RSS Feed

[Drabble] Romance is Ambition

Posted on

cover-104

Author   : Hanhyema

Tittle      : Romance is Ambition

Cast       : Sunny | Chen

Genre   : Romance, Happy Ending

Rating     : PG-13

A/N       : Ini drabble adalah bagian pertama dari drabble compilation yang akan Hye post nanti. Bagi yang mau baca cerita (hanya) Sunny dan Chen. Bisa baca postingan ini. Cerita ini murni buatan Hyema. Jadi Hyema gak pengin ada yang copy-paste karangan Hyema.

Happy reading all^^ Dimohon kritik dan sarannya^^ *bow

Romance is Ambition

Seorang yeoja tersenyum sambil memandang langit. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah ponsel. Yeoja itu tak bisa berhenti tersenyum.

 

Tiba-tiba ponsel itu berdering. Yeoja itu pun melihat siapa yang menelpon. Dan dalam sekejap kemudian senyuman itu hilang.

 

Ponsel itu masih saja berdering. Yeoja itu menggigit bawah bibirnya. Ia bingung. Akankah ia menjawabnya?

Suara debu kapal berlabuh menarik perhatian yeoja itu. Ya, yeoja itu sekarang sedang berada di pelabuhan Busan. Yeoja itu sedang menunggu seseorang.

 

Ponselnya masih berdering. Yeoja itu masih bingung. Namun ketika melihat ke arah kapal yang baru saja berlabuh dan melihat siluet seseorang yang ia tunggu. Ia pun akhirnya mengangkat ponselnya.

“Yoboseyo?” Suara seorang namja terdengar di sambungan telepon.

 

Suasana sekejap menghening. Yeoja itu tak menjawab.

“Sunny-aa?” Nama yeoja itu di panggil. Namun yeoja itu tetap tak mau menjawab.

“Baiklah kalau kau tak mau berbicara. Tapi setidaknya kau mau mengangkat telponku. Aku senang. Dan apakah kau sedang memberikanku kesempatan, sunny-aa?” Suara namja di seberang telepon terdengar kembali. Suara namja itu terdengar lemah. Dan sedikit mengandung harapan. Sedangkan sisanya hanya kepasrahan.

 

Sunny-yeoja itu kembali melihat ke arah kapal yang baru saja berlabuh. Di antara penumpang yang turun, terlihat namja berransel merah berjalan ke arah Sunny.

“Ah, lagi-lagi kau tak menjawab. Apakah kau ingin menghindariku?” Sunny masih saja diam. Pandangannya tertuju pada namja berransel merah dan tak terlalu mendengarkan namja yang ada di sambungan telepon.

“Apa kau marah padaku?”

“Ya!” Tiba-tiba Sunny menjawab. Ekspresi suaranya dingin. Namja di seberang telepon menghembuskan napas lembut.

“Aku tahu. Ya, kau pasti sangat marah padaku. Sangat marah.” Sunny kembali terdiam.

“Hh, bisakah kau memaafkan aku? Memaafkan kesalahanku. Memaafkan tindakan licikku. Memaafkan kecemburuanku. Memaafkan tindakan..,” Suara namja itu terhenti. Suasana menghening. Hanya ada suara langkah penumpang yang baru saja berlabuh dan mulai meninggalkan pelabuhan ini.

“Aku menyesal.” Ucap namja itu kemudian.

 

Sunny memandang namja ransel merah yang sekarang sedang melambai ke arahnya. Sunny pun balas melambaikan tangan.

“Sunny, aku sangat mencintaimu. Aku jatuh cinta saat pertama kali hyung memperkenalkanku pada dirimu. Aku jatuh cinta begitu saja. Dan aku tak bisa mengelak. Tak bisa.”

 

Sadar Sunny tak menjawab, namja di telepon melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan sebelum Sunny menutup telponnya.

“Tapi ketika aku tahu, kau pacar hyungku. Hatiku sangat sakit. Sangat! Kau tahu betapa sakitnya itu? Sakitnya teramat sakit.”

 

Pandangan Sunny tiba-tiba kosong saat mendengar namja itu berbicara. Walau matanya masih menatap namja ransel merah dan senyuman itu masih melekat di wajahnya. Namun pikirannya sekarang berada di namja seberang telpon.

“Aku ingin meraihmu. Ingin menjadikanmu milikku. Namun sayang, kau milik hyungku.”

Sunny masih mendengarkan.

“Ketika hyung memberitahukanku kalau dia akan mengikuti wajib militer, tiba-tiba saja setan merasuki pikiranku. Saat hyung berpesan, untuk menyampaikan kabar itu padamu, karena ia tak sanggup mengatakannya. Aku berbohong padamu. Kau ingat bukan? Aku mengatakan apa? Hh, aku berkata hyung di jodohkan dan menikah tanpa memberitahumu. Dan saat itu kau menangis sejadi-jadinya. Aku mengaku berbohong, tolong maafkan aku. Tolong.”

 

Kedua mata Sunny mulai berkaca-kaca mendengarnya.

“Dalam kurun waktu tiga bulan setelah aku mengatakannya. Kau mulai bisa mengikhlaskannya. Dan kita mulai dekat, sampai pada akhirnya impianku terwujud. Kau menjadi kekasihku. Ya, kekasihku.”

 

Namja di seberang telpon melanjutkan,

“Namun selama menjalani hubungan itu, aku tersadar. Bahwa kau akan membenciku pada akhirnya. Membenciku karena semua kebohongan ini. Satu tahun tepat, hubungan kita di mulai. Aku memutuskanmu. Awalnya kau menolak hal itu. Kau terus mencariku. Kau terus bertanya kenapa? Tapi mulutku begitu kelu, untuk mengatakan yang sebenarnya.”

 

Sunny masih mendengarkan.

“Sampai akhirnya, teman hyungku memberikan kabar kalau hyung akan keluar dari barak militer padamu. Dan dari sanalah kau mengetahui segala kebohonganku. Aku menyesal. Sungguh. Aku melakukan semua itu tanpa pikir panjang. Maaf karena aku menyakitimu dan tanpa sadar aku menyakiti hyungku sendiri. Maaf.”

 

Namja dengan ransel merah sekarang hanya berjarak lima puluh meter dari Sunny.

“Aku menyadari kesalahanku. Dan aku sungguh minta maaf. Tindakanku sungguh bodoh. Aku akui itu. Aku harap kau mau memaafkanku.”

 

Namja ransel merah semakin dekat.

“Aku tahu sekarang kau sedang berada di pelabuhan Busan kan? Dan sekarang mungkin hyung sudah tiba. Sekarang aku mengikhlaskannya. Mengikhlaskan kalian berdua. Aku tidak akan mengganggu. Karena aku tahu, kebagiaanmu hanya bersama hyung. Aku harap kalian berbahagia. Dan tolong maafkan aku.”

 

Namja ransel merah sekarang tepat di hadapan Sunny yang ternyata sedari tadi menangis dalam diam.

“Sunie? Apa kau baik-baik saja?” Sunny hanya tersenyum.

“Oppa?” Sunny langsung berlari memeluk namja ransel merah. Sunny memeluk sangat erat.

 

Namja di seberang telpon pun mengetahui Sunny sudah bertemu dengan hyungnya. Tanpa tersadar air mata namja itu mengalir. Namja itu berkata pada dirinya sendiri, “Ya inilah akhirnya, dia (Sunny-red) akan tetap bersama hyung.”.

 

Dalam pelukan namja ransel merah, Sunny masih saja menangis. Entah apa yang ia tangisi. Namun sepertinya namja ransel merah menyadari sesuatu. Dilepaskannya pelukan Sunny. Dengan lembut, tangan namja itu menghapus air mata di wajah Sunny. Kemudian namja itu mencium kening Sunny.

 

Sunny masih terisak kecil. Sementara namja ransel merah menyadari Sunny sedang memegang ponsel yang masih tersambung.

“Itu dari Chen bukan?” Ucap namja ransel merah dan hal itu membuat Sunny dan Chen yang masih mendengarkan terkejut.

Namja ransel merah yang juga kakak dari Chen pun mengambil ponsel itu dan berbicara pada Chen. “Aku tahu semuanya.”

 

Chen dan Sunny terkejut mendengarnya. Sambil berbicara, kakak Chen melihat ke arah Sunny. “Awalnya aku sangat marah. Kau mengkhianatiku dengan cara seperti itu. Namun sekarang aku tersadar. Yeoja di depanku ini sekarang menangis. Awalnya aku pikir dia menangis karena merindukanku. Tapi sekarang aku tersadar dia menangis untukmu.”

 

Kakak Chen berjalan mendekati Sunny dan memeluknya.

“Kau tak bisa membohongiku. Dulu memang kau mencintaiku. Namun sekarang cintamu, milik Chen. Dal hal itu tidak bisa di ubah karena kau kecewa padanya.”

“Oppa, aku hanya mencintaimu. Aku mana mungkin kembali mencintainya setelah semua kebohongan ini.”

“Tolong jujur pada dirimu sendiri.”

 

Sunny terdiam. Kakak Chen melepaskan pelukannya. “Sekarang bicaralah, bicara padanya perasaanmu yang sebenarnya.”

 

Kakak Chen menyerahkan ponsel Sunny kepada pemiliknya kembali.

“Jangan bohongi dirimu sendiri.” Pesannya.

 

Suasana menghening kemudian. Hanya ada sambungan telpon yang masih menyala.

“Chen~?” Suara Sunny berhenti. Chen yang berada di seberang telepon pun hanya bisa diam.

“Aku..,”

Chen masih menunggu.

“Aku.., memaafkanmu.” Ucap Sunny kemudian. Seulas senyum tiba-tiba saja mampir di wajah Chen. “Terima kasih.” Dan sambungan telponpun terputus.

 

-END-

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

4 responses »

  1. Huaah Eon, kenapa end padahal aku lagi enak2 baca. keren banget dah FF nya, hiks sampe terharu😦
    Aku baru tau bukan hanya poster eon yang amat sangat bagus tapi juga FF buatan oen bagus juga, feelnya dapet banget . Tapi kenapa akhirnya gantung gini eon, bikin lanjutannya lagi ne yang panjang kalau bisa bukan drable lagi hehe . Aku tunggu loh ^^ Fighthing eon!

    Balas
  2. Ini keren! Ff pertamamu yang aku baca. Wkwkwk, semalaman kayaknya aku bkalan punya kerjaan bru buat ngobrak abrik blog kamu ini. Ga papakan, aku komen2 rusuh-rusuh dikit? Hihi😄
    well, seperti yang aku bilang tadi, ff ini keren! Hanya satu scane tp ceritanya tetap tersampaikan dgn jelas. Trus lg penjelasan alurnya dgn salah satu tokoh yg bercerita lewat telepon, itu kreatif bgt menurutku! So, lanjutin bikin karya-karya daebak lagi! Fighting ^^

    Balas
    • Ga apa-apa eon, obrak-abrik aja *Lho???
      Itu ide munculnya gak keduga lo eon, gegara mau di tendang dari satu blog karena hiatus lebih dari 3 bulan. hehe
      Wah makasih atas pujiannya^^ saya jadi melayang keke
      Ne, fighting^^ eonie juga fighting!! hehe

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s