RSS Feed

[Oneshoot] Lethal

Posted on

D.O Kyung Soo [EXO-K] | Kim Yoo Jung [Korean Child Actress]

Romance |  Angst | Sad Ending | PG-13 | Oneshoot

Han Hyema Storyline & Artposter

Backsound : Zia –  나를 잊어도| J. Rice – Thank You For The Broken Heart

Letal

 Hi, Hyema here. Fiuh, setelah berkutat dengan Try Out dan sempat jatuh sakit juga, akhirnya aku bisa posting 1 fanfic yang entah gimana isinya. Semoga suka dan di mohon komennya. Oh ya, yang bercetak miring itu flashback. Arraseo? Jadi aku harap gak ada yang bingung. #Deepbow

-oooOooo-

FLASHBACK

Tak satu orang pun memahami ketika adikku meninggal dengan cara yang tak bisa ku maafkan.

“Apa yang terjadi pada Kyung Hoo?”

“Ayah! Katakan sesuatu. Ayah!”

“Maaf. Maafkan ayah.”

“Ayah!” Aku meringkuk sendiri. Terduduk di lantai yang dingin sambil menatap tubuh adikku yang sudah terbaring tak bernyawa di ranjang rumah sakit yang sudah ia tempati selama enam bulan belakangan.

“Kyung Hoo, apa yang terjadi dengannya? Seseorang tolong katakan sesuatu!” Aku berteriak dan menunggu jawaban. Namun baik ayah maupun dokter, tak ada yang menjawab. Mereka hanya membisu dan mematung sambil menatapku penuh dengan rasa bersalah.

“Kyung Hoo sama seperti ibumu. Dia sudah…,”Ayah berkata dengan suara melirih. Tubuhku benar-benar lemas sekarang. Sama dengan ibu? Apa itu berarti hanya aku dan ayah yang selamat?

“Ayah, ini hanya mimpi bukan? Kenapa Ibu menurunkan penyakit itu? Kenapa?”

“Kyung Soo-ya, ini adalah takdir. Maafkan ibu yang telah membuat Kyung Hoo menjadi seperti ini.”

Aku tak pernah bisa memahami keadaan, lima tahun lalu ibuku meninggal karena sebuah penyakit yang lebih mudah di ingat dengan kata, ‘Kau akan mati, jika kau jatuh cinta.’ Ibuku berani jatuh cinta dan setelah melahirkanku dan adikku, dia wafat dengan penyakit itu.

“Penyakit macam apa itu? Sungguh terlalu mengada-ada.” Bentakku pada ayah setelah upacara pemakaman  Kyung Hoo-adikku selesai.

“Ya, awalnya ayah juga berpikir terlalu mengada-ada. Namun lihatlah, ibumu dan adikmu sudah tiada. Sekarang hanya kau dan aku yang tersisa.” Ayah berlinangan air mata dan hal itu sungguh membuat hatiku menyesak. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Ayah yang selalu tampil sebagai pria yang tak pernah menunjukkan bahwa ia sedih, akhirnya menangis juga di hadapanku.

“Aku tak mau percaya!” Membalikkan badan dan memilih untuk pergi dari rumah adalah pilihanku selanjutnya. Aku anak laki-laki dan aku bisa menjaga diri tanpa orangtua.

“Tolong jangan biarkan ayah sendirian di dunia ini.” Ucap Ayah memelas. Aku menghentikan langkahku ketika sampai di depan gerbang rumah dan membalikkan badan. Di sana ayahku sudah terjatuh menahan semua kesedihan yang sekarang makin menyesakkan hatiku.

“Tolong,” Ini sudah keputusanku, bukan? Aku mencintaimu, ayah. Tapi maafkan anakmu ini.

Hari itu aku pergi dari rumah dan meninggalkan ayahku sendiri. Sekali lagi maafkan aku.

*

Sudah setahun aku hidup tanpa ayahku. Sejak saat itu pula aku tak pernah mendengar kabar tentangnya. Kehidupanku juga berjalan dengan baik. Sekarang aku tinggal di sebuah rumah milik keluarga seorang gadis yang aku temui setengah tahun lalu.

“Agashi, gwecanayo?”

“Suster, tolong selamatkan dia. Pria ini lukanya sangat parah.”

“Ah, namamu Kyung soo? Kau tak punya tempat tinggal? Menginap saja di tempatku, di rumah banyak kamar kosong. Nanti aku akan minta izin pada appa dan eomma.”

“Kau pulih dengan cepat Kyung soo-shi.”

Nama gadis itu Kim Yoo Jung, dia gadis yang baik. Dia menolongku ketika aku tertabrak mobil di jalanan. Yah setengah tahun yang lalu, aku yang bekerja sebagai pengantar makanan cepat saji tertabrak sebuah mobil. Di saat semua orang tak peduli dengan keadaanku. Yoo Jung datang dan menolongku.

“Aku pulang.” Seruku sambil menutup pintu. Udara di luar sangatlah dingin dan angin berhembus sangatlah kencang. Nampaknya akan ada badai salju tahun ini.

“Selamat datang.” Seru Nyonya Kim-Yoojung eomma. Dia sangat baik padaku dan dia menganggapku sebagai anaknya. Nyonya Kim selalu membuatku merasa bahwa aku memiliki ibuku kembali.

“Kau sudah makan?” Tanyanya lembut. Aku menggeleng kecil dan dia hanya tersenyum.

“Ganti baju dan segera bergabung dengan kami untuk makan malam. Kami menunggumu.” Nyonya Kim mengusap kepalaku lembut dan mendorongku untuk segera naik tangga dan melakukan perintahnya. Sungguh aku menyukai keluarga ini.

*

Mereka tak pernah meminta imbalan apapun dariku. Mereka dengan hati lembutnya menolongku dengan ikhlas. Memberiku tempat tinggal bagi mereka tidaklah cukup. Aku juga di sekolahkan sampai lulus SMA dan sekarang sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas di kota Seoul.

            “Kami selalu menginginkan anak laki-laki.” Ucap Tuan Kim suatu pagi. Pagi itu adalah hari minggu. Seperti biasa, keluarga Kim di tambah diriku menggelar pesta barbekiu di halaman belakang.

“Yah, tapi keinginan itu tak pernah terkabul.” Nyonya Kim memandang  Yoojung yang sedang melukis di beranda rumah.

“Kami hanya di takdirkan memiliki satu putri. Walaupun begitu kami sangat beruntung memilikinya. Kami sungguh beruntung.” Tuan Kim memeluk Nyonya Kim yang duduk di sampingnya. Sungguh aku terharu melihat keluarga yang begitu harmonis dan saling menyayangi ini. Tapi kenapa ada perasaan iri yang menyisip di hatiku?

“Kami juga merasa bahagia kau berada di antara kami. Kami jadi merasa memiliki anak laki-laki yang kami impikan.” Sungguh aku terharu mendengar hal itu.

Melihat keduanya tersenyum gembira setelah mengatakan hal itu membuatku merasa sesak. Aku jadi teringat ayah, bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana kehidupannya sekarang? Apa dia bahagia?

Mataku kini beralih pada Yoojung yang menyendiri di beranda. Ia sedang melukis sesuatu. Entah apa itu dan aku mulai penasaran.

“Bergabunglah dengan kami, ini waktu yang tepat untuk berkumpul.” Ajakku padanya. Kini aku berada tepat di depannya. Memandangnya yang sedang melukis dan mengacuhkanku.

“Nanti aku akan menyusul.” Ucapnya acuh dengan tidak melihatku saat ia berbicara.

“Ayolah,” Bujukku lagi dan dia tetap mengacuhkanku. Poor me >o<

            “Tega sekali kau mengacuhkanku, memangnya apa yang sedang kau lukis, hah?” Aku penasaran, sungguh. Ketika Yoojung melukis, ia tak pernah mau di ganggu dan dia selalu membuatku penasaran. Karena itu lah aku mencoba mengintip apa yang sedang ia lukis.

Aku berjalan mendekati tempat duduk Yoojung sambil mencondongkan badanku ke depan, namun di saat bersamaan Yoojung berdiri dan kepalanya menghantam keras daguku.

Dug!! Auw,

Kami berdua bertabrakkan. Lebih tepatnya dia menghantam daguku. Aku mengerang kecil sementara Yoojung oleng dan akan terjatuh ke belakang. Dengan sigapnya aku menompang tubuhnya sehingga ia tak jadi jatuh.

Deg! Deg! Deg!

Mata kami saling beradu dalam posisi seperti aku memeluknya. Jarak kami begitu dekat dan aku merasa bahwa jantungku begitu keras berdentum. Ada sebuah kebahagiaan yang begitu besar membuncah dari dalam hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?

“Kyung soo-Yoo Jung, kemarilah nak!” Suara Nyonya Kim membuat kami tersadar. Aku melepas pelukan itu. Yoo Jung menatapku dengan perasaan menyesal. Tangan kanannya menyentuh daguku yang terasa memar.

“Gwecanayo, oppa?” Tanyanya masih dengan perasaan menyesal. Aku mengangguk dan dia tersenyum lega. “Maafkan aku.”

Aku menggenggam tangan kanannya. Dia terkejut.

“Tidak apa-apa, ayo.” Aku menariknya lembut menuju Tuan dan Nyonya Kim yang sedang memanggang daging. Sambil sesekali memandang lukisan Yoo Jung yang belum pernah aku ketahui apa objek yang terlukis di sana. Dan mungkin aku tak akan pernah tahu.

*

Semakin aku mengenal Yoo Jung, aku semakin suka padanya. Perasaan nyaman ini membuatku merasakan sebuah kehidupan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

“Oppa, ajari aku bermain gitar. Jebal.” Rengeknya manja padaku. Aku suka saat ia melakukan itu. Karena dia selalu menunjukkan wajah manisnya.

“Kemarilah,” Yoo Jung tersenyum manis sekali saat aku menyetujui permintaannya. Aku pun mulai mengajarinya. Dia terlihat begitu bersemangat. Aku suka ketika ia begitu. Sungguh.

Namun tiba-tiba saja, aku merasakan seluruh tubuh bergetar hebat. Mataku berkunang dan aku mulai sesak nafas. Dan di saat seperti inilah aku meminta ijin pada Yoo Jung untuk ke kamar mandi.

Mataku terus mengabur dan langkah kakiku serasa tak pasti. Aku mempercepat langkahku dan ketika sampai di kamar mandi, aku langsung mengunci pintu dan menyalakan keran. Ku basuh mukaku dan mulai memandangi diri sendiri di depan cermin.

“Tuhan, berikanlah aku waktu untuk bisa lebih dekat dengannya.” Kini aku memahami sesuatu. Aku tak akan pernah terlepas dari takdir yang telah di tentukan untukku.

“Ibu,” Aku mulai menyadari penyakit itu kini telah menggerogoti tubuhku. Apakah karena aku jatuh cinta pada Yoo Jung? Apakah aku akan mati ketika aku jatuh cinta?

Knock! Knock!

Suara pintu terketuk membuatku berpaling melihat pintu kamar mandi.

“Oppa? Apa kau ada di dalam?” Yoo Jung, dia sungguh gadis yang baik dan aku menyukainya. Apa aku harus memilih? Tetap jatuh cinta padanya atau melupakan perasaanku dan terus hidup?

“Ne.”

            “Kenapa kau lama sekali? Apa kau sakit?” Aku tersenyum mendengar dia mengkhawatirkanku dan sayangnya apa yang ia katakan benar, aku sedang sakit Yoo Jung-ah. Sakit yang membuatku harus memilih. Cinta atau Kehidupan.

“Ani-ya, aku hanya sakit perut saja.” Maafkan aku yang terpaksa berbohong padamu. Maafkan aku. Aku hanya tak ingin kau tahu tentang keadaanku. Jeongmal Mianhaeyo.

            “Kau butuh obat?”

“Tidak usah, aku baik-baik saja.” Maafkan aku.

*

Sakit ini terus bertambah seiring dengan perasaan bahagia yang selalu ku dapat darinya, dia begitu perhatian padaku dan hatiku ini terus memberontak untuk memilih Cinta di bandingkan Kehidupan. Namun jika aku memilih cinta, aku tetap tak bisa bersamanya. Hal ini sama dengan aku memilih kehidupan bukan? Lalu apa bedanya?

Keesokan paginya, aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan medis.

“Apa kau memiliki penyakit keturunan Tuan Kyung Soo?” Tanya dokter yang memeriksaku. Aku hanya menjawab mungkin. Dan nampaknya walau aku tak menjelaskan lebih lanjut, dokter itu tahu maksudku.

“Tuan Kyung Soo, hasil pemeriksaan Anda akan keluar besok pagi.”

Dokter yang memeriksaku terus memaksaku untuk di rawat inap. Namun jika aku melakukannya, apa yang akan ku katakan pada Tuan dan Nyonya Kim-jika aku kembali? Apa aku harus berbohong?

            “Saya lihat Anda terlalu pucat dan tubuh Anda begitu lemah.”

Apa aku harus berbohong?

“Saya harus pulang. Besok setelah melihat hasil pemeriksaan, saya berjanji akan menuruti permintaan Anda.” Ku rasa ini adalah jawaban terbaik. Aku harus pulang.

Badanku memang melemah. Namun aku selalu merasakan rasa bahagia terus membuncah dari dalam diriku. Lalu apa yang harus ku pilih, cinta atau kehidupan?

“Kau pulang terlambat.” Nyonya Kim membukakan pintu untukku.

“Maafkan saya, ada beberapa hal yang harus saya lakukan hari ini.” Nyonya Kim tersenyum mendengar jawabanku. Namun beberapa detik kemudian, senyuman itu memudar.

“Kau terlihat pucat, apa kau sakit?”

            “Ani-ya, saya hanya kelelahan.” Maafkan aku. Maaf aku harus berbohong.

“Benarkah? Ayo aku bantu  ke kamar.”

           “Ah ani, saya bisa sendiri. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya.”Nyonya Kim terlihat terdiam. Aku tahu, wanita itu bingung harus berbuat apa.

            “Saya bisa sendiri. Sungguh.” Aku berusaha meyakinkannya. Dan dia membiarkan aku menaiki tangga sendirian.

Satu persatu anak tangga ku langkahi dengan hati-hati. Tubuhku semakin melemah, aku tahu itu. Ibu, apakah ini memang takdirku? Apa yang harus ku pilih? tolong bantu aku.

“Kyung Soo-ya.” Panggil Nyonya Kim dengan suara bergetar. “Apa kau yakin?” Nyonya Kim nampaknya masih khawatir. Apakah diriku semenyedihkan itu?

“Aku baik-baik saja.” Semakin banyak anak tangga yang ku pijak. Semakin banyak rasa sakit yang membuat tubuhku bergetar.

“Kyung Soo-oppa,” Kini aku mendengar sebuah suara yang selalu ingin ku dengar. Namun bukan dengan nada kekhawatiran. Aku ingin mendengar dia bersuara dengan ceria.

“Aku baik..,” Tubuhku sudah tak bertenaga lagi. Aku oleng di anak tangga terakhir dan aku pun terjatuh.

Dug!

Bug!

Dug!

Bug!

“Kyung Soo-ya! Kyung Soo-oppa!” Hanya teriakan dari kedua wanita yang paling ku cintai yang ku ingat. Selebihnya aku tak tahu.

Flashback End

*

Membuka mataku terasa berat bagiku. Mataku hanya dapat melihat dalam keadaaan buram.

Oppa?” Aku bisa mendengar suaranya. Aku bahagia mendengarnya tapi kenapa nadanya terdengar khawatir, aku ingin mendengar dia dengan nada yang ceria-seperti biasanya.

“Kyung Soo-ya?” Suara siapa itu? Aku memandang sekeliling. Tapi mataku yang buram ini, benar-benar tak bisa di andalkan. Aku tak mengenali wajahnya namun suara itu sungguh familiar di telingaku.

Aku mendengar suara itu terisak. Hatiku terasa perih mendengarnya.

Suara siapa itu?

Suara siapa itu?

“Kyung Soo-ya?” Isak suara itu lagi. Kali ini terdengar seperti .. Oh tidak, suara itu.., Perlahan air mataku turun begitu saja. Kenapa? Kenapa dia berada di sini? Kenapa?

“Ayah?” Ku memanggil suara itu. Hatiku terasa tercabik-cabik. Haruskah aku bertemu dengannya lagi?

“Maafkan ayah, Kyung Soo-ya.” Ini adalah pertemuan pertama kami semenjak aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Namun yang aku sesali adalah kenapa ia bertemu denganku saat keadaanku seperti ini?

“Pergilah!” Ucapku datar. Aku tak ingin mereka melihatku seperti ini.

“Kyung Soo-oppa?” Kini aku mendengar suaraYoo Jung yang sedang tercekat-seakan tak percaya dengan apa yang ku katakan. Yah, benar Yoo Jung, aku mengusir ayahku sendiri dan maaf kalian semua juga harus pergi.             “Semua pergilah!”

“Tapi.., ” Aku mendengar ayah semakin keras terisak. Nyonya Kim juga sama dan Yoo Jung sedang memulai usahanya untuk membujukku. Tapi, maaf aku sedang tak ingin di temani.

“Aku bilang pergi!” Bentakku kemudian. Keterlaluan? Yah, aku memang keterlaluan. Aku mengusir ayahku sendiri dan keluarga yang telah berbaik hati menampungku selama aku pergi dari rumah. Dan aku juga keterlaluan telah mengusir Yoo Jung yang aku cintai, tapi lebih keterlaluan lagi bila aku membiarkan mereka berada di sisiku. Keterlaluan, aku menyadari hal itu. Dan itu lebih baik.

Mereka pergi. Aku sadari itu setelah mendengar langkah kaki yang menjauh. Pandanganku masih buram dan aku hanya dapat melihat kepergian mereka dengan samar. Tuhan, tolong maafkan aku.

*

Musim semi, tahun ketiga setelah aku pergi dari rumah. Penyakitku semakin parah saat rasa sayang dan rindu itu terus bertambah. Aku merasakan sesak dan sakit yang seakan obatpun tak dapat meredakannya. Kini aku mengetahui apa yang selama ini ibu dan Kyung Hoo rasakan sebelum ajal menjemput keduanya.

“Angin di sini sangat kuat, kembalilah ke kamar.” Pinta seorang suster yang telah merawatku semenjak kejadian itu. Kejadian aku jatuh dari tangga dan menerima vonis bahwa aku mengalami penyakit yang sama dengan ibu dan Kyung Hoo. Sungguh menyedihkan memang dan mau tak mau aku harus menjalaninya, bukan?

Shireo, aku bosan di kamar.” Soo Hyun-Suster itu tersenyum padaku. Dia meletakkan kedua tangannya pundakku dan berkata, “Baiklah, Kyung Soo-shi tapi kau harus berjanji untuk meminum obatmu kali ini. Jika tidak aku akan mendorong kursi rodamu ke kamar secara paksa.” Ancamnya kemudian. Aku terkekeh mendengarnya. Yah, aku selalu menolak minum obat. Kadang dengan bandelnya aku membuang obat-obat itu di wastafel. Sungguh nakalnya aku. Namun selalu saja ketahuan Suster Soo Hyun. Karena itu, dia selalu mengawasiku saat jam minum obatku tiba.

“Aku heran kenapa kau selalu saja membuang obatmu. Semua pasien ingin sembuh dan ingin segera keluar  dari tempat ini, tapi kenapa hanya kau yang nampaknya betah tinggal di sini.” Gumamnya dan itu semakin membuatku terkekeh.Sebenarnya hal itu ku lakukan karena aku tahu cepat atau lambat aku akan meninggal juga. Jadi kurasa tak ada gunanya aku meminum obat. Dan sepertinya hal mustahil jika aku bisa sembuh dari penyakit ini. Karena penyakit ini bersifat letal yang berarti mati. Aku akan mati, cepat atau lambat.

Ne,” Jawabku akhirnya setelah berulang kali ia mendorong kursi rodaku maju dan mundur, yah walaupu pelan tapi tetap saja membuatku terguncang beberapa kali. “Aku akan minum obat.” Suster Soo Hyun tersenyum mendengar jawabanku dan kali ini dia mendorongku  ke sisi favoriteku. Sisi yang selalu membuatku nyaman dan dapat melihat dunia dengan utuh. Teras atas yang tepat menghadap taman dan jalan setapak kecil.

“Gadis itu masih berada di sana.” Tunjuk Suster Soo Hyun pada seorang gadis yang sedang duduk di taman rumah sakit sambil membawa bunga dan benda persegi yang di bungkus kertas berwarna coklat.

“Yoo Jung?” Hatiku miris melihat gadis yang aku cintai terduduk di sana sendirian. Walau memang aku tak pernah menyatakan perasaanku padanya dan ku rasa seharusnya ia tak mempunyai kewajiban untuk ada di sana. Yah, seharusnya kau tidak ada di sana. Kembalilah ku mohon.

“Gadis itu masih terus memaksa untuk bisa bertemu denganmu.” Aku menelan ludahku. Yoo Jung ada di sana karenaku, karena aku tak pernah mengijinkannya bertemu denganku. Aku tak pernah mengijinkannya melihat keadaanku, aku tak ingin dia kasihan terhadapku. Aku tak ingin.

“Kurasa kau juga ingin bertemu dengannya.” Ucap Soo Hyun padaku sambil tersenyum melirikku. Dan senyumannya itu mengingatkanku pada Yoo Jung. Senyuman keduanya benar-benar mirip. Dan hal itu membuat dadaku menyesak lebih sakit.

“Apa kau tak apa?” Aku memegang dadaku sambil menekannya beberapa kali. Nafasku mulai sesak dan detak jantungku mulai tak beraturan. Keringat dingin mulai mengucur deras dan mataku mulai buram kembali.

“Kyung Soo-shi?” Kursi rodaku di dorong entah menuju kemana. Semua hal yang kulihat buram dan aku hanya dapat mendengar Suster  Soo Hyun  yang terus memanggilku dengan nada khawatir.

“Jangan pingsan! Jangan pingsan! Tolong tetap buka matamu Kyung Soo-shi!” Telingaku terus menangkap suara Suster Soo Hyun yang terus menyuruhku tetap terjaga dan dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk tetap membuka mataku. Dan sebuah memori terlintas begitu saja.

“Agashi? Agashi, gwecanayo?”

“Agashi tolong bertahanlah, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit!

“Agashi tolong jangan pingsan. Jangan pingsan! Tolong tetap buka matamu, agashi!”

“Suster, tolong selamatkan dia. Pria ini lukanya sangat parah.”

“Kau mendapatkan donor darah dari seorang gadis yang juga telah membawamu ke sini. Namanya Kim Yoo Jung.”

“Yoo Jung-shi, kamshahamnida.”

“Eh? Kau tak perlu berterima kasih. Sesama manusia harus saling menolong, bukan?”

“Ne,”

Tanpa terasa aku meneteskan air mataku. Dan hal itu tak dapat ku hentikan. Tangisan itu tak bisa ku hentikan.

“Kyung Soo-shi, jangan menangis. Obatnya akan segera bekerja. Tolong jangan menangis. Aku tahu kau merasakan sakit yang luar biasa. Bersabarlah.” Suster Soo Hyun mulai panik mendapatiku yang menangis padahal aku tak pernah menangis walau sesakit apapun sakit ini menyerang.

“Kyung Soo-shi, tolong jangan menangis.” Rasa sakit ini, bukan hanya karena sakit yang menyesakkan di dadaku, tapi sakit ini juga karena aku merindukan Yoo Jung dan ada rasa bersalah yang mendalam saat melihatnya, saat mengetahui ia berada di sana di tengah angin yang begitu kencang hanya untuk bisa bertemu denganku. Hanya untuk melihatku yang bukan siapa-siapa baginya. Hanya untuk bertemu pria yang tak tahu berterima kasih yang telah di selamatkan olehnya. Hanya untuk bertemu pria yang bahkan tak mau menemuinya.

“Soo Hyun-shi,” Aku memanggil Suster Soo Hyun dengan napas yang tersendat-sendat. Ia yang sedang mencoba menolongku langsung menghentikan kegiatannya dan menatapku sejenak.

“Boleh…-kah…aku…me..-min…-ta..ban..-tuan..-mu..,?” Ucapku tersendat-sendat. Suster Soo Hyun pun terdiam sambil berpikir sejenak.

“Apa itu?” Tanyanya.

Aku tersenyum dengan sisa tenagaku. “To..-long ja…-ga Yoo…-Jung, ku..-mo..-hon. Dia..ga..-dis.., yang baik.” Sesaat setelah aku mengatakan itu. Dokter datang dan mulai memeriksaku yang sudah tak tahan untuk terjaga. Mataku terasa berat dan rasa menyesak di dada itu membuat mulutku bungkam. Entahlah, rasanya sekarang aku ingin tertidur.

*

Sudah lima hari setelah hari terakhir aku melihat Yoo Jung duduk di taman itu. Aku masih mengingatnya, masih mengingat bagaimana dia terduduk di bangku itu. Bagaimana angin memainkan rambutnya, bagaimana udara begitu dingin, bagaimana dia bertahan walau aku tak mau menemuinya. Jika aku membayangkan hal itu. Aku merasa menjadi seseorang yang paling jahat di dunia. Jahat karena membiarkan seseorang yang aku cintai berada di sana. Walau hanya dalam bayangan. Ya, karena yang ku tahu, dia tak pernah datang lagi semenjak hari itu. Aku yakin dia sudah putus asa. Baguslah.

“Bagaimana kabarmu?” Suster Soo Hyun datang menghampiriku yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia datang sambil membawa papan berisi huruf-huruf dalam bahasa korea (Author lupa namanya #Plak) dan menyodorkan papan itu di hadapanku.

Aku menggerakkan tangan kananku dengan gerakan perlahan. Aku melihat dengan jelas tanganku yang bergetar hebat sambil menunjuk beberapa kata yang ingin ku jawab. Ya, sekarang aku tak bisa berbicara. Aku hanya dapat berkomunikasi lewat papan itu.

“Gwe-ca-na-yo.” Dia tersenyum, “Syukurlah.” Ucapnya kemudian dan meletakkan papan itu di meja kecil di sampingku.

Aku menengok sedikit ke arahnya yang terlihat sedang mengganti bunga yang telah layu dengan bunga yang aku yakini baru ia beli. Aku juga melihat sebuah benda persegi yang mengingatkanku dengan Yoo Jung. Gadis itu juga membawa benda seperti itu saat terakhir kali aku melihatnya.

“Tebakanmu benar Kyung Soo-shi.” Nampaknya suster Soo Hyun menyadari kemana arah mataku terpaut. “Yoo Jung menitipkan ini padaku. Dia hanya ingin kau melihatnya. Entah bagaimana tanggapanmu, dia hanya ingin kau melihatnya. Dia juga berkata akan selalu menunggumu untuk mau memperbolehkannya menjengukmu.”

Suster Soo Hyun menghampiri benda persegi itu dan membawanya ke hadapanku. “Aku ingat setelah kau pingsan. Aku menemuinya di taman. Kau bilang aku harus menjaganya, hh seakan kau akan meninggal saat itu juga. Jujur aku merasa takut saat kau mengatakan itu. Namun syukurlah, kau hanya pingsan.”

Aku memandang raut wajah Suster Soo Hyun yang menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti. “Aku menemui gadis bernama Yoo Jung itu. Dia terlihat gembira saat aku datang. Ia pikir kau mau di temui. Namun saat aku menceritakan yang sebenarnya, dia tampak ingin menangis.”

Suster Soo Hyun menghela napas dan mulai membuka benda persegi itu. Mataku terpaku mendapati apa isinya. Apa yang ada di dalamnya membuat tubuhku bergetar hebat. Aku merasa ingin menangis. Sungguh, sangat ingin menangis. Aku.., aku.., tak bisa.., mengerti diriku sendiri yang ternyata begitu pengecut. Bagaimana bisa? Bagaimana?

 Kyung Soo

“Aku masih mengingat yang Yoo Jung katakan.”

“Jadi keadaannya semakin memburuk? Kau tahu, sejujurnya aku mengerti sikapnya. Ia tak mau dikasihani. Namun.., namun setidaknya biarkan aku menemuinya. Kumohon. Suster, tolong bantu aku. Aku ingin sekali bertemu dengan Oppa. Kumohon.”

“Setidaknya hanya sekali saja. Kumohon.”

“Maafkan saya, Yoo Jung-shi. Namun walau saya mengijinkanmu melihatnya. Apa Anda yakin Kyungsoo-shi mau bertemu dengan Anda? Saya hanya takut dengan kesehatannya saja.”

“Begitu ya?Kalau begitu, berikan ini kepadanya. Aku ingin dia melihatnya. Selama ini dia selalu ingin melihat ini. Tapi aku tak pernah membiarkannya. Hh, entah apa tanggapannya. Entah apa akhirnya dia membuang atau membakarnya. Aku tak peduli. Yang aku inginkan adalah dia melihat ini. Bisakah kau membantuku?”

Hatiku benar-benar merasa muak. Gadis itu benar-benar membuatku.., oh apa ini cinta? Melihat benda ini membuatku tersadar ia memiliki perasaan yang sama denganku. Jujur, hatiku bahagia-sangat bahagia. Namun, aku tahu akhir semuanya. Sekarang aku benar-benar merasakan kebahagian yang benar-benar memuncak.

Ini benar-benar memuakkan. Aku merasakan bahagia dan sakit secara bersamaan. Sungguh ini menyebalkan.

“Kyungsoo-shi, kenapa Anda menangis? Kyung Soo-shi, apa Anda merasakan sakit lagi?” Aku mendengar suara panik itu. Suster Soo Hyun berkali-kali berteriak meminta pertolongan. Kini aku melihat banyak sekali orang yang berbondong-bondong kemari. Aku melihat mereka dengan samar. Dan aku hanya bisa menangis dan terus menangis. Ada satu hal yang aku sesali. Tentang gadis itu.

Aku tahu. Sampai napas ini berhenti. Sampai udara berhenti mengisi paru-paruku. Aku tak akan pernah bisa menghentikan takdir. Karena penyakit ini bersifat letal yang berarti mati. Kata orang, seseorang yang terkena penyakit ini akan meninggal ketika jatuh cinta. Ya, aku mempercayai itu sampai saat ini, saat napasku tersengal-sengal. Saat seluruh yang kulihat menjadi putih. Aku masih mempercayai itu. Namun ada satu hal yang aku sesali. Seharusnya aku memilih Cinta sedari awal. Karena akhirnya sama saja dengan aku memilih kehidupan bukan?

Setiap hari ketika aku memilih kehidupan. Pikiranku hanya terpaku padanya. Walau aku enyahkan, aku tetap tak bisa memungkirinya. Aku hanya membuatnya sakit. Hanya demi aku ingin hidup.

Namun ketika aku memilih cinta, aku merasakan sebuah kebahagian. Ya, walau hanya kebahagian yang di sertai rasa sakit sesudahnya. Tapi itu cukup, karena aku tak membuatnya sakit. Itulah hal yang aku sesali.

Merasa bodoh. Ya. Merasa egois. Sangat.

Pada akhirnya aku mengetahui. Penyakit ini memang membuat seseorang meninggal ketika jatuh cinta. Namun itu bukan intinya. Saat kau jatuh cinta. Kau akan merasa sangat bahagia. Sangat-sangat bahagia. Ketika bahagia, kita butuh banyak oksigen. Namun tubuh tak mampu menyediakannya. Sehingga, kau akan merasakan sakit yang terasa amat sangat menyiksa. Dan karena itu, aku sekarang mengerti mengapa Kyung Hoo meninggal. Dia merasa bahagia. Sangat bahagia. Ibu juga, dia merasa bahagia. Dan aku juga merasakan hal yang sama. Sebuah kebahagian.

“Kyung Soo-shi? Kumohon, bertahanlah.” Entahlah, aku akan merasa tenang dan bahkan senang dengan kebahagiaan ini. Aku bahagia karena mengenal Yoo Jung dan keluarganya. Aku bahagia mengetahui bahwa ibu dan adikku meninggal dengan perasaan bahagia. Dan aku bahagia mengenal suster Soo Hyun yang peduli padaku. Satu lagi, aku merasa bahagia dengan hadiah terakhir yang Yoo Jung berikan padaku. Berkat benda itu aku merasa bahagia. Ah, sudahlah. Aku ingin tertidur sekarang. Mungkin untuk selamanya.

*

Seharusnya aku memilih cinta dari awal. Karena pada akhirnya aku akan tertidur untuk selamanya. Jika aku memilih cinta, waktu itu. Setidaknya Yoo Jung tak merasakan sakit yang ku alami.

*

The End

Ehem, gimana? gimana? bagus? bingung? jelek? huah.., aku tunggu komentarnya^^

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s