RSS Feed

[Drabble] Romance is Animosity

Posted on

Ini bagian kedua dari drabble compilation – Romance is A – Bagi yang mau baca hanya Sooyoung dan Kyungsoo. Silahkan baca di sini. Enjoy the story please^^

cover-104

Author : Hanhyema

Tittle      : Romance is Animosity

Cast       : Soo Young | D.O

Genre   : Romance, Angst

Rating   : PG-15

Romance is Animosity

“Kau mengerti? Hi! Soo Young! Hi! Jawab aku bodoh!” Seorang ahjussi berteriak pada yeoja bernama Soo Young. Gigi ahjussi itu terus bergemeretak menahan marah.

“Ya!” Teriak ahjumma yang merupakan istri ahjussi itu pada Soo Young yang berjalan pergi.

“Jangan pernah kembali! Tidur di jalanan sana!” Ahjumma itu kembali berteriak. Keduanya masuk ke rumah mereka dan menutup pintu dengan kasar.

Soo Young pun menoleh kesal ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan.

“Memangnya aku butuh? Aku tidak akan kembali.” Soo Young terus berjalan menjauh dari rumah itu. Di tentengnya tas jinjing berisi baju-bajunya. Ia sudah memutuskan untuk keluar dari rumah yang di anggapnya mirip neraka itu.

Soo young terus berjalan tanpa tujuan. Hatinya sudah di penuhi rasa marah, benci dan kesal.

Di sisi lain, Kyung Soo sedang berada  di depan halte bus. Dia sedang meminum coca colanya sambil memandang langit yang hanya di hiasi beberapa bintang saja.

Tiba-tiba pandangannya teralihkan ke arah kanan jalan, saat suara langkah mendekat ke arahnya.

“Sedang jalan-jalan Youngie?” Pria bernama Kyung Soo itu berjalan menuju Soo Young yang menghentikan langkahnya.

“Ya, berjalan-jalan menuju neraka.” Jawabnya sinis. Sangat sinis.

Kyung Soo terdiam.

“Kau sangat mengerikan.” Ucap Kyung Soo kemudian. Wajahnya terlihat khawatir. “Dimana Soo Young yang ku kenal dulu?” Kyung Soo berjalan ingin memeluk Soo Young. Tapi tubuhnya sudah lebih dahulu di dorong menjauh.

“Jangan pernah sentuh aku!”

“Kenapa?”

Soo Young terdiam. Kyung Soo menatapnya lekat. Segurat wajah kekecewaan menghiasi wajahnya.

“Pergilah.” Ucap Soo Young kemudian. Di wajahnya tak ada ekspresi apapun. Hanya wajah dingin tanpa senyuman. Kemudian Sooyoung kembali berjalan tanpa menghiraukan Kyungsoo yang sedari tadi memanggilnya.

“Apakah kau mencoba menarikku kembali ke lingkaranmu? Ke lingkaran yang benar-benar kubenci sekarang. Lingkaran yang membuatku menjadi taruhan. Kau membuatku hanya berharga 20000 won saja. Apa kau tak puas dengan itu?” Kata Sooyoung dalam hatinya. Kini hatinya memendam lara yang teramat. Benci yang membabi buta. Dan marah yang sudah tak terbendung. Ia marah kepada kehidupannya sendiri.

Kyung Soo mulai berlari saat di sadarinya kemana tujuan Soo Young sebenarnya.

“Andwae! Andwae!” Teriaknya sambil terus berlari sekuat tenaga.

Sooyoung masih terus berjalan. Tas jinjing di tangannya di lepaskan begitu saja di tengah jalan. Tatapan matanya masih kosong.

Kyungsoo semakin cepat berlari. Tak lupa pula ia terus memanggil-manggil nama Sooyoung. Namun yang dipanggil hanya diam, apalagi menoleh.

“Youngie! Youngie! Andwae! Kau tak boleh! Tak boleh!”

Tiba-tiba Sooyoung berhenti. Yeoja itu terdiam di tengah-tengah perempatan jalan. Suasana malam pukul dua belas memanglah sepi. Namun tak sesepi yang di kira saat sebuah truk datang mendekat dari arah kanan.

“Andwae! Andwae!” Kyungsoo masih terus berlari. Mencoba mencegah apa yang akan terjadi.

“Kau sangat mengerikan Youngie. Kemana yeojaku yang selalu tersenyum itu. Selalu ceria dan suka menghiburku. Kemana Youngieku yang dulu? Apakah karenaku? Apa aku yang membuatmu seperti itu?” Hati Kyungsoo menelisik keluar. Segurat tanda tanya terlintas. ‘Apa aku yang membuatnya seperti ini?’

Sooyoung menatap ke arah datangnya truk. Wajahnya tiba-tiba menampilkan segurat senyuman. Di belakangnya masih ada Kyung Soo yang berusaha untuk mencegahnya dan terus memanggil namanya.

“Appa-Eomma, kita akan bertemu di sana kan?” Tanya Sooyoung ke arah langit. Hatinya sungguh berharap.

Sooyoung menutup matanya. Seakan dirinya pasrah dengan apa yang terjadi.

“Appa, hidupku tak pernah lebih baik semenjak kalian meninggalkanku seorang diri. Aku yatim piatu dan karena itu banyak orang yang membenciku. Entah karena apa? Apa karena aku jatuh miskin dan hidup bersama Lee Ahjushi dan istrinya? Atau karena aku memang sedari dulu tak pernah mempunyai teman? Mereka hanya melihatku dari hartaku saja.” (Sooyoung)

Kyungsoo mendengar suara truk mendekat. Ia menoleh ke kanan.

“Soyoung lari! Lari!” Teriak Kyungsoo. Sementara itu Sooyoung masih terdiam di tempatnya. Menutup mata dengan senyuman tipis di sertai kepasrahan.

“Yeoja itu, aku telah menyakitinya. Terlalu banyak menyakitinya. Kini saat aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku melihatnya begitu mengerikan. Seakan aku tak pernah mengenalnya sebelumnya.” (Kyung Soo)

Suara klakson menggema. Cahaya itu semakin mendekat ke arah Sooyoung. Tubuhnya terhempas oleh dorongan saat Kyungsoo berlari untuk mendapatkan Sooyoung dalam pelukannya. Dan kemudian membawanya jatuh ke samping jalan. Mereka selamat.

“Yeoja ini, apa yang ia pikirkan? Sebegitu susahkah kehidupannya sekarang? Jika melihat ke masa lalu. Aku tahu, aku adalah salah satu penyebab masalahnya. Ya, aku!” (Kyung Soo)

Mereka terjatuh dengan kerasnya. Kyung Soo yang pertama kali bangkit berdiri dan mendapati darah di lengan kirinya. Matanya mengabur dan itu karena kepalanya jatuh terlebih dahulu membentur aspal sehingga darah juga mengalir di sana.

Sooyoung membuka matanya. Tubuhnya masih terbaring dengan luka sakit karena terbentur aspal.

“Apa kau bodoh, hah? Kenapa harus melakukan hal sekonyol ini?” Bentak Kyungsoo kemudian sambil melihat lukanya.

Sooyoung menatap Kyungsoo dan berdiri. “Kau menyebalkan!” Sooyoung pun kembali ke tengah jalan.

“Ya!” Kyungsoo berteriak marah saat melihat kelakuan Sooyoung. “Hentikan! Kenapa kau ingin melakukan ini? Hentikan Youngie! Hentikan!” Kyungsoo segera mendekat ke arah Sooyoung dan segera menarik Sooyoung ke pinggir jalan. Namun seketika itu juga Sooyoung menghempaskan tangan Kyungsoo.

“Sudah kubilang jangan sentuh aku!” Bentak Sooyoung kemudian. Dia menatap marah Kyungsoo. Kyungsoo yang dibentak pun terdiam.

“Hai, Youngie.. ” Panggil Kyungsoo lirih. “Kenapa kau melakukan ini?” Tanyanya lagi dengan nada yang sama. Lirih.

“Wae? Kenapa kau ingin tahu? Apakah kau sedang taruhan lagi? Taruhan apa kali ini? Apakah aku akan bunuh diri atau tidak? Hah?!” Kyungsoo diam. Sooyoung melanjutkan perkataanya.

“Apa yang kau pegang? Aku mati atau hidup? Tapi melihat usahamu dan darah yang mengalir itu sepertinya kau memilih aku hidup. Cih..!” Kyungsoo tetap diam dimaki seperti itu. Kyungsoo semakin sadar bahwa ia adalah salah satu penyebab semua ini.

“Berapa hargaku? Apa masih 20000 won? Hah? Jawab Bo..,”

“Hentikan! Cukup Youngie!”

“Wae? Kau merasa tersinggung? Hah? Dan ah.. jangan panggil namaku seperti itu!”

Kyung soo melihat Sooyoung yang mulai akan menangis. Walaupun begitu Soyoung berusaha tegar walau badannya sudah bergetar akan menangis.

“Youngie..,” Panggil Kyungsoo.

“Sudah kubilang, HENTIKAN!” Bentak Sooyoung. Pandangannya begitu menusuk. Sooyoung kembali memandang jalan yang lengang. Kakinya mulai bergerak kembali ke tengah jalan. Namun Kyungsoo kembali menahan dan langsung memeluk Sooyoung.

“YA!! Jangan sentuh aku!” Sooyoung terus memberontak dari pelukan Kyungsoo.

“YA! Lepaskan! Lepaskan!” Kyungsoo tetap tidak mau melepaskan.

“Youngie.., kau perlu tahu bahwa aku menyesal.” Ucap Kyungsoo lirih sementara Sooyoung terus berusaha melepaskan diri.

“Aku menyesal, sangat menyesal. Aku mencintaimu. Saranghaeyo Youngie..,” Soyoung terdiam.

“Kau terlalu banyak taruhan Kyungsoo, apalagi ini? Kau mau mengulang kesuksesanmu saat menyantakan cinta padaku? Hah?” Sooyoung kembali mencoba melepaskan diri. “Lepaskan aku.. lepaskan..” Ucap Sooyoung sambil menangis.

“Aku tulus.” Kyungsoo merapatkan pelukannya. “Sejak hari kelulusan itu, saat aku memberikan kancing keduaku padamu. Aku dengan tulus memberikan hatiku padamu.”

“Kau bohong! Jika kau tulus mengapa ada taruhan itu?”

“Eomonim sakit. Dia harus di operasi sesegera mungkin. Namun kau tahu aku bukan orang berada sepertimu. Aku terpaksa. Maafkan aku.”

“Kau BOHONG!”

“Tidak, aku tidak bohong.”

“Kau Bohong.” Sooyoung terisak. Ada banyak perasaan yang bercampur di hatinya. Namun tetap saja rasa benci mendominasi semuanya.

“Aku membencimu.” Ucap Sooyoung sambil kembali melepaskan diri.

“Aku tahu. Aku tahu. Tapi tolong kali ini percaya padaku. Aku sungguh mencintaimu.”

Sooyoung sudah tak lagi memberontak. Ia terdiam sejenak lalu mulai bicara. “Kenapa kau tetap seperti ini? Aku membencimu karena sikapmu yang seperti ini.” Sooyoung terisak. Dan perlahan pertahanannya runtuh. Sooyoung menangis.

“Jangan menangis Youngie.. aku disini.”

Udara malam terus berhembus. Anginnya menghembus kencang. Namun kedua orang itu seakan tak bergeming. Tetap pada posisi yang sama, Kyungsoo memeluk Sooyoung yang tengah menangis.

“Kenapa kau mencintaiku? Padahal aku bukan diriku yang dulu lagi.” Ucap Sooyoung menyindir dirinya sendiri. “Aku sudah tak lagi kaya. Sekarang bahkan aku tak bisa tidur di rumahku sendiri. Ahjussi mengambil semuanya. Semuanya. Dia dan istrinya hanya menginginkan harta warisan keluargaku saja. Sama seperti teman-temanku yang lain. Tak ada yang peduli padaku dengan tulus.” Sooyoung terus menangis.

“Aku sudah mencintaimu sejak lama. Tolong percaya padaku.” Sooyoung terdiam. Ia tak mau menjawab.

Tiba-tiba Kyungsoo tersadar sesuatu. “Untuk itukah kau mencoba bunuh diri?”

“Bukan. Aku rindu Appa dan Eomma. Aku rindu mereka. Hidupku di sini seperti neraka, aku tak tahan. Aku ingin bersama mereka.”

“Tolong lepaskan aku. Aku ingin menemui mereka. Tak ada gunanya aku disini. Tak ada tempat untukku.”

“Tidak. Kau berguna di sini. Setiap orang pasti berguna. Apakah kau ingat kalau kau selalu juara kelas. Kau selalu memperoleh peringkat 1. Kau bisa memulai hidup dari awal. Dan lihatlah aku, kau masih memiliki tempat. Kau bisa tinggal dirumahku.”

“Shireo, aku mau bersama Appa dan Eomma saja.”

“Jangan keras kepala. Hidup itu berharga.” Sooyoung terdiam. Ia mencoba mencerna perkataan Kyungsoo dan mengulangnya terus di kepalanya. ‘Hidup itu.. em berharga?’

“Tunggu di sini.” Kyungsoo menyebrang jalan dan mengambil tas milik Sooyoung.

“Ayo ikut aku.” Kyungsoo meraih tangan Sooyoung dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Kemana?”

“Ke rumahku.”

“Tapi,”

“Sudah tidak apa-apa.”

“Aku tidak mau.” Sooyoung menghempaskan tangannya. Kyungsoo menatap Sooyoung. “Percayalah. Aku tidak akan pernah lagi menyakitimu. Akan ku buktikan kehidupan tak selamanya seperti neraka. Dan aku akan membuatmu tidak membenci dunia ini lagi.” Sooyoung terharu mendengarnya.

“Gomawoyo.” Kemudian ia memeluk Kyungsoo. Dan Kyungsoo pun tersenyum. “Terimakasih sudah percaya.”

-END-

Mohon komentar dan sarannya^^ Hyema.

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s