RSS Feed

[Oneshoot] Sooyoung-aa?

 

 

 

 DO Kyungsoo | Choi Sooyoung

Suho | Hyoyeon | Luhan

Romance | Angst | PG-13 |Oneshoot

Han Hyema Storyline & Artposter

Sooyoung-aa Cover

Hi, Hyema here. Huah, ini cerita panjang banget untuk ukuran oneshoot. Saya berencana drable awalnya tapi jadinya ficlet. Trus pas mantepin ficlet eh jadinya oneshoot-kepanjangan lagi. Lalu jangan gemplang saya kalau ceritanya >.<, tapi tolong commentnya ya?

Happy Reading All

Malam yang dingin saat angin mulai bertiup kencang. Salju mulai turun melebat dan suhu berlomba-lomba untuk turun hingga ke titik paling dingin.

Seorang pria terduduk di lantai tepat di samping tempat tidurnya sambil mendongakkan wajah.

“Soo Young,” Panggil pria itu tertahan. Tangannya mengepal dan jantungnya berdetak tak karuan setiap kali memori ingatannya berputar menyajikan sebuah cerita yang tak bisa di anggap cerita. Sungguh menyedihkan.

Tiba-tiba pintu terketuk dan hal itu membuat pria itu menoleh ke arah pintu.

“Kyung Soo, apa kau belum tidur?” Suara itu terdengar khawatir. Entah apa yang terjadi, namun pria bernama Kyung Soo itu mempunyai sisi yang rapuh.

Pintu itu terbuka. Terlihat seorang pria lain yang mematung melihat keadaan Kyung Soo.

“Jadi kau belum tidur ya?” Ucap pria itu sambil mengulum senyum. Terdengar bergetar dan Kyung Soo tahu itu. Tahu bahwa ia sedang di kasihani.

Kyung Soo menatap lekat pria itu seakan ingin tahu apa yang dilakukannya di sini. Seakan mengerti maksud Kyung Soo, pria itu mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.

“Dia?” Tanya Kyung Soo tercekat, matanya menjadi sendu seketika.

“Kau tahu bukan kalau besok tanggal 30 Desember? Di saat itulah, tolong kembalikan hidupmu. Hidup harus berjalan sebagaimana mestinya. Walau Soo Young sudah tak ada. Kau mengerti?” Kyung Soo tak menjawab, ia diam.

“Kau tahu seberapa besar aku peduli padamu. Kembalilah menjadi Kyung Soo yang ku kenal.” Pinta pria itu sebelum pergi dan meninggalkan sebuah surat di atas tempat tidur.

“Bacalah dan kau akan hidup.” Dan akhirnya pria itu pergi.

*

Sebulan yang lalu, di awal musim dingin yang selalu menyajikan pemandangan indah saat-saat bunga salju pertama turun.

“Soo Young-aa, apakah kau masih bisa mengingatku?” Kyung Soo berbicara lirih di hadapan seorang gadis yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

“Nugu?” Gadis itu menoleh lemah, di tatapnya lekat wajah Kyung Soo yang mulai menyendu.

“Ah, ani.” Kyung Soo pun akhirnya pergi setelah ia yakin gadis itu sudah tak mengenalinya lagi. Hati Kyung Soo terasa remuk redam dan hal itu di sebabkan satu hal. Gadis yang ia cintai, kekasihnya Soo Young, mengalami amnesia.

“Oppa?” Kyung Soo yang sekarang sedang tertunduk di depan pintu pun menghentikan langkahnya. ‘Apa kau mulai mengingatku?’ Seketika rasa bahagia membuncah dari dalam diri Kyung Soo dan ia membalikkan badannya.

“Soo Young-aa?” Panggil Kyung Soo lirih dan gadis itu tersenyum mengembang ke arahnya.

“Luhan Oppa-ya.” Seketika Kyung Soo tercekat mendengar nama seorang namja yang tak di kenalnya di panggil Soo Young. ‘Apa kau lupa namaku? Atau memang kau tak dapat mengenaliku? Soo Young, ini aku Kyung Soo bukan Luhan.’

“Chagi-ya,” Seketika Kyung Soo tersentak saat tubuhnya di tabrak kasar dari belakang oleh seorang namja yang langsung memeluk Soo Young. Dan hal paling mengejutkan adalah saat Kyung Soo mendengar namja itu memanggil Soo Young, kekasihnya dengan sebutan ‘Chagi-ya.’

‘Chagi-ya? Namja itu memanggilmu dengan itu? Sungguh, permainan apa yang telah kau mainkan sebelum kecelakaan itu? Apakah selama ini kau berselingkuh di belakangku?’ Kyung Soo hanya bisa diam mematung melihat kekasihnya yang sedang bersama namja lain. Berbagai spekulasi secara spontan muncul begitu saja dan hal itu semakin menyesakkan dada Kyung Soo yang mulai kembang kempis menahan marah dan sedih yang datang bersamaan dan terasa berlebihan.

Kyung Soo pun langsung membalikkan badan dan melangkah  secepatnya keluar dari ruangan tempat Soo Young di rawat.

“Oppa, apa kau kenal namja itu?” Tanya Soo Young polos sambil menatap menyelidik pada namja bernama Luhan.

“Ani-ya. Mungkin dia salah kamar.” Namja itu mengelus pelan rambut Soo Young dan menyuruhnya untuk berbaring.

“Oppa, temani aku ya? Aku takut sendirian.” Rajuk Soo Young manja. Luhan menatap lembut gadis itu dan mengangguk.

“Ne.”

Tanpa Soo Young dan Luhan sadari, ada seorang namja yang menyaksikan sedikit drama itu. Namja itu menghela nafas pelan dan mulai menjauh dari ruangan tempat Soo Young dirawat. Sambil berjalan namja itu berkutat dengan pikirannya.

“Ku harap Kyung Soo tidak melihatnya. Yah, sebaiknya begitu. Dia akan tersakiti saat mengetahuinya.” Harap namja itu sambil terus berjalan keluar dari rumah sakit.

“Kyung Soo, ku harap kau memaafkannya.” Ucap namja itu sebelum ia masuk ke dalam sebuah taxi dan pergi dari rumah sakit itu.

*

Sementara itu, Kyung Soo sedang berada di sungai Han. Ia terduduk di salah satu bangku dan menatap indahnya sungai yang berkelap-kelip  karena cahaya lampu taman yang menyala saat malam datang.

Tiba-tiba saja Kyung Soo mendengar suara ban mobil berdecit di belakangnya. Kyung Soo menoleh dan mendapati sebuah mobil berwarna biru terparkir  apik di belakangnya. Sang pengemudi yang ternyata seorang yeoja menghampirinya.

“Kau sendirian?” Tanya yeoja itu ramah dan Kyung Soo menanggapinya dengan mengulum senyum.

“Nampaknya kau sedang dalam masalah. Terakhir kali aku melihatmu disini, ketika kau baru saja putus dengan murid Seung Ri School, 3 tahun lalu.” Yeoja itu memulai percakapan dengan membuka masa lalu Kyung Soo. Kyung Soo yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum kecil.

“Yah, tiga tahun yang lalu. Kau masih mengingatnya?” Yeoja itu mengangguk.

“Dan jangan bilang kau baru saja putus dengan Soo Young? Oh come on, D.O kalian sudah berpacaran selama dua tahun dan bulan depan kalian bertunangan, masa sekarang putus?” Kyung Soo yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecut.

“Tak ada yang putus, Hyo Yeon. Tak ada.” Yeoja itu terdiam dan memandang Kyung Soo menyelidik.

“Lalu ada apa? Ceritakan saja, bukankah aku ini sahabatmu?” Memandang Hyo Yeon, Kyung Soo hanya bisa sedikit tertunduk.

“Hai!” Hyo Yeon menepuk pundak Kyung Soo dan meyakinkannya bahwa Hyo Yeon-jika bisa- pasti akan membantu.

“Hyo Yeon-aa, aku sedang bingung dengan hubunganku dengan Soo Young.”

“Eh? Jadi masalahmu tak jauh-jauh darinya?” Cibir Hyo Yeon dan membuat Kyung Soo tersenyum menyindir dirinya sendiri.

“Ya, kau tahu bukan jika aku sangat menyukainya?” Hyo Yeon mengangguk.

“Tapi nampaknya itu tak berarti lagi bukan?” Hyo Yeon menyerngit. “Apa maksudmu? Bukankah kau mengatakan tidak putus?”

“Soo Young mengalami amnesia dan sekarang ia memiliki kekasih lain serta tak mengenaliku-lagi. Jadi aku bingung, apakah ini berarti hubunganku berakhir dengannya?” Hyo Yeon terdiam, raut mukanya menampakkan bahwa ia tidak tahu masalah itu.

“Aku tak tahu harus berkata apa.” Hyo Yeon tertunduk, “Tapi, apa kau sudah mencoba? Maksudku kau sudah..,”

“Iya, aku sudah mencobanya tapi NIHIL.” Kyung Soo mengalihkan pandangannya-kembali- kearah sungai Han. Hyo Yeon mendengar hal itu, ia hanya bisa memandang Kyung Soo dan menepuk pundaknya seakan hal itu dapat memberikannya semangat.

“Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Menyerah?” Tanya Hyo Yeon kemudian dan hal itu membuat Kyung Soo tersenyum sinis.

Hyo Yeon masih memandangi Kyung Soo yang sedari tadi mengacuhkannya. Hyo Yeon hanya bisa berharap tidak akan ada hal konyol yang di lakukan Kyung Soo, mengingat mereka sedang ada di pinggir sungai.

“Jangan berpikiran hal konyol. Sungai bukan tempat pembungan ‘SAMPAH’!” Sindir Hyo Yeon saat melihat Kyung Soo bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tepi sungai. Melihat Kyung Soo tak menanggapinya, Hyo Yeon pun bangkit berdiri dan segera menyusul Kyung Soo.

“Hai, sudah ku katakan bukan? Sungai Han itu tempat yang indah, jangan sampai terkotori ‘SAMPAH’.” Hyo Yeon pun menarik Kyung Soo yang terlihat terlalu dekat dengan tepi dan nampak menengokkan kepalanya ke arah sungai.

“Ya!” Teriak Kyung Soo, Hyo Yeon pun masih mencengkram tangan Kyung Soo.

“Lepaskan!”Bentak Kyung Soo dan Hyo Yeon menggeleng cepat.

“Aish, Hyo Yeon-aa sudah berapa lama kau mengenalku, hah? Tenang saja, aku tak akan menjadi ‘SAMPAH’. Aku tidak seburuk itu!” Kyung Soo pun menyentakkan tangannya sehingga cengkraman Hyo Yeon lepas.

“Apa kau pikir aku mau bunuh diri? Aish,” Cibir Kyung Soo sambil menjulurkan lidahnya dan mengejek Hyo Yeon.

“Ya! Kau mengerjaiku, hah?!” Hyo Yeon pun mencak-mencak melihat Kyung Soo yang segera menjauh dan melambaikan tangannya di udara.

“Bye-bye” Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Hyo Yeon.

Melihat kepergian Kyung Soo membuat Hyo Yeon tersenyum, “Syukurlah  kau masih bisa bercanda. Aku ingat saat Suho berkata kau seperti mayat hidup. Tapi untungnya kau baik-baik saja.”

Hyo Yeon pun berjalan menuju mobilnya. Ada banyak hal yang berkutat di pikirannya dan wajahnya menampakkan wajah penyesalan ketika handphonenya berdering tepat setelah ia masuk ke dalam mobil dan hendak menginjak pedal gas.

“Yoboseyo..,” Ucap Hyo Yeon sedikit ragu. Ada sebuah rasa bersalah tersebesit di hatinya.

“Ne, dia baik-baik saja.” Jawab Hyo Yeon sambil tersenyum kecut.

“Apa kau harus melakukan ini? Kau pikir dia akan bertahan? Apa kau yakin?” Seburuntun pertanyaan Hyo Yeon lontarkan kepada penelepon yang mampu membuat dadanya menyesak menahan marah dan rasa penyesalan  yang teras berlebihan ketika mendengar jawabannya.

“Yang harus kau tahu, dia walau terlihat baik-baik saja. Tanpa kau sadari, dia akan menangis. Aku tahu betul sifatnya. Kami bersahabat sedari kecil dan kau baru mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Dan ku berharap kau menyesalinya.” Bbip…, Sesudah mengucapkan itu Hyo Yeon pun menangis sejadi-jadinya. Ia sangat marah, Ia sangat menyesal, dan Ia begitu bingung harus berbuat apa.

“Kyung Soo, tolong maafkan aku. Tolong,” Gumam Hyo Yeon di tengah  tangisnya.

Hyo Yeon pun menghapus air matanya dan segera menginjak pedal gas dan pergi dari tempat itu.

*

‘Soo Young-aa, kenapa kau melakukan ini? Bukankah bulan depan kita bertunangan? Kenapa tak sedikitpun kau menyisakan  ingatanmu untukku?’

‘Apakah kau merasa aku terlalu pengecut? Ya, aku seorang pengecut!’

Di sisi lain sungai Han, Kyung Soo memilih duduk di tepi sungai sambil memandang pantulan dirinya di dalam air. Wajahnya menyendu dan benar saja Kyung Soo sedang menangis. Ia menangis karena merasa  dirinya terlalu pengecut untuk berjuang kembali mendapatkan Soo Young.

‘Hyo Yeon-aa, kau benar-benar mudah tertipu. Aku tak akan pernah baik, karena Soo Young tak ada di sisiku.’

Kyung Soo juga menangis karena telah berbohong kepada Hyo Yeon dengan berpura-pura baik-baik saja di hadapannya. Padahal di dadanya sungguh terasa perih dan Kyung Soo benar-benar ingin mendapatkan Soo Young kembali. Namun apa daya semua usahanya sia-sia.

‘Sekarang apa yang harus ku lakukan? Hanya dengan adanya dirimu, aku merasa bahagia. Tapi saat dirimu tak berada di sisiku, apakah aku bisa bahagia?’

Kyung Soo masih menangis. Dalam sendiri, ia merutuki dirinya karena tak bisa melindungi Soo Young.

                ‘Tolong maafkan aku, kecelakaan itu, harusnya aku yang tertabrak dan menanggung penderitaanmu. Aku benar-benar kekasih yang tak berguna.’

*

Flashback End

30 Desember.

Kyung Soo berdiri tegak. Matanya memandang lurus tanpa mau menatap siapapun. Disampingnya terdapat namja yang selalu berusaha membangkitkan semangat hidup Kyung Soo, dia adalah Suho.

“Kau tahu bukan kalau besok tanggal 30 Desember? Di saat itulah, tolong kembalikan hidupmu. Hidup harus berjalan sebagaimana mestinya. Walau Soo Young sudah tak ada. Kau mengerti?”

“Kau tahu seberapa besar aku peduli padamu. Kembalilah menjadi Kyung Soo yang ku kenal.”

Di samping Suho ada Hyo Yeon yang sedang menangis terisak.

“Apa kau harus melakukan ini? Kau pikir dia akan bertahan? Apa kau yakin?”

“Yang harus kau tahu, dia walau terlihat baik-baik saja. Tanpa kau sadari, dia akan menangis. Aku tahu betul sifatnya. Kami bersahabat sedari kecil dan kau baru mengenalya beberapa tahun yang lalu. Dan ku berharap kau menyesalinya.”

Mereka sedang berkumpul dalam upacara pemakaman Soo Young. Yah, Soo Young telah meninggal sepuluh hari yang lalu.

‘Apa kau tahu, setiap malam aku menangisimu. Setiap malam pula aku merindukanmu. Sungguh aku benar-benar merindukanmu. Tapi kenapa akhir dari ‘kita’ harus seperti ini?’ Kyung Soo sekarang berjongkok dan menatap sendu nisan Soo Young. Matanya berkaca dan tubuhnya bergetar hebat. Kyung Soo begitu kehilangan sosok Soo Young.

‘Soo Young-aa? Kenapa kau melakukan ini?’ Sebersit rasa penyelasan mendalam menyeruak di relung-relung hati Kyung Soo. ‘Apa kau melakukannya demi namja cengeng sepertiku?’

Tangan Kyung Soo bergerak mengelus nisan Soo Young dengan lembut. Satu per satu bulir air mata itu turun, seakan menandakan pertahanan  diri Kyung Soo runtuh.

                ‘Tolong maafkan aku,’

Sedetik kemudian, Kyung Soo sudah berdiri dan meninggalkan makam Soo Young. Sebelum pergi, ia menghapus air matanya secara kasar.

“Kau mau kemana?” Suho menahan kepergian Kyung Soo. Namun Kyung Soo hanya diam dan melanjutkan langkahnya.

‘Maafkan aku hyung, aku hanya ingin sendiri.’

Suho terdiam menyadari lawan bicaranya tak menggubrisnya. Ada satu hal yang ia anggap salah terjadi, Suho berpikir seharusnya Kyung Soo tidak akan melakukan hal seperti ini. Kyung Soo tak seharusnya tetap murung setelah membaca surat itu. Ya, seharusnya tidak begitu.

“Apa kau tak membaca surat itu? Hai! Surat itu! Bacalah!” Akhirnya Suho berteriak  karena Kyung Soo masih tak menggubrisnya.

“Aish, anak itu.” Hyo Yeon menepuk pundak Suho, “Ayo kita pergi.” Ajak Hyo Yeon. Suho pun mengangguk.

“Sudahlah jangan terus merasa bersalah. Ini yang terbaik.” Suho mengusap air mata Hyo Yeon secara lembut.

“Baiklah, tapi ku harap Kyung Soo baik-baik saja.”

“Ya, kuharap juga begitu.”

*

Kyung Soo masih berada di sekitar pemakaman. Kyung Soo berjalan tertatih sambil mengingat memori kebersamaannya dengan Soo Young ; pertemuan pertama mereka, saat kencan pertama keduanya, saat dirinya menyatakan cinta, saat piknik bersama, saat Kyung Soo memberikan cincin pada Soo Young dan saat ..,

Oppa! Awas!

Citt!

Brak!

Dug!

Soo Young!

Kecelakaan itu. Kecelakaan enam bulan yang lalu.

Kyung Soo POV

“Oppa, surga itu seperti apa?” Tanya Soo Young tiba-tiba. Secara spontan aku langsung menoleh ke arahnya. Aku melihat ia memandangku meminta jawaban sedangkan diriku hanya bisa diam tak tahu harus berbicara apa.

Tiba-tiba saja ia bangkit dan menuju bibir pantai. Ya, kami sedang berada di pinggir pantai. Entah mengapa, Soo Young tiba-tiba saja ingin ke tempat ini.

“Oppa, aku ingin merasakan angin laut. Ayo kita ke pantai!” Ucapnya dengan senyum mengembang. Aku bisa merasakan keantusiasan dalam cara bicaranya.

“Kau ingin kesana? Baiklah.”

Soo Young merentangkan kedua tangannya. Wajahnya mendongak dan sepertinya ia begitu menikmati berada di sini. Aku merasakan rasa bahagia yang luar biasa, walau hanya dengan melihatnya. Ya, aku bahagia jika ia bahagia.

“Oppa!” Teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan.               “Cepat kemari,” Aku tersenyum melihat tingkahnya. Ia begitu manis.

“Apa kau senang?” Tanyaku saat sudah berada di sampingnya. Ia hanya balas mengangguk sambil tertawa lepas. Hanya dengan memandangnya, aku merasa seluruh paru-paruku terisi oksigen yang sangat banyak. Aku bisa bernapas dan hidup, berkatmu.

“Kenapa tertawa?”

“Eh? Gak boleh?” Tanyanya sambil cemberut. Dan sekarang gantian aku yang tertawa melihat ekspresinya yang lucu.

“Ya! Kenapa sekarang Oppa yang tertawa?” Ia semakin cemberut namun bedanya ia sedang berpura-pura marah.

“Eh? Gak boleh?” Tanyaku sambil menirukan cara bicaranya. Dia terlihat terkejut dan sekejap kemudian,

“Ya Oppa! ku tangkap kau!” Aku berlari di tengah derak ombak kecil yang selalu menggelitiki kakiku. Aku berlari dan dia mengerjarku. Langkah kakiku membuat pakaian yang ku pakai basah dan tetap saja ia berlari mengejarku.

“Oppa! Awas kau!” Aku berlari sambil tertawa, Soo Young masih mengejarku dengan semangat membara untuk memukuliku. Walaupun begitu, aku memilih berhenti berlari dan berbalik menatapnya yang masih berlari dengan sepatu yang bergoyang di tangannya.

Memandangnya di tempat seperti ini, sungguh indahnya. Ya, karena Soo Young memang indah.

“Ya Hentikan! Hentikan!” Aku pikir dia ingin memukuliku, tapi ternyata ia menggelitikiku. Dan itu sangat.., “YaHentikan! Sooyoung-ah, hentikan!” Aish, yeoja itu tahu saja kelemahanku.

Hahaha.., hahaha, setelah puas menggelitikiku, Soo Young tertawa lepas. Di sertai angin yang bersemilir dan mendengar suara tawanya, aku ingin memejamkan mata. Merasakan sedikit surga yang di berikan Tuhan untukku. Sebuah surga yang selalu indah. Sooyoung, surgaku.

Namun tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggangku. Sebuah aroma parfum yang selalu membuatku nyaman dan sebuah dekapan hangat yang dapat membuatku terpaku. Mataku terbuka dan aku melihat Soo Young memelukku. Kepalanya seolah tertidur di dadaku dan ia memelukku erat. Aku balas memeluknya dan sebuah pertanyaan yang sama terulang kembali.

“Oppa, surga itu seperti apa?” Tanya Soo Young kembali. Keningku berkerut dan aku merasakan ada sesuatu yang aneh.

“Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanyaku balik. Namun ia hanya diam masih dalam posisi yang sama.

“Baiklah. Surga itu tempat yang indah. Tempat yang paling di dambakan semua orang. Tempat orang-orang baik.” Sebenarnya aku tidak tahu surga seperti apa, namun banyak orang mengatakan demikian.

Mendengar jawabanku, Soo Young mendongak dan menatap mataku penuh harap, “Oppa, apa aku orang baik?” Tanyanya lagi. Aku semakin heran dengan semakin anehnya pertanyaan Soo Young, pertanyaannya seperti seseorang yang mau .., aku tersentak. Andwae! Andwae!

“Soo Young-aa, apa maksudmu? Semua orang tahu kau adalah yeoja yang sangat baik. Kau yang terbaik. Bahkan Oppa menganggapmu sebuah surga yang luar biasa indah. Jadi mengapa kau tanyakan hal-hal aneh seperti itu.” Soo Young tiba-tiba menangis dan kembali menidurkan kepalanya di dadaku. Aku tertegun. Ada apa dengan yeoja ini?

“Oppa-aa, aku ingin bertanya apabila ..,” Belum sempat Soo Young meneruskan kalimatnya, aku sudah memtongnya terlebih dahulu.

“Youngie, cukup. Kau tak perlu bertanya yang aneh-aneh lagi. Yang perlu kau tahu adalah kau sebuah surga yang indah bagiku. Kau seluruh oksigen yang mengisi paru-paruku dan membuatku tetap hidup. Jangan berbicara seolah kau ingin pergi jauh dariku. Sungguh Youngie, aku tak sanggup. Aku tak sanggup.” Aku melepaskan pelukannya dan menaruh kedua tanganku pada kedua lengannya. Soo Young masih menangis sambil terisak.

“Aku juga tak mau Oppa, aku sangat mencintaimu.” Aku tersenyum mendengarnya. Aku kembali mendekapnya. “Itu sudah cukup. Aku juga sangat mencintaimu.”

*

Di hari naas itu, kami berjanji untuk bertemu di sebuah kafe kecil tempat kami mengahabiskan waktu berdua.

“Oppa- ya, hari ini aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum ke kafe. Oppa pergi saja dulu. Aku akan naik bis.” Sebuah pesan seluler aku terima seusai jam kuliah berakhir. Aku memang mematikan smartphoneku, karena itu kemauan Soo Young. Soo Young selalu mengingatkanku belajar dengan giat dan jangan lupa mematikan handphone saat jam kuliah berlangsung.

Tut! Tut! Tut!

Handphonenya mati dan aku hanya dapat tersambung dengan mail box. Aku tertegun. Tak biasanya Soo Young mematikan handphonenya. Kulirik jam tanganku dan sekarang hampir mendekati pukul 4 sore dan aku harus segera menemuinya di kafe. Tak akan kubiarkan yeoja menungguku, aku yang harus menunggunya.

Dua buah cappucino sudah tersaji rapi di meja kafe yang biasa kami tempati. Jam bendentang, tepat pukul empat sore. Namun aku belum melihat Soo Young. Tak biasanya ia terlambat.

Citt!  Indera pendengaranku langsung bereaksi saat mendengar decitan ban. Aku menengok ke luar jendela. Sebuah bis sedang berhenti di halte seberang jalan. Aku melihatnya! Melihat Soo Young denan dress berwarna krem dan pita berwarna coklat melilit di perutnya. Soo Young menyampirkan tas kecilnya di tangan kanannya dan rambutnya di potong pendek. Tuhan, betapa indahnya kau menciptakan surgaku.

Dengan bergegas aku keluar dari kafe kecil itu, aku berlari untuk menghampirinya. Aku hanya ingin berada di sampingnya, karena dia oksigenku. Aku hidup jika bersamanya.

“Oppa!” Panggilnya dengan senyum mengembang, tangannya melambai-lambai dan aku hanya bisa tersenyum. Namun tiba-tiba wajahnya memucat dan ia dengan cepatnya berlari ke arahku.

Oppa! Awas!

Citt! Decitan mobil membuatku mengalihkan pandanganku pada sumber suara.

Brak!

Dug! Tubuhku di dorong oleh Soo Young, aku baru menyadarinya.

Soo Young! Pekikku lantang. Aku melihatnya berlumuran darah, hatiku tersayat, terasa perih sekali. Oksigenku habis dan tanpaku ketahui, sebuah motor melaju kencang dari arah berlawanan mobil yang menabrak Soo Young. Akhirnya aku juga tertabrak. Kami tertabrak.

Flashback End

*

Menyadari kesalahanku membuat tubuhku limbung. Aku terjatuh dan terduduk di sini. Di jalanan setapak tempat Soo Young di makamkan. Oksigenku sekarang benar-benar hilang.

“Bangunlah,” Aku mendongakkan wajahku saat sebuah yang sangat asing menyuruhku bangun. Aku melihatnya. Melihat seorang namja bernama Luhan dengan pakaian serba hitamnya menatapku datar.

“Kurasa Soo Young tak mau melihatmu seperti ini. Ayo bangunlah.” Namja itu mengulurkan tangannya dan dengan perasaan ragu ku menerimanya.

Kini aku berdiri berhadapan dengannya, dia menatapku dengan tatapan yang entah apa maksudnya.                     “Apa kau sudah membaca suratnya?” Tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut saat mendapatinya mengetahui tentang surat yang Suho Hyung berikan padaku kemarin.

“Ah, kau belum membacanya?” Ucapnya sinis. “Kau seharusnya membaca surat itu, pantas saja kau jadi seperti mayat hidup.” Aku memandang wajah namja itu, namja yang selalu bersama Soo Young sampai kematian menjemputnya.

“Apa kau mengenalku? Kenapa kau berbicara seolah-olah kau mengenalku?” Dia berdecak, raut mukanya menampakkan seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang ku tanyakan.

“Aish, makanya kau harus membaca surat itu.” Luhan nampak kesal dan segera membalikkan badan meninggalkanku yang masih berkutat dengan pikiran memang apa isi surat itu.

“Hai! Kau harus baca surat itu, dengan begitu keinginan terakhir Soo Young dapat terpenuhi. Kembalilah hidup, itulah keinginannya.” Aku tersentak. Ini keinginan terakhir Soo Young? Apa dia sudah bisa mengingatku kembali?

*

Aku terdiam menatap surat itu. Surat yang membuat setiap orang memaksaku untuk membacanya. Surat yang Luhan katakan sebagai permintaan terakhir Soo Young. Benarkah?

Aku menahan nafas saat amplop perlahan ku sobek. Lalu aku mulai mengambil surat yang ada di dalamnya. Surat yang membuatku tertegun saat membaca isinya.

Dear Kyungie Oppa,

                Apakah kau manangis? Hai, jangan cengeng seperti itu. Kau kan seorang namja.

Awal surat itu membuatku tersenyum kecil. Dia benar-benar Soo Young.

Hai, kenapa sekarang tersenyum? Bukankah tadi menangis? Dasar plin-plan.

Kali ini aku dimarahi olehnya. Soo Young, aku benar-benar merindukanmu.

Maafkan aku,

Apakah kau baik-baik saja? Ku harap demikian. Walaupun aku tahu kau tak pernah baik-baik saja. Seseorang pernah memarahiku seperti itu. Sungguh, apa yang telah aku lakukan?

Oppa, maukah kau memaafkanku?

Kyungie, maaf karena aku hanya bisa menyapamu lewat surat ini. Selama ini aku hanya menerima darimu tanpa bisa membalasnya. Aku sendiri tak menyangka kalau surat ini adalah surat pertama sekaligus yang terakhir yang aku tulis untukmu.

Aku minta maaf, Kyung Soo-ah.

Awalnya aku merasa ini yang terbaik. Aku telah berbohong padamu, Oppa. Dan aku sangat menyesalinya. Setiap kau datang, hatiku semakin memberontak untuk mengakui bahwa aku mengingatmu. Tapi nyatanya pikiranku selalu berkata ‘Nugu?’ Sungguh kejamnya aku.

Apa maksudmu Youngie? Berbohong? Berbohong soal apa? Amnesia yang kau alami itu hanya bohong? Benarkah itu?

Sebenarnya aku tak sepenuhnya berbohong. Sederhananya kecelakaan dan amnesia itu adalah berkah yang tak terhingga untukku. Ya, sebuah berkah.

Apa yang sedang kau bicarakan Youngie?

Oppa, aku sungguh menyesal dengan keadaan ini. Baiklah, aku akan menceritakannya runtut. Setahun  yang lalu, seorang dokter memvonisku kanker paru-paru. Semenjak itu aku selalu merasakan sakit yang berlebihan. Hingga tiba saat Oppa melamarku, saat itu Oppa ingin langsung menikah denganku. Aku menolaknya bukan? Sungguh kejamnya aku. Sebenarnya aku sangat ingin. Hatiku berteriak ‘Yes, I do.’ Tapi kenapa yang keluar dari mulutku, ‘Oppa, lebih baik kita bertunangan dulu.’ Yah, aku memutuskan itu dan sengaja meletakkan hari pertunangan sangat jauh dari yang kau inginkan, ‘Aku ingin akhir tahun Oppa, itu hari yang spesial.’

Sungguh bodohnya aku, menyembunyikan  semua ini. Sungguh aku takut kau terluka. Terluka karena mengetahui aku tidak akan bisa bersamamu. Aku juga takut kau akan meninggalkanku. Sungguh ketakutan yang bodoh.

Youngie-aa?

Hari itu, saat hari kecelakaan  itu. Aku menemui beberapa orang. Oppa pasti sudah mengenalnya. Mereka adalah Suho Oppa, Hyoyeon Eonni, dan Luhan Oppa. Mungkin yang asing hanya Luhan Oppa. Yang perlu oppa tahu kalau Luhan bukan namjacinguku, dia seorang sahabatku dari China. Ia kembali bulan Mei lalu dan mendapatiku pingsan di apartement. Dari sanalah ia tahu keadaanku.

Tolong jangan benci dia, dia banyak menolongku. Aku mohon.

Youngie-aa?

      Maafkan aku,

Aku memang mengalami amnesia sesudah kecelakaan itu, amnesia yang sangat lama. Mungkin selama lima bulan. Dan di saat itulah Luhan Oppa bercerita tentang apa saja yang Oppa lakukan untuk mengembalikan ingatanku. Hari terakhir saat oppa berkunjung  ke rumah sakit, itulah hari dimana aku mulai mengingatmu. Oppa, usahamu berhasil. Aku sungguh terharu.

Youngie-ah, aku..,

Saat ingatanku kembali, hal pertama yang kulakukan adalah menangis. Dan selepas itu, aku berbohong  mengatakan aku masih amnesia pada semua orang. Namun malangnya Hyoyeon Eonni sangat peka, dia tahu dengan sendiri mengingat aku pernah menceritakan tentang kanker ini. Suho oppa pun sudah tahu dengan cara yang sama. Tolong maafkan mereka juga, ini semua salahku. Aku yang memaksa mereka.

Aku menutup surat ini, walau belum habis terbaca. Aku menangis menyadari banyak hal yang belum aku ketahui. Aku merasa bahwa diriku..,

Author POV

Pintu terbuka. Terlihat seorang pria lain yang mematung melihat keadaan Kyung Soo.

“Kau sudah membacanya?” Suho menghampiri Kyung Soo yang sekarang terduduk  di lantai sambil menangis.

“Kau jahat!” Ucap Kyungsoo di tengah isakannya. “Hyung, kenapa kau tak memberitahuku. Hyung tahu bukan betapa aku mencintai Sooyoung?” Suho pun akhirnya memilih memeluk Kyung Soo.

“Ya benar aku jahat dan kau boleh menghukumku apapun. Sekarang, aku tanya apa kamu sudah membaca surat itu?” Suho melepas pelukannya dan menatap wajah Kyung Soo yang terlihat menyedihkan.

“Tidak sepenuhnya.” Suho terdiam.

“Lanjutkan,”

“Aku tak sanggup hyung,”

“Tapi intinya di akhir surat, kau tak akan menemukan apapun selain di akhirnya. Kau mengenal Soo Young dengan baik dan kau harus menghargainya. Ia menulis ini di tengah kesakitan yang membuatnya berteriak seperti orang gila. Kau harus tahu, dan jika kau peka kamu pasti bisa melihat dari tulisan tangannya. Kau mengerti?” Wajah Kyung Soo mendongak memandang wajah hyungnya untuk mencari kebenaran di antara kalimat itu.

“Bacalah,” Pinta Suho kembali dan akhirnya Kyung Soo mengangguk.

Kyung Soo POV

Hari ini untuk pertama kalinya aku merasakan salju. Selama ini dokter selalu mengekangku untuk tidak boleh keluar dari kamar. Dan saat salju turun, aku mengingat rencana pertunangan kita. Mianhaeyo Oppa, aku tahu ini semua salahku.

Entah berapa hari lagi saat Oppa membaca surat ini, atau mungkin sudah lewat. Apakah aku terlambat? Tolong maafkan aku.

Youngie-ah, besok hari pertunangan kita. Saat menyadari ucapan Suho Hyung, tentang yang terpenting adalah di akhir surat, itu memang benar adanya. Tanganku meraba kertas itu, aku merasakan kertas itu pasti pernah basah oleh buliran air mata yang jatuh dari ‘surgaku’ dan ada .., Tuhan  ini percikan darah?

                Oppa banyak hal yang ingin kusampaikan tapi sepertinya a..ku..,

Suratnya berhenti di sini di sertai percikan darah yang kulihat tadi, apakah ini?

“Hyung?” Panggilku pada Suho Hyung yang hanya bisa menatapku sambil mengulum senyum.

“Sudah ku katakan, bukan? Dia menulis surat itu di sisa tenaganya.”

Aku mendongakkan wajah. Mencoba untuk tidak menangis. Aku hanya ingin berusaha tegar. Tapi apa daya pertahananku selalu runtuh saat mengingat yeoja itu. Sebuah surga kecil yang tiba-tiba menghilang dari hidupku. Kini aku mengerti apa alasanmu. Aku memaafkanmu.

Ada sebuah tulisan kecil di belakang kertas yang aku temukan,

Aku minta maaf karena harus pergi ke tempat yang jauh lebih dulu, tanpamu. Hiduplah, aku tahu kau bisa menemukan ‘surga kecil’ lainnya. Aku minta maaf untuk itu dan terima kasih, teman terbaik dalam hidupku.

I love you Kyungie,        

Soo Young.        

Tulisan itu berhenti sampai di situ. Dan kurasa ini adalah bagian penutupnya. Ya, Youngie aku akan hidup. Aku akan tetap hidup untukmu. Namun ada satu hal yang baru aku sadari, tulisan tangan ini berbeda dari sebelumnya dan aku tertegun mendapati tulisan itu dan ada sebuah note di bawahnya.

Ini adalah hal terakhir yang Soo Young ucapkan sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mendengarnya mengucapkan itu. Sungguh lirih terdengar. Awalnya aku bingung apa maksudnya, tetapi beberapa saat kemudian aku teringat dirimu. Ucapan terakhir itu, untukmu. Untukmu, Kyung Soo-shi. (Luhan)

Namja itu benar-benar.., Aish. Soo Young-ah aku tak akan membencinya. Justru aku harus berterima kasih padanya. Ia telah merawatmu. Dan maafkan aku karena telah berpikiran buruk tentangmu dengannya.

Aku sudah mengatakan, aku memaafkanmu. Namun ada satu hal yang aku selalkan, Youngie. Yaitu bahwa cinta itu adalah sebuah kata yang bukan hanya tentang hal manis saja. Tapi hal pahit pun harus bisa kita bagi bersama. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Karena kau surgaku. Justru dengan caramu, aku menjadi kehilangan surgaku.

*

Youngie, love is not the word only for sweet romance

*

-ooo0ooo-/END

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

8 responses »

  1. THOR!! TANGGUNG JAWAB!! KESIAN KYUNG SOO(KU)
    aku terharu thor!!! DAEBAKK!!!
    KEEP WRITING!!! :*

    Balas
  2. ah . . .ff mu bgus bget thor. Sampe nyesek mbacanya, apa lagi suratnya soo. Daebak. Terus berkarya ya chingu. Fighting. . .

    Balas
  3. Waah daebak, suka banget nih ff😀
    Buat ff yg lain yg pairingnya sooyoung-exo yaa thor hehehe

    Balas
  4. eoh, eonni.. terharu bacanya..
    bagus banget, feelnya dapat juga pula^^
    daebak eon^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s