RSS Feed

The Wedding Anniversary part 1

Posted on

 The Wedding Aniversary part 1

Oh Sehun | Seo Joohyun | Oh Family | Seo Family

Family | Romance | Mariage Life  | PG-15  | Series

Han Hyema©® Storyline & Artposter

The Wedding Anniversary

Hai-hai #Melambaikan-tangan. Hyema kembali membawa part 1. Maaf terlambat 2 minggu, hehe.Oh ya sekedar pengingat kalau cerita ini lanjutan TCE dan prolog TWA kemarin. Jadi bagi yang belum baca silahkan klik link di bawah ini. Tujuannya agar pembaca tidak bingung. Selamat membaca^.^

 The Crazy Engagement PART 1 | 2A | 2B/END

The Wedding Anniversary Prolog

TWA part 1 – Flashback

Sehun POV

Sepasang burung pelatuk itu terus memakan biji-bijian yang ku berikan. Sementara hatiku terus merasa cemas. Aku tahu, yeoja itu paling malas membicarakan soal bulan madu. Aku tahu alasannya dan itu juga menjadi alasanku. Namun ketika alasan itu terutarakan begitu saja. Kedua orangtua kami seakan meradang. Dan Seohyun paling malas ketika berdebat atau sekedar meminta waktu pada kedua orangtua kami yang notabanennya orangtua yang keras kepala.

Aku teringat dengan kejadian pura-pura sakit untuk membujuk kami berdua yang selalu menolak di jodohkan. Itu salah satu bagian keras kepala yang kedua orangtua kami miliki, sejujurnya itu merepotkan. Dan entahlah, apa lagi yang akan mereka lakukan jika kami menolak kembali rencana bulan madu itu.

“Biarkan mereka memakan biji-bijian itu dengan tenang. Jangan melihat mereka terus, nanti mereka malu dilihatin kamu terus.” Suara lembut Seohyun menyapaku dari belakang. Aku berbalik dan mendapatinya tersenyum kikuk.

“Eum, maafkan aku.” Katanya dengan suara lirih dan inilah Seohyunku yang selalu manis tingkah lakunya. Dia terlalu baik.

“Untuk apa Hyunie?” Aku mulai menggodanya yang terlihat terkejut saat aku maju mendekatinya dan memeluknya dari depan. Kedua tanganku ku biarkan bermain di daerah belakang perutnya.

“Hentikan!” Seohyun mengerucutkan bibirnya. Sungguh itu terlihat manis sekali.

“Jawab dulu pertanyaanku.” Yeoja itu berdecak dan menundukkan kepalanya.

“Eh? Eum itu.., maaf untuk. Ah, kau tahu maksudku bukan?” Aku terkekeh melihat wajahnya yang kebingungan menjelaskan kenapa ia meminta maaf.

Aish. Kau keterlaluan.” Dia kembali mengerucutkan bibirnya dan itu membuatku semakin terkekeh. Kenapa yeoja ini semakin manis bahkan saat melakukannya. Membuatku ingin..,

Chu!

Aku melihat  wajahnya bersemu merah setelah tanpa sadar aku mencium bibirnya kilat. Dan suasana canggung pun mengambil perannya. Aku melepaskan pelukanku sementara Seohyun berbalik badan menuju kamar mandi.

Tak lama kemudian, ia datang kembali padaku menenteng sebuah handuk di tangannya. Ia sampirkan handuk itu di atas pundak kiriku dan berkata hal yang mengejutkan.

“Lain kali jika mau menciumku. Kau harus mandi dulu atau minimal gosok gigi. Mulutmu bau sekali.” Ucapnya yang sesaat kemudian menimbulkan efek semu merah tomat yang semakin kentara di kedua pipinya. Tanpa babibu lagi, Seohyun langsung menghilang di hadapanku yang tertinggal hanyalah suara langkah kakinya yang menuruni tangga.

Sedangkan aku hanya bisa terdiam sambil mencerna kata-katanya barusan. Setelah tersadar aku hanya bisa mengungkapkan satu kata, “Eh?”.

*

Sebuah aroma masakan menguar begitu saja dari arah dapur. Hatiku tergelitik penasaran dan perutku sudah mulai berbunyi minta di isi.

Aku berjalan menuju dapur, di sana terlihat Seohyun sedang mengoleskan minyak wijen pada panci. Kemudian menumis daging sapi dan beberapa saat kemudian menuangkan air lalu menunggu di depan panci sambil memainkan sumpit di tangannya.

“Sedang apa di sana?” Tanyanya kemudian tanpa menoleh ke arahku. Ia masih sibuk dengan sumpit yang tak bosan-bosannya ia mainkan. Aku menyengir mengetahui aku ketahuan olehnya.

“Jangan cuma menyengir di sana. Kemarilah dan bantu aku.” Ku berjalan mendekatinya dan aroma minyak wijen, bawang putih, jahe, serta kecap asin korea benar-benar membuatku lapar.

“Kau memasak Jangjorim?” Tanyaku antusias dan Seohyun hanya mengangguk sambil menusuk-nusuk daging sapi melihat apakah ada darah yang keluar atau tidak. Jika tidak maka daging sudah matang.

Aish, kenapa kau hanya diam saja. Apa kau marah padaku?” Seohyun pun mematikan api dan menatapku dalam diam.

“Ah ani.” Elaknya sambil menuangkan kuah pada suwiran daging sapi yang baru saja ia masak.

Ini terasa aneh bagiku. Bukan karena apa-apa, aku hanya merasa sikapnya berbeda dengan Seohyun yang ada di kamar. Apa moodnya kembali buruk lagi?

Aku melihatnya memandangku dalam diam. Piring berisi Gyeranmari-Dadar telur gulung-di tangan kanannya mengapung  di udara. Aku melihat Seohyun menghela napas sekali, dua kali, dan berhenti sejenak lalu menatapku.

“Sudahlah. Ayo ke meja makan.” Yeoja itu mengalihkan piring berisi Gyeranmari ke arahku. Matanya menyuruhku-secara halus-membantunya membawakan beberapa makanan yang menjadi menu pagi ini. Sedangkan Seohyun mengambil alih piring berisi Haemul Pajeon-Bakwan daun bawang sea food- dan membawanya ke arah meja makan yang sudah tertata rapi.

“Apa kau lelah?” Sebuah pertanyaan meluncur begitu saja saat mendapati Seohyun memakan makanannya dalam diam. Kadang ia memandang jendela yang berada tepat di samping meja makan. Matanya nampak tak fokus. Ia berkali-kali menggigit bibir bawahnya dan aku tahu ia sedang memikirkan sesuatu dan ingin diutarakannya namun nampak ragu.

“Hyunie, tolong katakan sesuatu.” Seohyun menaruh sendok makannya dan mulai mengamati wajahku. Aku pun melakukan hal yang sama. Menaruh mangkuk berisi nasi beserta sendoknya. Menggegam tangan Seohyun dan mencoba meyakinkannya bahwa apapun yang ada di pikirannya, entah itu hal buruk sekalipun. Seohyun harus membaginya bersamaku. Karena aku dan dia adalah satu. Apapun yang menjadi masalahnya, itu juga menjadi masalahku.

“Hunie,” lirihnya sambil membalas genggaman tanganku.

“Baru saja Eomma menelpon.” Sebuah kalimat pembukaan yang langsung membuatku sadar apa yang terjadi.

“Masalah yang sama?” Tanyaku hati-hati dan ternyata dugaanku benar. Seohyun mengangguk sambil mengulum senyum.

Aku tersenyem sinis. Bukan untuk Seohyun tapi untuk diriku sendiri.

“Apa yang dikatakannya?”

Eomma meminta kita datang ke sebuah restauran nanti malam pukul 8.” Sudah ku duga. Aku berdiri dari dudukku dan mengarahkan pandanganku pada sisi jendela yang menyajikan pemandangan pagi.

“Hyunie,” panggilku pelan sambil menengok ke arahnya yang sedang menatapku. “Hampir dua tahun yang lalu. Saat semua hal bermula dari perjodohan itu termasuk kejadian pura-pura sakit Eommaku, pernikahan Tao dan Sulli yang juga dengan alasan yang sama, dan kejadian yang membuat kita saling memahami dan memilih pernikahan ini. Semua hal itu amat jelas dalam ingatanku.”

Aku menghampiri Seohyun dan memeluknya yang sedang terduduk dari arah belakang. Kuletakkan kepalaku di samping telinga kanannya. “Kita masih kuliah ketika menikah. Sama halnya dengan Tao dan Sulli yang menikah pada situasi yang sama.”

Aku memejamkan mataku, “Kita memilih pernikahan ini dan sepakat untuk melanjutkan kuliah seakan tak terjadi apapun saat itu. Hh, saat itulah mereka-kedua orangtua kita-meminta kita berbulan madu dan memberikan mereka cucu sesegera mungkin.”

Sejenak aku terdiam. Banyak memori terulang begitu saja. Terulang layaknya berputar pada layar proyektor dan menampilkan sebuah film kisah kami. Kisah yang sejujurnya menjadi pengingat saat kami bertengkar dan saat kami saling menyerah satu sama lain.

“Aku masih mengingat, saat aku bertengkar dengan Eomma-Nyonya Seo-yang saat itu berbicara seolah aku tak mempunyai pilihan.” Kali ini Seohyun yang berbicara sambil sesekali mengelus tanganku yang melingkari lehernya.

“Saat itu aku selalu membangkang apalagi jika itu ada sangkut-pautnya dengan dirimu.” Aku tersenyum mendengarnya. Aku jadi teringat pertengkaran hebat antara aku dan Seohyun di kampus dan juga di hadapan kedua orangtua kami.

“Aku juga mengingat saat aku menangis karena pernah membencimu.” Aku terdiam. Aku tak pernah mendengar cerita tentang hal itu. Apakah Seohyun pernah menangis karena hal itu? Hh(sign), kenapa begitu sama denganku yang selalu kesal karena tak pernah bisa membencinya dan malah(?) selalu berusaha pura-pura membencinya walau kadang itu menyakitkan.

FLASHBACK

“Jadi kalian memutuskan untuk menunda bulan madu?” Ayah melontarkan  pertanyaan yang membuatku dan Seohyun seolah terpojokan. Hari ini, sebulan setelah pernikahan kami. Kedua orangtua kami dengan bangganya memberikan hadiah tiket pesawat ke Venecia sebagai hadiah karena kami benar-benar menikah seperti keinginan mereka dahulu. Sekadar info, tiket itu untuk bulan madu kami-pastinya.

“Ayah, Sehun paham dengan niat baik kalian. Namun Sehun juga mengingat ada seseorang yang pernah berkata bahwa pendidikan itu penting.” Ucapku sambil menyindir  ayahku sendiri yang nyatanya mulai berang dengan tingkah laku anaknya sendiri. Apa ucapanku salah?

“Ayah, aku sangat senang dengan hadiah ini. Tapi sekarang waktunya Seohyun untuk fokus kuliah. Tinggal satu semester lagi dan saatnya skripsi. Seohyun tidak mau mengulang semester ini, hanya karena mengambil cuti untuk bulan madu yang sama artinya dengan menyuruh Seohyun mengulang semester ini.” Kali ini Seohyun yang angkat bicara sambil menatap ayahku-yang sekarang ia panggil ayah juga-dengan tatapan memohon. Alasan yang Seohyun utarakan mampu membuat kedua orangtua kami terdiam nampak berpikir dan hal itu membuat suasana tegang.

“Jadi alasan kalian karena kuliah? Dan apa itu juga berlaku untuk anak?” Kali ini Nyonya Seo-yang sekarang aku panggil Eomma-yang angkat bicara.

Eomma tahu peraturannya.” Aku menjawab seadanya sambil menggenggam tangan Seohyun yang mulai berkeringat. Aku memahami  Seohyun yang selalu menjadi murung beberapa hari belakangan ini. Semenjak ide bulan madu tercetus begitu saja bersamaan dengan tugas kuliah mulai menumpuk.

Seohyun khawatir dengan kuliahnya dan akupun begitu. Namun sebagaimana yang kami tahu-dan yang menjadi persoalan-kedua orangtua kami sangatlah keras kepala.

“Bagaimana setelah wisuda?” Sebuah opsi lain tercetus dari ibuku dan hal itu membuat perdebatan kecil dengan Nyonya Seo.

“Brarti kita harus menunggu sekitar satu tahun lebih untuk mendapatkan seorang cucu?” Aku dan Seohyun saling bertatapan miris. ‘Jadi ini masalah cucu? Ide bulan madu untuk mendapatkan seorang anak dari kami?’

“Tak ada pilihan lain bukan?”

FLASHBACK END

Aku melepaskan pelukanku dan kembali duduk di hadapan Seohyun yang sekarang mulai memainkan sendoknya.

“Kita sudah ingkar dan itu adalah hal yang menakutkan.” Ujar Seohyun dan hal itu yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Aku tahu itu.

“Selepas wisuda, kita langsung bekerja. Aku di perusahaan percetakan dan penerbitan milik ibumu sementara kamu bekerja di perusahaan Appa.” Lanjut Seohyun sambil mengambil gyeranmari menggunakan sumpit dan memakannya secara perlahan.

“Sebagai gantinya mereka berang mengetahui kita menunda rencana bulan madu-lagi.” Timpalku dan dihadiahi Seohyun anggukan.

Setelah mengingat masa lalu, berbagi cerita-yang sebenarnya masalah-akhirnya kami terdiam dan mulai memakan kembali sarapan kami yang sudah dingin.

“Lalu apa yang akan kita katakan?” Tanya Seohyun seusai mengakhiri sarapannya. Ya, aku tahu pertanyaan itu pasti akan ia tanyakan namun aku belum tahu mau mengatakan apa.

Seohyun beranjak dari meja makan setelah mendapatiku hanya diam sambil memakan jangjorimku. Ia memilih berdiri di samping jendela dan melihat keluar dalam diam.

Suasana seperti ini sebenarnya terkesan menyedihkan. Setidaknya menurutku. Kami saling terdiam dan memikirkan satu masalah yang sama dengan dua sudut pandang yang berbeda. Ingin berbicara namun tak tahu apa yang ingin dibicarakan. Dan entah mengapa aku merasa bimbang secara tiba-tiba.

“Hyunie,” panggilku padanya yang membuatnya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya.

“Eum, apa yang aku katakan tergantung dari apa yang kau inginkan.” Seohyun masih terdiam, “Apa kau rasa saat ini kita bisa melakukannya? Apa ketika kita menolak…, eum ah sudah lupakan kurasa apapun yang nanti kita katakan tak akan merubah apapun.” Aku pasrah pada akhirnya. Ya, aku rasa apapun yang akan aku dan Seohyun katakan tidak akan merubah keputusan kedua orangtua kami tentang keinginan mereka itu.

“Hunie-aa,”

“Eum?”

“Bersiap-siaplah. Kau harus berangkat kerja sekarang.” Ucap Seohyun yang langsung kembali ke dapur tanpa berkomentar apa-apa tentang masalah itu. Apa dia sedang menghindar?

*

Author POV

Seohyun tergeletak lelah di sofa ruang tengah. Dress selututnya masih setia menempel di badannya. Yeoja itu lebih memilih terdiam mendapati dua buah koper di depan matanya.

Tak berbeda dengan Seohyun. Sehun sedang terduduk di tangga. Menempati sisi kanan anak tangga dan membiarkan sisi sebelahnya di isi dengan dua buah tiket menuju paris.

Keduanya masih terdiam memikirkan keputusan sepihak kedua orangtua mereka yang tentunya dengan memberikan paksaan terhadap mereka.

“Aish!” Sehun mengacak-acak rambutnya lalu mengusap wajahnya. Begitu seterusnya. Ia melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja?” Seohyun berbicara agak frustasi di sofanya. Tangannya tertelungkup di wajah. Sehun pun sama frustasinya dengan Seohyun.

“Tak ada pilihan lain bukan?” Hanya itu yang bisa Sehun katakan. Tangannya melayang di udara tanda menyerah diikuti helaan nafas berat dan berjalan ke lantai dua meninggalkan tiket yang tergelatak begitu saja di salah satu anak tangga.

Seohyun pun akhirnya mengikuti Sehun ke lantai atas dan membiarkan dua koper itu tergeletak begitu saja di ruang tengah. Kakinya yang melewati kedua tiket itu tak bergeming. Mereka tidak ingin berbulan madu. Setidaknya sekarang. Tapi protes mereka melayang ke tempat sampah sejam yang lalu.

Sehun POV

Kami semua akhirnya berkumpul di meja makan. Tepat pukul delapan malam. Meja makan itu terisi penuh dengan berbagai macam makanan yang dilihat sekilas saja menggugah selera. Namun sayang, baik aku, Seohyun dan kedua orangtua kami tak ada yang menyentuhnya. Ah melirik saja tidak. Makanan-makanan itu seperti pelengkap saja di meja makan yang sedang di kelilingi enam orang yang berpakain formal-jas dan dress.

Suasana di sini sungguh membuatku agak takut. Bagaimana tidak? Seohyun menyerahkan segala keputusan di tanganku. Karena aku pemimpin keluarga-keluarga yang baru terbentuk sekitar hampir dua tahun yang lalu.

“Kenapa?” Ibuku mengajukan pertanyaan yang membuatku semakin takut untuk menjawab.

“Maaf, untuk sekarang aku dan Seohyun tak bisa. Ada sebuah proyek bertender milyaran yang sedang saya tangani. Sedangkan Seohyun sedang mengedit biografi tokoh yang minggu depan harus di terbitkan. Jika aku dan Seohyun memutuskan untuk cuti. Lalu bagaimana proyek yang sedang kami tangani?”

“Kalian bisa menyerahkan kepada orang lain.” Ibuku masih saja bersikukuh. “Lagi pula, Seohyun bekerja di kantor milik ibu sedangkan kamu bekerja di kantor Tuan Seo. Ini hal mudah bukan? Jangan buat seperti hal sulit.” Ini bagian yang paling tidak ku suka.

“Tapi tak ada seorang pun yang tahu baik aku maupun Seohyun adalah anak dan menantu pemilik perusahaan. Kami berdua bekerja keras untuk masuk dengan usaha kami sendiri. Apa jadinya ketika mereka tahu bahwa kami adalah anak dan menantu pemilik perusahaan dan sikap mereka berubah? Apalagi ketika baru setengah tahun bekerja, kami bisa mendapatkan cuti seenaknya.”

Suasana menghening. Ibu Seohyun menatapku.

“Kami hanya ingin memiliki cucu, apa salah?” Itu adalah pertanyaan yang paling aku hindari. Dan nampaknya Seohyun yang mengerti itu langsung mengambil alih.

Eomma, kita kan punya lain waktu. Mungkin di liburan musim panas nanti. Sekarang kan akhir musim semi. Eomma bisa menunggu kan?”

“Kita tidak tahu umur setiap orang.” Itu pernyataan yang paling ku benci.

“Aku yakin Eomma akan selalu sehat.” Seohyun tersenyum tapi ada yang sedikit aneh. Aku tahu senyuman itu di paksakan. Yeoja itu, paling tidak bisa mendengar kata-kata seperti itu. Hatinya terlalu lembut. Dan cukup sekali saja mengeras karenaku. Cukup sekali saja.

“Ayah bisa mengurusnya. Kalian bisa mengatakan ini sebuah tugas. Seohyun memerlukan tempat yang sejuk untuk mengedit buku itu dan kau memerlukan tempat yang bagus untuk memikirkan tentang proyek itu, bagaimana kedepannya, apa langkah yang harus kau ambil. Kalian bisa melakukannya bukan? Sedangkan hasilnya bisa kau serahkan pada orang lain yang bisa tutup mulut.” Sebuah opsi lain yang membuatku tercengang datang dari ayahku sendiri. Aku sungguh tak pernah menduganya. Kenapa ayahku bisa terpikir hal seperti ini.

“Ah itu opsi yang bagus.” Timpal ibuku mendukung yang membuatku dan Seohyun saling berpandangan dan menatap mata satu sama lain. Mencoba mencari apa yang dipikirkan masing-masing dan mencoba mencari apa hal yang harus kami lakukan.

Eomma mohon.” Kini Nyonya Seo yang berbicara. Ia menatap putrinya yang nampak bingung. Benar dugaanku, apapun yang akan aku dan Seohyun katakan tidak akan ada pengaruhnya.

“Ne.” Aku tersentak. Seohyun menyetujuinya. Yeoja itu kini menggenggam tanganku kuat. Aku tahu ia ingin aku juga menyetujuinya. Aish, kenapa ada opsi itu? Kenapa?

“Ne.”

*

Selepas makan malam yang sebenarnya. Aku dan Seohyun melangkah dengan hati lunglai menuju pintu keluar. Kedua orangtua kami berjalan di depan dengan sesekali ibuku melirik ke arahku dan Seohyun dengan mata berbinar-binar. Mata itu membuatku tak bisa menolak. Aku tak bisa. Entah mengapa.

Seohyun yang berada di sampingku, aku gandeng tangannya. Aku tahu ia bingung. Dia sebenarnya menginginkan opsi itu tidak ada dan menolaknya karena ia sedang memiliki tanggung jawab sekarang. Namun, ia tak kuasa dengan tatapan memohon ibunya sendiri. Ia tak kuasa.

“Supir Chang akan menjemput kalian besok. Bersiaplah.” Ibuku datang mendekatiku dan Seohyun yang sedang berdiri sambil menatap kedua orangtua kami yang berdiri di depan mobil yang menunggu di depan pintu masuk restaurant.

“Bersenang-senanglah.” Ibu mengelus pundakku dan Seohyun bergantian. Elusan itu pertanda ia mengharapkan banyak hal-dan yang pasti cucu.

Aku dan Seohyun hanya bisa mengangguk. Dan mereka pun pergi meninggalkan kami berdua yang dia terpaku.

Selang beberapa saat sebuah mobil berwarna silver terparkir di depan kami menggantikan mobil kedua orangtua kami yang baru saja meluncur ke jalanan kota Seoul yang terkenal padat.

Seorang yeoja dengan dress putih gadingnya keluar dari mobil. Dan di saat itulah aku merasakan sebuah getaran yang aneh pada diriku. Rasanya aku mengenal yeoja itu tapi siapa?

Yeoja itu berjalan dengan anggunnya melewati kami berdua yang masih saja diam di depan pintu. Yeoja nampak tak asing, tapi siapa?

*

Author POV

Sehun terpaku di depan pintu restaurant sambil memandangi seorang yeoja berpostur semampai dengan dress putih gadingnya. Yeoja itu berjalan dengan anggunnya dan berhenti dan terduduk di salah satu meja di restaurant itu.

“Apa yang harus kita lakukan?” Suara Seohyun yang hampir frustasi membuat Sehun menoleh. Sehun tahu kalau Seohyun tidak bisa melepaskan pekerjaannya begitu saja. Ia bukan tipe orang yang dengan mudahnya menimpakan pekerjaan pada orang lain selagi ia bisa mengerjakan hal itu sendiri.

“Aku rasa kita tak ada pilihan lain.” Sehun menjawab seadanya dan ia kembali melihat yeoja yang sedang duduk itu. Sehun merasa ia mengenal yeoja itu. Ya, di masa lalunya. Namun siapa?

“Eum, Hunie?” Seohyun menepuk pundak Sehun pelan. Secara spontan Sehun menoleh dengan perasaan was-was. Sehun menyadari tingkahnya yang melihat yeoja lain sedangkan ia memiliki istri di sampingnya. Ah paboya?!

“Apa kau melamun?” Tanya Seohyun khawatir. Seohyun pun menilik ke arah mana mata Sehun tertuju. Seohyun tahu kalau sedari tadi Sehun hanya diam memandangi salah satu sudut di restaurant ini.

“Ah aniya.” Sehun panik dan melirik cemas. Ia takut Seohyun akan tahu bahwa tadi ia sedang menatap yeoja lain.

“Benarkah?” Seohyun menyelidik.

“Ne.” Sehun mengangguk sambil membentuk dua jarinya membentuk huruf V.

“Ah, baiklah. Ayo kita pulang. Kajja!” Ajak Seohyun yang di balas anggukan dari Sehun. Seohyun menuju mobil yang diikuti Sehun. Namun tiba-tiba langkah Sehun terhenti dan hal itu membuat Seohyun menoleh.

“Ada apa?” Tanya Seohyun heran. Sehun hanya bisa diam. Di dalam pikirannya hanya tertuju pada yeoja tadi. Ia begitu penasaran. Apa ia mengenal yeoja itu? Tapi siapa?

Suara langkah sepatu terdengar. Seohyun menghampiri Sehun yang hanya diam sambil menunduk.

“Ada apa?” Tanya Seohyun lagi yang hanya di balas dengan tatapan terkejut dari Sehun yang baru sadar kalau ia (lagi) memikirkan yeoja itu.

“Eh?” Seohyun tersenyum sinis. “Apa kau sedang melamunkan sesuatu? Jangan katakan kau…,” Seohyun menatap Sehun menyelidik. Perkataan Seohyun yang terpotong membuat Sehun menelan ludah. Apa Seohyun tahu kalau aku memikirkan yeoja lain? Ah pabo! Paboya SeHunie!

“Jangan katakan kau.., takut tendermu di ambil perusahaan lain hanya gara-gara bulan madu (paksaan) ini?” Sehun bengong menyadari Seohyun tak curiga padanya. Sementara hatinya berkutat, akhirnya Sehun memilih berkata, “Eum, aku ingin ke toilet.”

“Pergilah. Aku akan menunggu di mobil.”

Sehun berbalik kembali ke restaurant. Sesekali namja itu menoleh melihat istrinya yang melangkah menuju mobil yang terparkir. Ada perasaan menyesal menghampirinya seketika. Seohyun istrinya begitu polos dan baik hati. Bahkan menuduh orang lain saja tak bisa.

Sehun melangkah kakinya kembali di restaurant tersebut. Secara spontan matanya melirik ke meja dimana yeoja tadi duduk. Namun tidak ada seorang pun di sana. ‘Aish, apa yang kau pikirkan?’ Omel Sehun pada dirinya sendiri dan kembali memantapkan hatinya untuk ke toilet dan membasuh mukanya serta menjernihkan pikirannya.

Di dalam toilet, Sehun membasuh mukanya dan mematut diri di cermin.

‘Apa yang harus aku lakukan? Rencana itu, ah tidak.., itu bukan rencana lagi. Kenapa aku tak bisa menolaknya? Eum, kenapa bulan madu itu di adakan saat aku mendapatkan proyek yang sangat besar? Abeoji, wae?!’

‘Aku tahu Seohyun sedang berusaha keras menjadi editor yang baik.Tapi kenapa aku malah mengacaukannya? Aku tahu ia sedang mengedit buku biografi yang harus di terbitkan minggu depan. Apa yang harus ku lakukan? Sementara rencana ini, ah ini bukan rencana lagi. Bulan madu ini, besok?’

Sehun mengacak rambutnya. Sehun ingin berteriak saking kesalnya. Tapi hal itu urung dilakukan. Setidaknya bukan disini, ucapnya.

‘Dan kenapa aku melihat ke yeoja lain. Hanya karena penasaran? Aku begitu bodoh.’

Setelah bertanya pada dirinya sendiri yang mungkin lebih tepatnya merutuki diri sendiri Sehun keluar dari toilet. Namun sesaat kemudian ia kembali di depan cermin-mematut diri sambil menata rambutnya yang tadi ia acak-acak karena frustasi.

“Perfect.” Setelah melihat dirinya rapi kembali. Ia pun segera keluar dan menyusul Seohyun yang sedang menunggunya.

*

Sehun masuk ke dalam mobilnya dengan raut muka yang agak masam.

“Tak perlu terlalu kau pikirkan. Tak apa.” Seohyun memasang wajah manisnya sambil menyenggol-nyenggol lengan Sehun. Sehun menoleh dan akhirnya tersenyum.

“Benar tak apa?”

“Ne, kajja!”

*

Menggegam tangan Seohyun dan mencoba meyakinkannya bahwa apapun yang ada di pikirannya, entah itu hal buruk sekalipun. Seohyun harus membaginya bersamaku. Karena aku dan dia adalah satu. Apapun yang menjadi masalahnya, itu juga menjadi masalahku.

(OH SEHUN – TWA 1/FLASHBACK)

*

TO BE CONTINUED^.^

Mian publishnya lama, dari kemarin gak bisa connect ke internet. Dan Kenapa ya setiap ke wordpress gak mau kebuka itu browser? Padahal ke tempat lain bisa cepet pake banget. Aish, #Tendang. Oh ya ada yang bisa nebak konflik batin yang Sehun alami gara-gara penasaran sama yeoja dress putih gading? Hehe. Say something to me. ^.^ Mian jelek >.< fiuhhh.

Part selanjutnya minggu depan. Saya sedang ulangan+ujian praktek+try out. Do’akan saya^^ Hwaiting!! (Menyemangati diri sendiri ^^) hehe.

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

One response »

  1. ni next nya udah? kok ali nyariin ga da yah….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s