan sebuah senyum yang .. manis? Segera ku palingkan wajahku dan kembali menatap langit. Entah mengapa aku kembali gugup.

Namja yang tubuhnya tak lebih dariku itu berjalan mendekatiku sambil menenteng dua buah botol mineral. “Maaf memakai sepedamu tanpa izin. Saat aku ingin meminjamnya, kau sangat lelap tidurnya. Jadi aku tak tega.” Ujarnya sambil menyerahkan salah satu botol mineral. Aku menoleh padanya, “Tidak perlu.”

Kyungsoo menyerngit, “Terimalah, setidaknya ini bayaran karena aku meminjam sepedamu.” Dia menaruh botol itu di samping tubuhku yang sedang rebahan di antara rerumputan. Lalu dia ikut merebahkan badannya di sampingku.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil bangkit duduk. Wajahnya menoleh padaku. Mata kami saling bertemu.

Kami diam. Suasana padang kembali sunyi. Hanya ada suara angin yang meniup dedaunan yang terjatuh. Suara angin yang menggoyangkan rerumputan dan bunga-bunga dendalion.

Namja di depanku hanya tersenyum dan kembali menatap langit. “Apa yang kau suka dari langit?” Kyungsoo tak memperdulikan pertanyaanku. Dia mengalihkan dengan pertanyaan lain.

“Tidurlah kembali.” Tangannya yang besar menarikku untuk rebahan di sebelahnya. Mau tak mau aku melakukannya. Rebahan di sebelahnya membuatku semakin gugup.

Kyungsoo mengulangi pertanyaannya. “Apa yang kau suka dari langit?” Namun aku hanya diam. Entah mengapa aku tak mau menjawabnya.

“Apa kau suka warnanya? Apa kau suka matahari? Awan?” Kyungsoo kembali memperjelas pertanyaanya. Wajahnya menoleh ke arahku. Aku bisa merasakan ia menatapku. Namun aku tetap memandang langit.

“Awan.” Jawabku pendek.

“Ah, sudah ku duga.” Kini giliran aku yang menoleh ke arahnya. Dan kini Kyungsoolah yang sedang menatap langit.

“Apa maksudmu?” Dia tersenyum. Lalu tangannya merogoh saku kanan celana sekolahnya.

“Karena aku juga suka awan.” Ucapnya sembari menoleh kepadaku. Ia pun menunjukan apa yang ada di saku celananya. Dua buah gantungan berbentuk awan. “Ini satu untukmu.” Kyungsoo memberikan satu untukku. Satu lagi ia simpan kembali di saku celananya.

“Kenapa kau memberika ini padaku?”

“Karena sekarang kita teman bukan?” Aku terdiam. Benar, kita teman. Ya, aku rasa juga begitu. Tak mungkin kan ia melakukannya karena hal lain. Ah, pabo Soo Young. Apa yang kau harapkan?

Kyungsoo meletakkan gantungan berbentuk awan itu di sebelah botol minuman yang ia berikan tadi. Dan kemudian kami berdua terdiam dalam pikiran masing-masing.

Aku mencoba menghirup aroma dedaunan dan bunga-bunga nan harum dan segar yang terbawa oleh angin. Angin musim semi memang sangat menyejukkan. Perlahan ku mulai memejamkan mata kembali. Mencoba kembali merasakan sejuknya angin musim semi yang begitu nyaman dirasa. Suasana menjadi begitu tenang dan makin tenang.

Di sampingku, saat ku membuka mataku kembali. Kyungsoo sedang tertidur. Namja ini, entah apa yang ada dipikirannya sehingga ia mau berteman denganku. Tapi walau hanya begitu, aku sudah merasa sangat senang. Iya, sangat senang.

Flashback End

 

Author POV

Kyungsoo berjalan menuju apartemen miliknya. Sambil melangkah ada hal yang sedari tadi mengusiknya. Entah secara kebetulan atau tidak, ia melihat tas yang berada di samping Seohyun memiliki gantungan berbentuk awan.

Lalu suara yang ia dengar sedang berbicara dengan Seohyun. Terdengar seperti suara Sooyoung, apakah itu mungkin? Atau hanya perassaannya saja yang terlalu berharap bisa menemukan Sooyoung. Ah jika itu mungkin saja.

Kyungsoo terus berjalan sampai ia berhenti di depan apartemen miliknya dan mendongakkan wajahnya ke langit.

“Aku berharap segera menemukanmu. Walau aku tahu, Seoul itu tak sekecil padang ilalang itu.” Ucap Kyungsoo pada langit.

“Ku harap langit akan menuntunku kepadamu.” Ucapnya kembali dan mulai melangkah memasuki apartemennya.

Sesampainya di kamar miliknya, Kyungsoo di kejutkan dengan surat faks yang ia terima. Di surat itu tertulis letak tempat tinggal Sooyoung.

“Apa ini? Siapa yang mengirimnya?” Kyungsoo mencari siapa pengirimnya dan mulutnya terbuka tak percaya.

“Ah ini tidak mungkin, kenapa ia mau membantuku? Kenapa?”

-TBC –

Mohon kritik dan saran membangunkanya^^ *Bow

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s