RSS Feed

[Twoshoot] Regarder La Ciel part 1

Posted on

 

 

 

 DO Kyungsoo | Choi Sooyoung

Seungri | Seohyun

Romance | Light Angst | PG-15 | Twoshoot

Han Hyema Storyline & Artposter

Backsound : Zia –  나를 잊어도

regarder la ciel

Hi, Hyema here. Saya menempati janji saya buat ngepost FF KyungYoung Couple. Mian kalau mengecewakan ya? Please leave a comment or maybe thumb after you reading this story. Happy Reading All.

*

Aku melihatnya. Ya, dia berada di sana. Di tengah sabana itu, dia terbaring sambil menatap langit. Sama seperti dahulu. Kala kami masih bersama.

‘Sungguh menyenangkan saat itu. Seandainya saja..,’

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku menengok sedikit dan mendapati sebuah pesan masuk dari seseorang yang tak ku kenal.

‘Jangan hanya mematung. Ayo ke sini.’ Mataku mulai liar mencari siapa pengirim pesan ini. Aku tahu, siapapun dia pasti berada di sini.

‘Tak menemukanku? Padahal aku hanya berjarak beberapa meter darimu.’ Pesan itu masuk lagi dan hal itu semakin membuatku penasaran. Aku masih terus mencari sampai mataku diam terpaku melihatnya sedang menatapku. Apakah dia yang mengirimiku pesan?

*

Flashback

Kadang satu hal kecil membawa perubahan yang begitu besar untukku. Termasuk tentang hal sepele yang sekarang menjadi rutinitas sehari-hariku. Regarder la ciel, menatap langit saat senja mulai menyilau, saat pelangi mulai memanjakan mataku dengan warnanya, menatap langit saat awan berlomba-lomba untuk meneduhkan hariku, dan memandang langit saat aku gugup melihatnya. Ya, melihatnya.

“Hari ini akan hujan bukan?” Aku kaget ketika seseorang berbicara padaku di tempat ini. Tempat favoriteku, sebuah sabana kecil di desaku. Tak banyak orang yang datang kemari. Hanya aku. Hanya aku.

Aku menengok dan melihat seorang namja bertubuh semampai tersenyum padaku.

“Mau minum?” Tanyanya dan aku hanya bisa diam. Oh kenapa dia ada di sini? Jantungku berdetak semakin cepat. Tubuhku memaku. Aku melihatnya, melihatnya dengan jarak yang cukup dekat dan astaga, dia menyapaku?

“Kenapa wajahmu selalu seperti itu jika melihatku?” Cibirnya sinis dan aku hanya bisa mengulum senyum. “Maafkan aku.” Ucapku akhirnya dan dia merespon dengan tawa. Sungguh senangnya melihatnya tertawa. Tapi kenapa ia tertawa?

“Apa ada yang salah?” Tanyaku kemudian dan dia menghentikan tawanya.

“Sooyoung-ya, mari kita berteman.” Ajaknya padaku. Aku begitu terkejut. Bukan karena apa-apa, tapi apa itu mungkin? Dia datang kepadaku hanya untuk memintaku menjadi temannya.

HAP! Aku menangkap botol minuman yang ia lemparkan dengan secara spontan. Aku memandangnya dan ia hanya tersenyum. Entah apa maksud senyuman itu. Tapi kenapa terasa sangat tulus?

“Kau menangkapnya dan sekarang kita berteman.” Ucapnya enteng dan melangkah menghampiriku.

“Teman?” Tanyanya lagi dan aku hanya bisa mengangguk. Sungguh aku bingung harus berbuat apa.

“Baiklah, kau pasti sudah tahu namaku kan? Jadi kita tak perlu berkenalan lagi kan?” Tanyanya memastikan. Aku hanya bisa mengangguk lagi. Ya, pasti. Aku pasti mengenalmu, karena aku selalu memperhatikanmu. Selalu.

“Bagus.” Ucapnya lalu segera pergi melewatiku. Aku pun membalikkan badan untuk melihat ke mana ia pergi dan ternyata ia sedang mengambil sepedaku dan menuntunnya balik ke arahku.

“Ayo pulang. Bukankah sebentar lagi akan hujan?” Ajaknya sambil menatapku. Aku pun gugup di tatapnya seperti itu dan secara spontan aku mendongakkan wajah untuk menatap langit.

“Hai, apa kau tak percaya padaku?” Tanyanya sinis dan aku pun langsung memandangnya sambil menggeleng. Ah, dia salah paham.

“Ah ani, aku hanya ingin melihatnya. Saat seperti ini, maksudku saat.. suasana seperti ini aku suka melihat langit.”

                “Jadi kau suka melihat langit?”

                “Ne,”

                “Kalau begitu, setiap sore ayo kita melihat langit. Bersama di sabana ini.” Ucapnya dengan senyum kecil yang selalu membuatku gugup. Dan lagi aku mendongak menatap langit dan ternyata ia melakukan hal yang sama. Apakah ini mimpi?

Flashback End

*

Hari ini, untuk pertama kalinya lagi aku menginjakkan kaki di sabana ini. Ada hal yang membuatku berhenti menatap langit. Ada hal yang membuatku membenci sabana ini. Ya, aku sekarang tidak menyukai hal itu lagi. Hanya karena satu hal. Dirimu.

Suara sepeda terkayuh membuat lamunanku berhenti. Aku menengok dan mendapati namja lain menghampiriku dengan tangan melambai-lambai memanggil namaku.

“Sooyoung-ah, mobil sudah menunggu.” Pekik namja itu lantang. Aku tersenyum dan melambai balik ke arahnya.

“Tunggu sebentar.” Jawabku dan hal itu membuat namja itu berhenti mengayuh sepedanya dan mulai menatapku tak mengerti.

Aku melihatnya duduk di sepeda hanya beberapa meter dariku. Dengan pandangan tidak suka, ia menatap ke belakangku. Aku pun berbalik badan dan mendapati namja lain yang membuatku berhenti menatap langit hanya berjarak satu meter denganku. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan. Namja itu bernama Kyungsoo. Namja dengan segala hal yang membuatku selalu menatap langit dan dia pula yang membuatku berhenti menatap langit.

“Kau akan ketinggalan kapal! Cepatlah!” Seungri-namja yang duduk di sepeda itu berteriak dengan kencangnya. Aku pun menengok ke arahnya dan langsung melihat jam tanganku. Ah sial, aku akan ketinggalan kapal. Dengan tanpa menghiraukan Kyungsoo, aku pun berlari menghampiri Seungri yang sudah siap dengan sepedanya. Namun tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku.

“Simpan nomorku. Aku akan menyusulmu ke Seoul. Tolong maafkan aku.” Ucap Kyungsoo dengan tatapan menyesal. “Aku mohon, tolong maafkan aku.” Pintanya lagi. Hatiku mencelos. Aku, entah mengapa merasakan yang di katakannya tulus. Tapi pikiranku berkata lain. Dan untuk pertama kalinya, aku menatap langit kembali. Bukan karena gugup. Tapi karena aku tak mau melihatnya lagi.

“Maafkan aku.” Hanya dua kata ini yang aku ucapkan. Entah untuk apa, tapi setelah aku mengatakannya Kyungsoo langsung melepaskan genggamannya dan saat itulah aku berlari menuju Seungri yang menatapku seolah aku adalah seseorang yang perlu di kasihani. Dan aku pun pergi meninggalkan sabana ini dengan sebuah rasa yang tak pasti. Akankah aku menatap langit lagi?

*

3 tahun kemudian,

Sebuah memori terlepas begitu saja saat sebuah pesan masuk ke dalam handphoneku. Aku membukanya dan terkejut mendapati Kyungsoo mengirimiku pesan.

‘Aku ada di pelabuhan. Aku menempati janjiku untuk menyusulmu ke Seoul. Aku pasti akan menemukanmu dan menjelaskan kejadian itu. Maafkan aku.’ Pesan itu berakhir dengan kata maaf. Sama seperti terakhir kali kami bertemu. Dengan kata maaf.

Aku mengingat kejadian itu. Tepatnya teringat kembali setelah sekian lama aku lupakan. Tepatnya berhasil ku lupakan.

Namun segera saja ingatan itu aku enyahkan. Karena jika tidak. Aku akan hidup dengan perasaan yang tak menentu. Aku ingin menatap langit, tapi jika aku melakukannya aku pasti teringat Kyungsoo dan aku tak mau itu terjadi.

*

Jam dinding itu meledekku berkali-kali. Karena seseorang yang ku tunggu tak datang-datang. Dua jam ku menunggu dan dia tak datang. Sekarang aku sedang berada di stasiun kereta untuk menjemput Seohyun temanku yang baru pulang dari Daejeon.

‘Salju turun dengan lebatnya. Mungkin aku tiba terlambat. Maafkan aku Unnie.’ Itulah pesan Seohyun yang aku terima dua jam yang lalu. Dan sampai sekarang aku belum melihatnya.

‘Unnie, mianhaeyo. Rel keretanya membeku. Unnie, bagaimana ini aku harus tidur dimana malam ini?’ Rengeknya sepuluh menit yang lalu.

‘Menginaplah di hotel.Kau akan baik-baik saja. Tenanglah.’ Dan inilah balasanku.

‘Ah baiklah. Maaf membuat unnie menunggu.’ Inilah pesan terakhir yang aku terima dari Seohyun. Setelah memastikan dia positif akan menginap di Daejeon, aku pun memutuskan untuk pulang ke apartementku.

Baru beberapa langkah aku berjalan, langkahku terhenti saat mendengar suara kereta datang. Aku pun menengok dan ternyata itu kereta dari kota lain.

‘Ah apakah aku berpikir Seohyun akan membohongiku? Aish, Sooyoung jangan berpikiran buruk.’ Gumamku pada diri sendiri. Ya, akhir-akhir ini aku sering berpikiran buruk. Entah mengapa.

Aku pun berbalik hendak pulang namun ada sebuah suara yang mengagetkanku. Suara itu. Oh tidak, jangan dia tolong.

“Sooyoung-ya?”

DEG!

                “Apa itu kau?” Jangan dia. Aku mohon jangan dia.

TAP! TAP! TAP!

Suara langkah kaki terdengar nyaring karena stasiun kereta sudah sepi. Ya, bagaimana tidak ? Sekarang pukul sebelas malam.

TAP! TAP!

Suara langkah itu kian mendekat.

“Sooyoung-ya, akhirnya aku menemukanmu.”

Nafasku tertahan. Hatiku berulang kali minta jangan dia. Jangan dia. Detak jangtungku menabuh genderang. Keringatku meluncur bebas dan jiwaku loncat dari ragaku saat sebuah tangan menepuk pundakku.

“Tidak!!!!!!!!!!”

Cklek!

Tiba-tiba lampu menerang. Aku sekarang terduduk di kasur tidurku. Dengan sisa jiwaku yang masih menempel, aku menyadari bahwa aku baru saja mengalami mimpi buruk. Mimpi bertemu dengannya adalah mimpi buruk untukku. Dan hal itu baru saja terjadi.

Eonni, gwecanayo?” Seohyun yang mendengarku berteriak langsung menghampiri kamarku dan menyalakan lampu. Aku baru saja melihatnya berdiri menatapku heran di samping tempat tidurku.

Gwecanayo.” Jawabku seadanya. Sekarang aku baik-baik saja, karena tadi hanya mimpi. Hanya mimpi.

*

Keesokan harinya,

Sekarang aku benar-benar ada di statiun kereta, namun bedanya ada Seohyun di sampingku. Yang berbeda lagi karena sekarang siang hari dan ini dunia nyata bukan alam mimpi. Mataku mulai memperhatikan sekitar. Sejak kejadian semalam, aku jadi sedikit parno bertemu dengannya. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut. Namun entah takut dengan apa.

Eonni, ayo!” Ajak Seohyun ketika menyadari kereta kami sudah tiba. Kami sedang menuju Universitas Seoul, tempat kami menuntut ilmu.

Kami mencari tempat duduk yang kosong dan akhirnya menemukan di sisi dekat pintu kereta. Suasana pagi ini cerah, walau baru di guyur hujan.

Eonni, lihat itu ada pelangi.”  Dengan riangnya Seohyun menunjuk langit dari kaca kereta. Aku hanya terdiam. Pelangi?

Eonni, pelangi itu sangat indah. Lihatlah langit sungguh indah dengan adanya pelangi itu. Ayo lihatlah.” Bujuk Seohyun padaku yang hanya diam mendengarnya. Pelangi? Haruskah aku menatap langit- lagi?

Flashback

“Kau suka pelangi, bukan?” Tanya Kyungsoo padaku sambil berbaringan di sabana ini. Sabana yang sekarang bukan hanya milikku. Tetapi milik kami.

“Ne, aku suka pelangi.” Jawabku dan itu membuat Kyungsoo menoleh dan mengembangkan senyumnya.

Ayo berbaringlah. Pelangi akan terlihat indah jika kau berbaring.” Kyungsoo menepuk-nepuk sisi di sebelahnya. Aku meragu. Haruskah?

“Sudahlah jangan memasang wajah seperti itu.” Kyungsoo pun menarikku untuk berbaring bersamanya. Akhirnya aku pun menuruti permintaannya. Berbaring di sisinya. Apakah aku bermimpi?

“Apa kau mau mendengar cerita tentang pelangi?” Tanyanya lagi. Ya, memang aku tak banyak berbicara dengannya. Hanya dia yang berbicara dan terkadang aku hanya mengangguk dan menggeleng.

“Aniya, aku sudah mendengarnya.” Jawabku datar. Ya, ini yang biasa aku lakukan. Maaf jika terlalu menyebalkan jika di lihatnya, namun ini semata-mata agar aku bisa menutupi perasaanku. Ya, aku jatuh cinta padanya. Dan entahlah, apa dia merasakan yang sama.

“Hai berhentilah memasang wajah seperti itu. Kau sebenarnya cantik jika tersenyum. Ayolah.” Semburat merah menyembul dari kedua pipiku. Aku pun secara spontan langsung memandang langit. Ya, aku kembali gugup.

“Jangan berkata yang tak mau kau katakan Kyungsoo-shi.” Dan inilah responku. Aku bangkit dari rebahanku dan mulai duduk sambil melihat ke sekeliling dan mencoba untuk tak melihatnya. Ada sesuatu hal yang aneh kurasakan. Entah ini perasaanku saja atau memang benar adanya kalau dia sedang menatapku. Menatapku dengan sebuah senyuman kecil dan kadang ia menatap langit di tengah rebahannya.

Apa kau berpikir aku berbohong? Huh, menyebalkan. Aku hanya berbicara jujur saja.” Katanya lagi namun kali ini kurasa ia sedang tak menatapku. Kami sekarang sedang menatap langit yang mulai memudarkan berbagai warna indah yang selalu membuat hariku membaik. Pelangi itu sekarang memudar.

Kenapa kau begitu dingin denganku, apa aku menyebalkan? Aku hanya ingin menjadi temanmu. Bersikap hangatlah. Ya, walau hanya sedikit.” Sebuah perkataan yang menohok hatiku ini membuatku merasa bersalah. Ya, apa caraku untuk menyembunyikan perasaan ini salah? Seandainya salah, apa yang harus kulakukan?

“Aku hanya merasa canggung.” Jawabku kemudian masih dengan perasaan aneh. Kenapa aku mengatakan hal itu?

“Eh? Benarkah?” Kali ini ia menoleh kearahku dan aku pun begitu. Pandangan kami bertatapan dan ia melukiskan sebuah senyuman indah di wajahnya.

“Senyumlah.” Pintanya.

“Eh?” Apa maksudnya?

“Sudahlah, berikan aku senyuman.” Pintanya lagi, namun kali ini sedikit memaksa.

Ku tarikkan sebuah senyuman padanya dan kali ini sebuah senyuman yang sedari tadi ku tahan. Senyuman tulus untuknya dan aku melihatnya bangkit duduk untuk melihatku seksama.

DAG! DIG! DUG!

Jangtungku tiba-tiba saja memacu darah dengan cepatnya. Terasa berdesir dan paru-paruku terasa lega akibat oksigen yang tak henti-hentinya mengisi paru-paru yang kosong.

DAG! DIG! DUG!

Detakan ini mengeras saat sebuah udara terasa mendekat dan hangat di wajahku.., hembusan nafasnya menyapu seluruh wajahku. Tapi ada gejolak kecil yang membuatku gamang. Apa maksudnya?

Aku menyingkir saat hembusan itu hampir melekat di wajahku. Aku menyingkir karena aku tak ingin sakit hati. Aku tak mau berharap. Aku tak mau jika dia..,

“Aku akan beli minum, kau mau?” Aku pun bangkit berdiri dan menoleh ke bawah menghadapnya yang nampak shock. Maaf Kyungsoo, tapi aku tak mau melakukan itu. Kau bukan namjacinguku. Maaf. Walaupun aku berharap kau adalah namjacinguku. Walaupun aku mencintaimu. Tapi kurasa itu bukan hal yang tepat.

Kyungsoo mendongak menghadapku dengan tatapan mata yang aneh.

“Bukankah  toko jauh dari sini?” Ia bangkit memandangku dengan tatapan mata yang sama. Aku bisa melihatnya salah tingkah dan ada sedikit rasa sesal yang terukir halus di wajahnya.

“Tidak sejauh yang kau bayangkan. Dekat tikungan di jalan menuju halte.” Aku beranjak dan meninggalkannya yang terdiam.

“Mau ku temani?” Tanyanya dengan agak canggung saat aku mengambil sepedaku.

“Tak perlu, tunggu saja aku disini.” Aku mengayuh sepedaku menjauhi sabana kami. Sabana dengan langit yang sudah memudarkan warna-warni dan kurasa mendung akan segera datang. Karena aroma basah sudah tercium sejak aku memutuskan mengayuh sepedaku agak cepat.

Samar-samar aku mendengar Kyungsoo berteriak.

“Aku akan menunggumu sambil berebahan di sini. Jangan sampai kau membiarkanku menunggu.” Ia berteriak lantang dan aku yang mendengar hanya bisa tersenyum.

Melihatnya hari ini adalah sebuah warna lain dari kehidupanku. Ia yang dulu selalu kulihat dari jauh. Kini hanya beberapa meter dariku ah tidak baru saja beberapa centi dariku. Tetapi kenapa aku menolak? Saat ia hendak menciumku. Cukup satu alasan. Aku hanya ingin menjaga diriku. Tak lebih. Tunggu, apa dia juga mempunyai rasa yang sama?

Pertanyaan itu selalu berputar di otakku. Sama seperti roda yang berputar di bawahku. Hatiku kini berusaha berpikir keras. Tungg, aku tak mau berharap lebih. Aku tak mau sakit hati. Aku tak mau.

“Kamshahamnida. Datang kemari lagi ya?” Ahjuma penjaga toko mengantarku keluar tokonya selepas aku membeli dua botol isotonik.

“Ne, aku akan datang kemari lagi. Kamshahamnida.” Aku melambaikan tangan pada ahjuma penjaga toko yang juga melambaikan tangannya. Senyuman ahjuma itu sungguh meneduhkan dan sepertinya dia sosok yang baik hati.

BRAK! Ada sepeda yang sengaja menabrakkan bannya pada bagian belakang sepedaku. Aku oleng, sulit sekali mengendalikan sepedaku.

Hahaha! Suara tertawa senang terdengar nyaring di telingaku. Namun suara tertawa itu terdengar seperti suara yeoja yang selalu mencegatku setiap pulang sekolah. Apa itu mereka?

DUG! Aku menabrak sebuah pohon yang tepat di seberang jalan. Aku terjatuh dan lututku terasa perih. Ku meringis kesakitan dan ternyata benar dugaanku. Yeoja itu ada di sini. Bersama-sama teman-temannya. Aku tak heran. Ia hanya bisa kroyokan!

Auuwh! Tubuhku di angkat secara paksa dan mereka menyudutkanku di kerasnya batang pohon yang kutabrak. Aku melihat mereka tersenyum meremehkan dan aku mulai geram terhadap mereka.

“Apa mau kalian, hah?” Bentakku dan membuat mereka menghentikan tawanya dan menatapku sinis.

“Kau sudah mulai berani? Hh, apa  kau sekarang merasa menang karena dekat dengan Kyungsoo? Aku heran apa istimewanya yeoja aneh sepertimu?” Aku menatap mereka dan mereka menatapku balik.

“Dasar!” PLAK! Yeoja itu menamparku telak di pipi kananku. Aku merasakan sebuah nyeri yang sangat perih.

“Kau masih berani menatapku? Hai Sooyoung-ya, Kyungsoo itu milikku! Sudah berapa kali ku peringatkan.”

                “Apa buktinya?” Tanyaku kemudian. Aku bosan. Sungguh bosan di perlakukan seperti ini oleh mereka.

“Apa? Kau menantangku?” Yeoja itu memandangku dengan senyuman setannya. Aku hanya berpaling mengacuh sambil melihat ke sekeliling yeoja itu.

Jika kau berani.” Aku balik memandangnya. Aku yakin sungguh yakin, yeoja itu tidak akan mendapatkan hal yang di inginkannya.

“Baiklah jika kau menantang, jika aku menang-jauhi Kyungsoo.”

                “Jika kau kalah?” Ia memutar matanya dan menatapku penuh kemarahan.

“Aku akan membiarkanmu.” Itu cukup adil. Kurasa. Setidaknya aku berpikir pasti dia tidak akan berhasil. Karena di sekolahpun ia tidak pernah berhasil, apalagi di sini.

*

Sabana ini membentang cukup luas. Langit mulai mengumpulkan awan-awannya dan terbentuklah segumpal awan yang cukup besar untuk mengguyurkan hujan.

Kami tiba. Yeoja itu berjalan mendekatiku sambil sesekali melirik Kyungsoo. Apa yang akan dia lakukan?

“Kyungsoo itu milikku. Camkan itu.” Ia mengambil salah satu botol isotonik yang ku taruh di keranjang sepeda dan mulai mendekati tempat Kyungsoo berbaring. Tiba-tiba hatiku merasa aneh. Detak jantungku berlomba-lomba menabuh genderangnya. Kenapa aku menjadi merasa takut? Apa aku takut Kyungsoo akan.., Ah itu tidak mungkin. Aku percaya padanya.

Aku menatap langit. Entah kenapa aku merasa bingung. Apa tindakanku salah? Apa tindakanku akan menyakiti diriku sendiri? Apa aku harus menjauh darinya jika aku kalah? Apa aku..,

Oh tidak! Apa yang mereka lakukan? Tolong seseorang katakan sesuatu padaku. Tolong, apa yang mereka lakukan?

“Soyoung, kau kalah!” Seorang yeoja teman yeoja itu menepuk bahuku dan setelah mengetahuinya ini adalah kenyataan. Aku hanya bisa menangis. Menangis di sertai hujan yang mulai turun bersamaan dengan air mataku.

Kyungsoo, jadi apa maumu?

*

-oooo0oooo/To Be Continue

*

#Pendek? Jangan gemplang saya #Kabur…^^

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

7 responses »

  1. Binguuuunngg… Tapi ceritanya bagus kok

    Balas
  2. pendek banget nih thor , tpi daebak !!
    lanjut yah lanjut🙂

    Balas
  3. Aduh lagi asiknya baca. Udah tbc aja nih-_-
    Kebetulan iseng nyari ff kyungyoung, ternyata ada!!! Aduh duo ultimated bias;-;
    Lanjutkan thor! Ga sabar nunggu lanjutannya, ini pasti happy ending kan?😄 /maksa
    Agak kaget juga pas bagian sooyoung dibully tadi, pengen nangis sumpah. Two thumbs for ya, thor!^^

    Balas
    • OMONA, chaca double komen ya? FF ini tinggal finishing aja. Dan baru hari ini buka Laptop gegara dari kemarin sibuk sekolah. hehe

      Mungkin senin ya cha, tapi gak janji. Liat waktu luang buat publishnya^^

      Balas
      • Baru buka laptop juga nih, thor xD
        Iya aku ngomen di-dua blog sekaligus. Lol.
        Uwah sibuk sekolah? Pengen UN ya, thor? Good luck ya. 파이팅!~~~
        Btw, kapan nih ff ini dipublish-nya? Sumpah udah ga sabar sama kelanjutannya:3 cuman bisa berharap happy ending. Udah itu aja=)) aku juga suka ff KyungYoung yang “Sooyoung-aa?” itu. Request ff cast-nya mereka lagi bisa kali thor xDD ditunggu karya2 berikutnya ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s