RSS Feed

[Series] 2050 [1st Chaptered]

[1st Chaptered] 2050©2012

2050

Author                    : Han Hyema

Main Cast               : Park KAHI, Choi Minho, Park BOMI

Support Cast         : Henry Lau, Lee Taemin, and anothers supporting cast

Genre                      : Thriller, Romance, Sad-Angst

Rating                    : PG-15

A/N                          : Annyeong readers, Hye Comeback-senangnya bisa nulis lagi. Ada yang kangen? #PLAKK. Kali ini bawa series baru dengan genre baru. Buat yang nunggu The One. Mian-mian banget ide lagi macet, hehe. Jadi moga suka dengan series baru dari saya. Dan untuk ke sekian kalinya, Hye tegasin kalo FF yang Hye publish itu selalu 100% karya Hye sendiri. Selamat membaca.

————————————– Hyema Storyline ————————————-

Kahi SIDE, Distrik 11.

Sebuah bau busuk menyengat menusuk hidungku saat aku memasuki sebuah rumah di jalanan dekat statiun kereta api. Bau itu semakin menjadi saat aku menaiki tangga yang menuju kelantai tiga.

“Cukup sudah, aku akan menunggu di luar.” Ucap salah seorang bawahanku, Henry. Dia berlari cepat menuju lantai dasar dan segera menghilang.

Memandangnya pergi membuatku yakin bahwa dia benar-benar seorang polisi yang pengecut. Dan sekarang  aku mulai menyadari bahwa bawahanku berpikiran sama dengan Henry, ingin kabur tapi merasa mempunyai beban. Yah beban, ada sebuah misi dan mereka harus menyelesaikannya dengan pimpinan yang suka membentak dan menindas mereka sepertiku.

“Baiklah, ada yang ingin menyusul Henry ke bawah? Saya tidak akan melarang, karena jika kalian tetap memaksakan, aku takut kalian akan pingsan di atas dan itu akan merepotkanku.” Kataku kemudian  dan hal itu cukup membuat mereka kaget. Sungguh, ekspresi mereka lucu sekali.

“Aku akan hitung sampai sepuluh, jika kalian masih bersamaku ketika detik kesepuluh selesai, mau tidak mau kalian ikut, apapun resikonya.” Ancamku kemudian.

“Satu,” Dan lihat saja dua orang sudah menyusul Henry.

“Dua,” Sisanya nampak berpikir, aku membawa sekitar 15 personel  dan sekarang tinggal 13 termasuk diriku sendiri.

“Tiga, empat, lima, enam,” Sekarang tinggal 8 orang, waw kemana tujuh lainnya? Menyusul Henry  tepatnya.

“Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Time’s up.” Dan hasilnya hanya dua orang personel yang masih bersamaku. Sungguh fantastis anak buahku itu, penakut!

“Siapa nama kalian?” Tanyaku kemudian pada dua orang yang tersisa. Jangan heran kenapa aku tidak mengenal siapa anak buahku. Itu semua karena kebanyakan anak buahku hanya bisa bertahan paling lama dua bulan bersamaku, entah mereka tidak tahan dengan sikap arogansiku, atau mungkin di mutasi ke divisi lain, atau meninggal saat menjalankan misi. Namun harus ku akui paling banyak adalah meminta pemindahan diri karena tak tahan dengan diriku. Aku cukup tahu situasi.

“Park Bomi imnida,” Ucap personel perempuan dengan rambut terikat kebelakang yang  membentuk kuncir kuda. Dia terlihat kurus dan lemah, apakah ia belum tahu bagaimana aku bertindak? Mungkin aku harus mengujinya.

“Lee Taemin imnida,” Ucap personel laki-laki yang selalu memegang pistolnya erat-erat. Entah apa yang dipikirkannya, atau ini misi pertamanya? Jelas dia bukan personel kelas A seperti yang biasa ku minta. Ini memuakkan.

“Personel baru?” Tanyaku kemudian yang di hadiahi anggukan. Benar dugaanku.

“Baiklah, kalian sudah mengambil konsekuensi dengan berada di dekatku. Sekarang ikuti aku dan jangan coba-coba melakukan tindakan bodoh atau melanggar perintahku. Mengerti?” Mereka mengangguk  dengan serempak. Dan barulah aku tahu bahwa mereka personel baru yang taat pada pimpinan. Cukup baik di bandingkan dengan si pembangkang-Henry Lau.

Kami pun melanjutkan dengan menaikki setiap anak tangga yang terbuat dari kayu-kayu dengan kualitas yang tak cukup baik. Aku tak tahu apa namanya tapi kayu-kayu ini menimbulkan bunyi yang tak enak di dengar.

Dan sebuah pemandangan  tak berperi kemanusiaan pun hadir di mataku. Seorang laki-laki tertelungkup di lantai dengan beberapa pisau menghiasi punggung dan kakinya. Yang paling mengejutkan adalah sebuah pisau yang bertengger manis di kepala bagian belakangnya. Sungguh pemandangan  yang langka.

“Kalian bisa mengidentifikasi mayat kan?” Tanyaku kepada dua personel yang mematung di belakangku. Sungguh pemandangan yang terlalu biasa melihat personel baru yang melihat mayat dalam kondisi membusuk dan bergelimang pisau maupun darah.

“Bomi cukup baik melakukannya.” Ucap Taemin sambil memandang Bomi yang nampak terkejut  dengan di sebutkan namanya.

“Benar itu Bomi?” Tanyaku mencoba memastikan. Karena  aku tahu bahwa Taemin mencoba mengalihkan  identifikasi mayat pada Bomi. Dan benar saja, Bomi mengangguk terpaksa.

“Aku akan melakukannya.” Bomi mulai berjalan mendekati mayat laki-laki sambil mengambil sarung tangan dari sakunya dan mulai mengambil pisau-pisau yang berada di tubuh mayat. Harus aku akui ternyata dia cukup cekatan dalam hal mengidentifikasi mayat.

“Dia meninggal dua hari yang lalu, dini hari pukul 2 pagi dengan luka hantaman benda pukul di punggungnya.” Kini Taemin yang berkoar di samping Bomi, dia ternyata ikut mengidentifikasi mayat laki-laki itu. Baiklah, keduanya cukup baik.

“Cukup sudah. Taemin apa kau sudah mencatat detailnya? Bomi kurasa cukup dengan identifikasinya.  Sekarang Taemin kau pergi ke bawah dan perintahkan personel yang tadi kabur untuk membawa kantung jenazah dan meminta mereka menelepon ambulance secepatnya. Dan kau Bomi ikut aku mencari barang bukti.” Taemin turun kebawah sesudah ia mencatat detail TKP dan Bomi nampak membenarkan posisi mayat yang sekarang terlentang di lantai kayu yang terus berbunyi saat di injak. Benar-benar suara yang mengganggu.

“Tinggalkan mayat itu dan ikut aku.” Bomi pun melepaskan sarung tangannya yang sudah berlumuran darah yang menghitam. Menjijikan, memang.

Ambulance datang 20 menit kemudian. Mayat pun sudah di bawa untuk di fisum dan sekarang aku berada di ruang kelas kepolisian pusat.

“Cukup memuakkan melihat personel baru lebih unggul di bandingkan seniornya.” Sesudah menyerahkan berkas pembunuhan yang di ketahui korban bernama Lee Jung Soo yang berprofesi sebagai pengacara di sebuah firma hukum cukup terkenal di kota dan sekarang penyelidikan jatuh pada divisi lain sedangkan aku sedang lebih memilih berada di kelas mencoba memberi pengarahan pada personel yang memilih kabur tadi.

“Apa kalian tahu, ternyata mereka lebih baik daripada kalian. Apa tidak ada rasa malu pada diri kalian walau hanya sedikit, hah?!” Kedua personel yang sedang ku bicarakan sedang berada bersama inspektur Kim. Mereka sengaja tak ku masukkan dalam kelas supaya tidak terjadi kesombongan yang selalu melanda personel yang sedang di puji.

“Tapi kan Anda menyuruh kami pergi, jadi kami hanya menuruti-,”

“Cukup!” Si pembangkang itu sungguh benar-benar tak bisa di ajak menurut barang sekali saja.

“Itu hanya bahasa diplomasi saja, aku hanya ingin bertanya khususnya padamu Henry. Sudah berapa lama kau ikut aku, hah?” Dengan tanpa bersalah dia mengangkat tangannya yang membentuk angka tujuh.

“7 bulan, dan ku rasa kau cukup bisa mengajarkan personel lainnya bagaimana sikapku terhadap tindakan bodoh seperti itu.” Henry hanya diam. Sungguh pengecut bocah itu. Aku heran bagaimana ia bisa lolos seleksi kepolisian?

“Sebagai konsekuensi kalian harus ikut aku ke daerah Busan, ada misi baru. Dan kali ini aku tidak akan membiarkan seorang pun pergi dari sisiku.” Kini aku bisa tersenyum melihat ekspresi mereka yang berupa-rupa. Sungguh menyenangkan bisa melakukan hal seperti ini.

*

Sejak saat itu, Bomi dan Taemin menjadi personel tetap di divisi yang ku pimpin. Divisi yang ku tampuh adalah kejahatan kriminal pembunuhan yang selalu menjadi rangking satu tindak kriminal yang paling sering terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini.

Sedangkan Henry, si pembangkang itu pun masih menjadi bawahanku. Entah apa yang merasuki pikirannya sehingga ia bisa setia di sampingku. Bukankah aku selalu memarahinya?

“Ada sebuah telegram dari Badan Intelegen Negara.” Kata Henry sambil membawa sebuah kertas berembel-embel nama badan negara yang selalu mendapatkan penghargaan yang harusnya menjadi milik kepolisian, karena kamilah yang berhasil mengungkap banyak kasus kejahatan. Sungguh tak adil.

“Apa isinya?” Tanyaku acuh.

“Sebaiknya anda baca sendiri. Ini kelihatannya penting.” Ucap si pembangkang itu yang sekarang menjadi asistenku, entah apa yang merasukiku sehingga mengangkatnya menjadi asisten, padahal banyak personel yang lebih baik dari padanya.

Akhirnya aku mengambil telegram itu dan mulai membacanya. Tanganku bergetar melihat susunan huruf yang membentuk kata-kata mengerikan itu.

“Siapa yang mengirimkan telegram itu?”

“Seorang detektif muda bernama Choi Minho.” Ku mengerutkan keningku. Choi Minho. Minho Choi. Sepertinya aku tak asing mendengar namanya. Tapi siapa dia? Seorang detektif?

“Dia detektif yang memecahkan kasus pembunuhan Lee Jung Soo setahun yang lalu.” Ah, laki-laki ambisius itu. Aku ingat sekarang.

Choi Minho, detektif muda yang cukup menyebalkan dan seseorang yang memiliki ambisius tinggi. Apa yang dia lakukan di Badan Intelegen Negara? Dan mengapa dia mengirimkan telegram mengerikan itu?

Pintu terketuk dan muncullah gadis berkucir kuda dengan beberapa berkas kasus pembunuhan beberapa bulan belakangan.

“Miss Kahi, saya sudah mengecek semuanya dan hasilnya nihil.” Ini adalah jawaban atas pertanyaanku. Detektif itu dan telegramnya, apa yang harus ku lakukan sekarang?

“Bomi, kau ikut aku ke Badan Intelegen dan kita selesaikan kasus ini secepatnya.” Ada sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan seorang politikus yang cukup di segani di negeri ini. Kasus ini sudah terkatung-katung cukup lama dengan sedikit cahaya terang. Kasus ini harus di selesaikan akhir bulan ini, atau nasib kami yang menjadi taruhannya.

“Apa yang harus ku lakukan dengan telegram ini?” Henry menatapku meminta perintah.

“Acuhkan saja!” Telegram itu dan detektif ambisius itu, biar aku yang mengurusnya.

*

Minho Side, Badan Intelegen Negara.

“Tak ada jawaban,” Lapor asistenku untuk ke sekian kalinya.

“Positif, mereka tak mengirimkan jawaban.” Ulangnya seolah mempertegas kesimpulannya. Aku menghela nafas dan mulai membolak-balik berkas pembunuhan setahun yang lalu. Ini benar-benar mengerikan. Jika mereka (kepolisian) tetap tak mau melakukannya, nyawa rakyat akan jadi taruhannya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Asistenku mulai panik.

“Chen, coba kau hubungi mereka lewat saluran telepon. Pastikan penyadapnya terpasang.” Perintahku kemudian namun Chen diam dan tidak melakukan apapun.

“Aku perintahkan sekarang!” Teriakku padanya namun dia tetap diam dengan memandang ke belakangku seakan terkejut.

“Ku rasa Anda tidak perlu melakukannya Tuan Choi.” Sebuah suara terdengar nyaring di belakangku. Aku menoleh dan mendapati dua orang wanita sedang menatapku. Yang satu berdiri dan berbicara seolah menyindirku dan yang satu lagi diam sambil meneliti ruanganku seksama.

“Sungguh suatu kehormatan,” Sindirku pada wanita yang selalu menatapku meremehkan, Park Ji Young.

“Benarkah?” Wanita itu duduk di depanku dan di sampingnya di temani wanita lainnya yang selalu diam dan tidak berbicara apapun.

Aku mulai berjalan kembali ke meja kerjaku dan menyuruh Chen keluar. Kini tinggal kami bertiga. Harus ku akui, sungguh menyenangkan menerima kunjungan darinya namun ada sedikit perasaan was-was menghadapinya. Ia terkenal sangat detail dan tentu saja menyebalkan.

“Kau sungguh berani Detektif Choi, telegram itu, ku akui kau sungguh berani melakukannya.” Katanya memulai perbincangan. Tangannya menengadah dan gadis di sampingnya memberikan sebuah berkas yang entah apa isinya.

“Ya, mau tak mau aku harus melakukannya. Ku rasa Anda mengerti situasi yang terjadi, Miss Kahi?” Nama wanita itu Park Ji Young, namun dia lebih suka di panggil dengan sebutan Kahi, dan aku memanggilnya Miss Kahi, karena sampai sekarang ia belum menikah.

“Situasi apa yang membuatmu mengirim telegram berlebel TOP SECRET dua-kosong-lima-kosong.” Ucap Miss Kahi dengan penekanan pada kata ‘TOP SECRET’ dan ejaan yang berlebihan pada 2050.

“Ku rasa Anda perlu memahami kejadian setahun yang lalu tentang kematian pengacara Lee Jung Soo.” Gadis sebelahnya tersentak dan hal itu membuat Miss Kahi menoleh kaget padanya.

“Ada apa Bomi?” Miss Kahi bertanya pada gadis itu yang ternyata bernama Park Bomi. Yang baru ku ketahui adalah salah satu personel yang mengidentifikasi mayatnya dan mengungkap banyak bukti pada para panitera di kejaksaan.

“Tidak apa-apa.” Ucap gadis itu kemudian dan hal itu membuat Miss Kahi menatapnya menyelidik. Miss Kahi kemudian beralih menatapku dengan pandangan sama.

“Kasus itu sudah di tutup setahun yang lalu dan kau yang mendapatkan publisitas TINGGI karenanya pasti mengetahui banyak dan kenapa melibatkan kami yang hanya menyelidiki separuh dan di paksa berhenti olehmu-pada saat itu.” Ucap Miss Kahi dengan lagi-lagi menyindirku.

“Dan jika dengan sangat sadarnya kau memasukkan kata-kata mengerikan dalam telegram itu, pastinya kau tahu konsekuensinya.” Ingin rasanya aku berteriak, ‘Aku tahu apa yang ku lakukan!’ Tapi ada sebuah dorongan yang kuat untuk menahannya. Aku tahu posisiku sekarang.

“Jika yang mengirim telegram itu Menteri Pertahanan, Perdana Menteri, atau bahkan Presiden, aku bisa paham dan mengikuti instruksi seperti di biasanya. Namun kau yang mengirimnya dan menambahkan dua-kosong-lima-kosong, kurasa ini tak masuk akal.” Dan inilah puncaknya untuk memberitahu mereka apa yang sebenarnya terjadi, mereka nampak tak tahu apa-apa. Tapi dalam lubuk hati terdalamku, aku tahu mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Di lihat dari sikap gadis yang bersama Miss Kahi, ia nampak kebingungan dan was-was.

“Wah, Miss Kahi ada sesuatu yang perlu anda ketahui. Telegram itu atas perintah seorang staf yang bekerja di bidang kripto yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Pertahanan.” Miss Kahi tersenyum mendengarnya.

“Lanjutkan,” Perintahnya kemudian,

“Kasus Lee Jung Soo hanya permukaannya saja. Tentu saja Anda mengingat kasus pencurian harta nasional Korea enam bulan yang lalu, yang nampaknya tidak  di tangani divisi Anda. Lee Jung Soo dan pencurian itu ternyata masih berkaitan. Termasuk juga dengan kasus yang sedang Anda tangani. Kematian politikus Han Soo Bin.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Walau memang berkaitan, apa aku harus menyetujui isi telegram itu? Aku tak ingin membiarkan kasus-kasusku di tangani olehmu. Kita memiliki pekerjaan yang berbeda dan maka Kau seharusnya,-” Belum sempat dia melanjutkan, aku sudah memotong kata-katanya. Jujur, aku benar-benar muak mendengar perkataannya. Dia berkata seolah aku yang selalu membuat setiap kasus yang ia tangani lenyap begitu saja.

“Berbeda pekerjaan tetapi selalu menangani kasus yang sama. Aku tidak bodoh Miss Kahi.” Kini Miss Kahi terdiam dan dia memejamkan matanya. Nampaknya ia sedang berpikir.

“Jadi Detektif Choi, Anda menginginkan Miss Kahi bergabung dalam tim penyelidik . Lalu bagaimana dengan nasib divisi kami?” Bomi angkat bicara setelah dia berdiam mematung.

“Bukan hanya Miss Kahi, namun seluruhnya. Miss Kahi dan anak buahnya. Ku rasa sungguh di sayangkan jika anak buah yang pintar sepertimu di sia-siakan.” Bomi tak merespon apapun perkataanku.

“Ku rasa Anda terlalu berlebihan.” Jawabnya datar. Sungguh dia gadis yang menarik.

“Detektif Choi, sebelum saya memutuskan. Saya ingin bertanya, apa Anda paham betul dengan dua-kosong-lima-kosong?” Tanya Miss Kahi masih dengan posisi yang sama. Memejamkan matanya sambil menjentik-jentikan jarinya di lengan kursi yang ia duduki.

Suasana menjadi menghening. Kedua orang di depanku menunggu jawabanku. Sedangkan aku selalu menatap keduanya sambil menyusun kata-kata yang tepat. Mereka sungguh cerdik, aku terjebak.

“Dua-kosong-lima-kosong, itu adalah …..,”

*

 ———————————To Be Continued …, — Hyema storyline ———————————

NB : Apa ada yang bingung dengan kata-kata yang aku gunakan? Terlalu formal? Ah, benar. Saya selalu menggunakan kata-kata formal. Apa ada typo? Mian-mian, saya akan berusaha lagi memperbaiki kualitas menulis saya. Apa ada saran? Tolong bantu saya di page comment. Kamshahamnida.

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

4 responses »

  1. great story! aku bisa merasakan ketegangannya. baca cerita ini hawanya mirip pas nonton NCIS CSI atau Criminal Minds. daebak~! aku harap cerita ini dilanjutkan ^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s