RSS Feed

[FF Request] The Crazy Engagement Part 2A

The Crazy Engagement – Chapter 2A

Oh Sehun | Seo Joohyun | Choi Sulli | Lee Donghae | TAO

Oh Family | Seo Family

PG-15 | Twoshoot

Han Hyema Storyline & cr-pic to MissFishyJazz

Preview Chapter 1

“Apa kau gila?! Aku tak mau!” Tolak Seohyun mentah-mentah.

“Hai apa kau kira aku mau melakukannya? Ini demi kebaikan Eommaku. Jika setelah itu keadaannya mulai membaik. Kita pikirkan cara lain.” Sehun berusaha membujuk Seohyun agar mau mengikuti rencananya.

“Apa tidak ada cara lain?” Seohyun yang sedari tadi merasa bersalah pun masih keberatan dengan rencana gila milik Sehun itu.

“Tidak ada. Itu satu-satu cara yang membuat ibuku merasa lebih baik dan kita tidak perlu melakuakan hal gila yang orangtua kita rencanakan.”

“Dengan pura-pura bertunangan begitu?” Tanya Seohyun sinis dan Sehun mengangguk pasti.

 

Sebelumnya saya mau mengucapkan Jeongmal Mianhaeyo buat yang nunggu FF ini. Sebenarnya dari dua minggu yang lalu udah jadi. Tapi ya itu laptop saya rusak dan ini juga saya bajak laptop ayah. Buat Ega moga suka ya? Menurut saya ini sudah bagus tapi gak tahu buat kalian semua. Moga suka dan mian lama^^

HAPPY READING ALL^^

Hal yang benar-benar memuakkan telah di putuskan keduanya. Mata Seohyun benar-benar ingin menangis karena kesalnya akan tindakan yang ia anggap begitu bodoh. Dan lebih bodoh pula ia melakukannya. Sedangkan manusia pembawa rencana menghebohkan itu sedang asik tersenyum di depannya. Mungkin bukan tersenyum. Hanya sekedar pura-pura tersenyum ramah.

Semuanya berawal pada sebuah keputusan untuk berpura-pura bertunangan demi ibunda Sehun, Nyonya Oh. Rencana ini di susun oleh Sehun dan di perankan olehnya dengan tambahan pemain Seohyun. Cukup menarik dan dengan scenario yang belum di tentukan. Dan kalian ingin mendengar apa yang di katakan Seohyun?

“Apa kau ingin membunuhku, hah?”Suaranya yang sejujurnya merdu berubah menjadi galak. Ia benar-benar tak habis piker dengan ide gila yang entah datang dari mana itu. Apakah itu terinspirasi dari sebuah drama? Oh, itu buruk jika benar adanya.

Satu hal yang membuat Seohyun amat murka ketika berita pertunangan itu sampai di dengar oleh orangtuanya dan tak lupa pula kedua orangtua Sehun. Saat itu malam menjelang ketika Nyonya Oh selesai periksa darah di laboraturium rumah sakit. Sehun mendorong-dorong tubuh Seohyun untuk segera maju.

“Kau kan namja! Kenapa harus aku?”Teriak Seohyun.

“Aish. Untuk yang satu ini-”Ucapan Sehun terpotong saat Nyonya Seo membuka pintu kamar ruang inap Nyonya Oh.

“Apa yang kalian berdua lakukan?”Tanya Nyonya Seo penuh menyelidik. Seohyun menatap Sehun tanda ia benar-benar tak mau.

“Ada yang Sehun ingin bicarakan padamu, eomma.”Ucap Seohyun sambil mendorong bahu Sehun maju kedepan dan berbicara dengan ibunya.

“Eh?”Sehun langsung gelagapan. “Ah aniyo. Tidak ada yang ingin aku katakan.”Ucap Sehun kemudian. Namun Nyonya Seo tetap memaksa dengan segala cara dan akhirnya Sehun mengatakannya juga.

“Kami akan bertunangan.”Ucap Sehun pasrah. Dan tak ada ekspresi dari raut muka Nyonya Seo. Ia hanya berkata. “Tunggu di luar.” Kemudian Nyonya Seo kembali ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat.

Seohyun dan Sehun hanya terdiam sesaat. Mereka terkejut dengan reaksi Nyonya Seo. Lalu tak lama menjelang, kini giliran ayah Sehun yaitu Tuan Oh membuka pintu kamar.

“Kalian masuk sekarang.” Ucap beliau.

Sehun masuk mendahului Seohyun. Ia tahu bahwa ini semua rencananya dan setidaknya ia harus mempertanggungjawabkan semua itu. Seohyun hanya mengikuti dari belakang. Ia hanya bisa memandang punggung Sehun berharap ini akan menjadi hal baik dan tidak seburuk angan-angannya.

“Kalian akan bertunangan besok.” Ucap Nyonya Oh –Eomma Sehun- sesaat setelah keduanya berdiri di samping tempat tidurnya. Sehun anda Seohyun menatap satu sama lain. Dilihat dari ekspresi keduanya, maka kedua orangtua masing-masing tahu bahwa mereka tidak bisa menutupi keterkejutannya.

“Apa kalian tidak mau?” Ucap Nyonya Oh kemudian. Matanya yang di kelilingi warna hitam itu menatap anak satu-satunya dengan tatapan penuh harap.

“Baiklah.” Sehun berkata dengan pasrahnya. Seohyun yang ternyata benar-benar terkejut hanya bisa menyenggol Sehun tanda ia tidak setuju. ‘Ini begitu .. Ini begitu gila!’ Setidaknya itu yang diteriakkan Seohyun dalam hatinya. Sejujurnya Seohyun benar-benar tidak menginginkan pertunangan itu tapi rasa bersalahnya mengalahkan semua egonya.

FLASH BACK—END

Keduanya masih saling menatap benci. Walaupun pertunangan itu sudah di laksanakan sehari yang lalu. Kedua orangtua Seohyunpun menyadari hal itu. Mereka tahu dan mereka hanya terdiam membiarkan hal itu terjadi.

“Kapan Nyonya Oh akan pulang?” Tanya Nyonya Seo pada calon menantunya itu –Sehun-. Sehun pun tersenyum dan menjawab mungkin lusa beliau akan pulang. Suaranya terdengar ramah. Walaupun itu hanya pura-pura. Setidaknya itu yang diyakani oleh Seohyun.

“Oh benarkah? Seohyun ayo besok kau pergi ke kediaman Keluarga Oh dan bantulah Sehun untuk menata rumah.” Ucap Nyonya Seo yang di amini oleh Tuan Seo.

“Mwo?” Mata Seohyun langsung menatap kedua orangtuanya. Ia benar-benar  TIDAK SETUJU.

“Apa kau tak mau membantu? Setidaknya kau bisa membantu sesuatu untuk  menyambut kedatangan mereka kan?” Seohyun hanya bisa mengulum senyum dan ia pun mengangguk seakan setuju walaupun terpaksa.

Sehun hanya tersenyum sinis menanggapinya. Ia tahu Seohyun terpaksa.

“Buat sebuah persiapan yang cantik oke?” Ucap Nyonya Seo dan Sehun hanya mengangguk.

“Dan tolong antarkan Seohyun pulang. Kami akan tinggal disini untuk beberapa waktu.” Ucap Tuan Seo pada Sehun.

“Baiklah.” Ucap Sehun dan la lagi-lagi tersenyum ramah dan tentu saja pura-pura ramah pada kedua orangtua Seohyun.

Keesokan harinya dengan wajah masam Seohyun berkunjung ke rumah kediaman Keluarga Oh. Ingatannya menerawang saat pertama kali ia menjejakkan kaki di kediaman keluarga Oh ini.

‘Sudah tiga belas tahun ya?’ Ucapnya pada diri sendiri. Hatinya yang begitu benci pada Sehun berubah menjadi lebih benci ketika mengingat masa kecil mereka. Ada sebuah kekecewaan yang membuat Seohyun memutuskan untuk membenci Sehun untuk selamanya.

Seohyun memencet bel rumah. Namun tidak ada satu orang pun menjawab.

“Apa kau mencoba mengerjaiku?” Gumam Seohyun dan ia pun memencet bel kembali. Kali ini beberapa kali lebih banyak. Seohyun mulai kehabisan kesabaran.

“Jika bukan karena Nyonya Oh, aku tidak akan seperti sekarang.” Gumamnya lagi. Namun Tanpa ia sadari Sehun melihatnya dari lantai dua. Sehun tersenyum melihat tingkah Seohyun yang sedang marah. Kali ini bukan senyum sinis atau senyum pura-pura. Namun sebuah senyum tulus untuk gadis yang ia benci.

“Kenapa kau tak pernah berubah.” Ucap Sehun dan membalikkan badan menuju lantai satu untuk membukakan pintu bagi gadis yang selalu saja membuat Sehun merasa benci.

Seohyun menatap sebal saat pintu pagar terbuka sendiri. Di sana berdiri seorang laki-laki yang ia anggap paling menyebalkan di dunia ini. Wajahnya kian menjadi sebal saat seonggok manusia tak berperi kemanusiaan itu menunjukkan senyum yang menurut Seohyun menghinanya. Namun justru itu adalah senyum tulus dari mahkluk yang paling ia benci.

“Apa kau ingin membunuhku, hah?” Teriak Seohyun sambil memasuki rumah dengan halaman luas dan dihiasi aneka tanaman hias dari berbagai negara.

“Di tengah musim panas bulan agustus dan aku berdiri seperti anak hilang, apa itu membuatmu puas Tuan Oh muda?” Seohyun berkacak-pinggang di depan Sehun yang kali ini tertawa sinis.

“Itu salahmu, kau terlambat setengah jam lebih 24 menit. Kenapa aku tak sekalian menggenapkannya menjadi satu jam saja.” Ucap Sehun sambil berlalu pergi menuju pintu masuk. Sedangkan Seohyun hanya terdiam marah.

“Apa kau senang berjemur matahari?” Tanya Sehun yang sudah berada di dalam rumah. Tangannya memegang kenop pintu agar tetap terbuka.

“Ya!! Sehun!” Teriak Seohyun sambil menghambur masuk ke dalam rumah.

Seohyun menampakkan keterkejutannya setelah memasuki kediaman Keluarga Oh. Betapa tidak? Seluruh ruangan sudah di bersihkan dengan rapi. Padahal hanya ada Sehun dirumah itu. ‘Apa Sehun yang membersihkan semua ini?’ Pikir Seohyun. Seakan tahu isi pikiran Seohyun, Sehun pun menyuruhnya ke dapur.

“Kini giliranmu. Kamu yang memasak.” Ucap Sehun yang sudah berada di dapur membawa satu kantung penuh sayuran.

“Apa kau bercanda? Apa kau kira aku berpikir bahwa yang membersihkan rumah ini adalah dirimu sendiri dan karena aku berpikir seperti itu makanya aku harus memasak untukmu?” Sehun menggelengkan kepala dan meletakkan kantung penuh sayuran itu di atas meja.

“Tidak. Memang bukan aku yang membersihkan. Karena sejujurnya aku tidak mau terlibat apapun denganmu. Nanti aku dituduh dengan sesuatu hal yang tidak pernah aku lakukan.” Ucap Sehun dan hal itu membuat Seohyun tidak nyaman.

“Jangan membawa masa lalu Tuan Oh muda.” Sehun tertawa sinis.

“Kau ke sini untuk membantu, bukan? Jadi setidaknya kamu memasak. Itu bukan hal sulit bagimu yang katanya JAGO memasak, bukan?” Sehun kembali berucap dengan penekanan pada kata JAGO.

“Baiklah aku akan memasak. Namun ini demi kehidupanku yang harus menanggung rasa bersalah pada Ibumu. Jadi jangan ganggu aku.” Ucap Seohyun sambil mengambil kantung plastic dan melihat isi di dalamnya. Sehun yang melihat hal itu langsung berkeinginan untuk kabur. Namun hal itu di cegah oleh Seohyun.

“Tapi setidaknya aku tidak membiarkanmu ongkang-ongkang kaki di belakangku. Bagaimana jika kamu menyusun rencana agar pertunangan ini batal, Tuan Oh muda. Atau aku akan memasukkan obat pencuci perut pada makananmu.” Ancam Seohyun yang membuat Sehun tertawa sinis.

“Berikan aku laporannya jika kau sudah selesai. Apabila belum selesai saat aku sudah selesai memasak, mungkin aku tidak akan memasukkan obat pencuci perut namun aku akan membawa pulang seluruh masakan yang ada dan membagikannya ke jalanan.” Ini ancaman kedua Seohyun yang membuat Sehun amat jengah.

“Baiklah. Tapi selama aku di atas dan membuat laporan itu, jangan mengambil apapun di rumahku!” Ucap Sehun membalas ancaman dari Seohyun. Hal ini membuat Seohyun tidak nyaman lagi. Kata-kata yang di keluarkan saat Sehun kesal itu adalah kata-katanya –Seohyun- pada Sehun tiga belas tahun yang lalu.

“Karena aku bukan dirimu. Jadi aku tidak akan melakukannya.” Balas Seohyun kemudian. Dan hal itu berhasil membuat Sehun pergi dengan raut muka kesal.

‘Aku bukan orang seperti itu!’ Teriak Sehun dalam hati.

*

Di tempat lain. Donghae sedang menunggu seseorang teman lamanya yang baru saja kembali dari China.

“Kau selalu tepat waktu.” Ejek Donghae pada seorang laki-laki yang baru saja sampai dengan taksi bandara.

“Jangan salahkan aku Tuan Lee. Salahkan jadwal penerbangan yang di tunda.” Ucap laki-laki itu dengan ekspresi antara marah dan senang.

“Apakah di negaramu musim salju? Mengapa harus ditunda? Apa kau menggoda salah satu pramugari sehingga kau di keluarkan dari pesawat dan terpaksa menunggu pesawat selanjutnya?” Laki-laki itu terlihat bertambah kesal.

“Aku bukan pria sepertimu. Aku pria baik-baik.” Ujar laki-laki itu sambil duduk dan menyeret kopernya di sebelahnya.

“Ne, Kau benar-benar pria baik, Tao-ah.” Ujar Donghae dengan nada sinis. Sedangkan pria yang di panggil Tao hanya menyengir senang.

Tiba-tiba saja seorang pelayan datang dan menanyakan pada keduanya apa yang ingin di pesan. Dan dengan santainya Donghae menjawab dua coklat panas. Hal itu membuat Tao menyerngitkan dahi.

“Hyung sejak kapan suka coklat panas?” Donghae tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia sudah bisa menebak reaksi yang akan Tao berikan.

“Sejak gadis itu selalu mengajakku ke kedai coklat.” Donghae sengaja memancing Tao untuk membicarakan seorang gadis yang sejak tiga belas tahun lalu ia sukai.

“Oh, terima kasih sudah menjaganya dan semoga bisa untuk selamanya.” Ucap Tao kemudian. Donghae bingung dengan perubahan raut muka Tao yang biasanya sangat antusias jika membahas gadis itu.

“Apa maksudmu? Jangan berkata seakan kau ingin meninggalkannya.” Ucap Donghae kemudian.

“Hyung, aku tidak tahu bagaimana menceritakannya. Namun tanpaknya aku tidak akan bersamanya. Ini terasa sulit untuk aku jalani. Tapi ternyata aku benar-benar tidak bisa bersamanya.”

“Jangan berbicara berputar-putar. Aku tidak mengerti maksudmu.” Protes Donghae.

“Aku di jodohkan.” Donghae terdiam.

“Kenapa kalian begitu sama?” Runtuk Donghae.

“Apa maksudmu hyung?”

“Seohyun juga di jodohkan.”

“Syukurlah. Dengan begitu aku mempunyai alasan untuk melepasnya.” Ucap Tao tabah. Donghae menatap wajah Tao seakan tak mengerti. Donghae benar-benar mengerti akan tindak-tanduk yang biasanya Tao lakukan. Tapi untuk yang satu ini, setidaknya jangan berpura-pura tabah dan ikhlas. Gumam Donghae pada diri sendiri.

“Jangan berpura-pura. Aku tahu kau tidak bisa melepaskannya setelah apa yang kita lakukan untuk memisahkan saingan terberatmu itu. Kau sudah berjalan jauh dan akan sangat lama jika kau kembali.”

“Tapi aku harus bagaimana? 3 hari lagi aku akan menikah di sini.” Donghae tersentak kaget. ‘Menikah?’ Pikirnya.

“Apa maksudmu? Menikah? Aku tidak mengerti.”

“Ne. Aku akan menikah tiga hari lagi dengan seorang gadis bermarga Choi. Kami sudah di jodohkan sedari kecil dan kami tidak bisa menolak. Walau kami mau.”

“Kenapa kalian begitu sama?” Runtuk Donghae untuk kedua kalinya. “Seohyun juga demikian.” Tao tersenyum.

“Itu tandanya kami tidak berjodoh sejak awal. Walaupun aku berusaha untuk mencapainya. Namun tetap saja tidak akan berubah hasilnya. Dia akan menjadi milik orang itu dan aku akan menjadi milik gadis lain.” Ujar Tao dengan ikhlasnya.

“Tapi apakah kau akan rela jika orang itu adalah saingan terberatmu sendiri?” Tao memandang hyungnya dengan rasa kaget yang tidak bisa di ungkapkan.

“Jangan katakan bila orang itu adalah ..” Tao tak bisa melanjutkan kata-katanya. Donghae tahu jika Tao tidak akan rela bila Seohyun bersama dengan orang itu. Usaha keduannya –Donghae & Tao- akan benar-benar menjadi sia-sia. Jika hal itu terjadi.

“Benar. Orang itu adalah Oh Sehun.” Tao hanya bisa terdiam. Ia begitu terkejut dan ia juga begitu tak rela. ‘Siapapun. Asal bukan Oh Sehun.’ Ucapnya dalam hati.

*

Seohyun sedang menata makanan di meja makan saat sebuah bel terdengar dari luar rumah. Ia pun melangkahkan kakanya ke pintu rumah dan melihat siapa yang datang. Matanya terbelalak saat mendapati seorang gadis dengan rambut terurai dan senyum yang terus mengembang menampakkan diri di depan monitor. Segera saja ia memencet tombol buka pintu dan gadis itu masuk ke dalam rumah.

Tak berbeda jauh dari Seohyun. Gadis itu juga nampak terkejut dengan adanya Seohyun di rumah itu. Terlebih lagi Seohyun mengenakan celemek memasak.

“Kau jangan salah paham dahulu. Aku hanya membantu untuk memasak karena Nyonya Oh akan pulang dari rumah sakit.” Ucap Seohyun.

“Apakah beliau sedang sakit? Tenang saja aku tidak apa-apa. Kau begitu baik Seohyun eonni.” Ucap gadis itu seraya tersenyum manis. Berbeda dengan Sehun yang selalu berpura-pura tersenyum ramah atau manis. Kali ini Seohyun yakan bahwa senyum dari gadis itu 100% tulus.

“Silahkan duduk Sulli-ah. Aku akan memanggilkan Sehun.” Langkah Seohyun terhenti saat Sulli berkata jangan.

“Lebih baik kau tidak memanggilnya. Karena sejujurnya aku tidak mau bertemu dengannya. Namun apa aku boleh minta tolong sesuatu padamu?” Pinta Sulli. Seohyun hanya memandang gadis itu dengan tatapan tidak mengerti. ‘Jika kau tidak ingin bertemu dengan makhluk itu. Kenapa kau datang kemari?’

“Tentu saja.” Sulli tersenyum manis dan memberikan sebuah undangan pada Seohyun.

“Tolong berikan kepadanya.” Seohyun menerima undangan itu dan betapa terkejutnya bahwa itu undangan pernikahan Sulli.

“Kau akan menikah?” Sulli mengangguk.

“Aku sama sepertimu yang di jodohkan. Jadi beginilah akhirnya aku putus dengan Sehun dan menikah tiga hari lagi.” Terang Sulli. Seohyun hanya terdiam. Ia berangan-angan, ‘Apakah aku akan berakhir sama?’

“Tolong berikan kepadanya.” Pinta Sulli kemudian. Seohyun pun mengangguk. Dari balik hatinya, Seohyun benar-benar merasa iba pada Sulli dan Sehun yang tidak dapat bersatu karena di jodohkan dengan pihak lain. Dan lucunya karena ia juga terlibat dalam hal itu.

“Aku minta maaf.” Ucap Seohyun kemudian.

“Kau tak perlu. Kau tak mempunyai salah apapun.” Ucap Sulli kemudian dan ia pamit pergi.

Sebelum pergi Sulli berpesan untuk menjaga Sehun. Entah itu saat perjodohan itu berhasil atau tidak. Karena Sulli percaya jika Seohyun adalah orang baik dan bisa menjaga Sehun dengan baik pula.

Pesan itu hanya ditanggapi Seohyun dengan diam. Ia tidak bisa berkata iya ataupun tidak. Karena kenyataannya, ia benci Sehun namun ia juga merasa iba padanya.

Selepas Sulli pergi, Seohyun melepas celemeknya dan menaruhnya di atas kursi meja makan. Seohyun masih menggenggam undangan itu dan ia menatap undangan itu dengan perasaan iba.

‘Apa yang harus aku lakukan? Ini bukan urusanku tapi aku merasa aku harus menyampaikannya dan entah apa tanggapannya. Tapi yang penting aku memberikan undangan ini, bukan? Ah benar ini bukan urusanku dengan tanggapan manusia menyebalkan itu’.

Akhirnya Seohyun memutuskan untuk memberikan undangan itu pada Sehun. Ia manaiki tangga dengan langkah ragu. Sesampainya di lantai dua, Seohyun melihat Sehun sedang tertidur di atas sofa. Wajahnya terlihat lelah dan walaupun ada wajah menyebalkan juga di sana.

Mata Seohyun berhenti di sebuah kertas di atas meja dekat sofa dimana Sehun tertidur.

‘Ternyata kau benar-benar melakukannya.’ Ucap Seohyun dengan nada lemah. Entah kenapa sekarang rasa bencinya berubah jadi iba. Seohyun mengambil kertas itu dan membacanya. Ia agak tersenyum miris melihatnya.

‘Apa rencana ini akan berhasil?’ Ucapnya sangsi. ‘Aku harap itu akan berhasil.’ Ucapnya lagi dalam hati.

Ia pun mengambil kertas itu dan melipatnya serta menaruhnya ke saku. Dan meletakkan undangan itu di tempat tadi kertas itu tergeletak.

‘Aku percaya kau bisa menerimanya. Semoga kita tak berakhir seperti itu. Karena aku akan semakan membencimu jika hal itu terjadi.’ Ucap Seohyun dalam hati. Ia pun meninggalkan Sehun yang masih dalam keadaan tertidur dan memilih turun kembali ke lantai satu dan mengambil tasnya.

Seohyun melangkah ke pintu depan hendak pulang dengan perasaan tak menentu. Benci dan iba. Dia benar-benar tak bisa mengerti akan sikapnya yang sekarang. Apa dia benci atau rasa itu berubah menjadi iba karena hubungan Sehun dan Sulli yang berakhir sad ending dan hal itu juga mungkin akan menimpanya jika rencana itu tak berhasil.

Seohyun menggerakkan kenop pintu dan melangkahkan kaki keluar. Sebelum benar-benar menutup pintu ia berucap dalam hati, ‘Makanlah dan jadilah orang yang lebih bijak dan jangan menyebalkan lagi!’

*

Sehun menggeliat malas dan mendapati hari telah malam saat ia terbangun dalam tidur dengan posisi yang tak biasa. Ia tidur di sofa seperti bayi yang meringkuk di dalam kandungan. Dan itu membuat tubuhnya terasa sakit dan kram. Ia terhuyun saat berdiri dan menyalakan lampu. Hari benar-benar telah gelap dan wajar saja itu terjadi karena senja telah tenggelam pukul setengah delapan malam dan sekarang pukul delapan lebih tujuh belas menit.

“Lapar.” Gumamnya tak jelas. Ia pun melangkah turun dengan mulut terus menguap. Sesampainya di bawah, ia mendapati meja makan penuh dengan makanan yang telah dingin. Dan saat itu juga ia baru teringat akan Seohyun.

“Seohyun?” Teriaknya. Ia memanggil-manggil nama Seohyun berulang-ulang dan tidak ada jawaban sama sekali.

“Apa dia sudah pulang?” Gumamnya lagi. Dia pun menggedikkan bahu dan melangkah ke dapur untuk menghangatkan makanan dan memakannya di meja makan.

Selepas itu ia pun memilih untuk mandi. Dan selepas mandi ia pun berganti pakaian dan hendak menuju rumah sakit menemui ibunya –Nyonya Oh-. Saat mengambil kunci ia pun menemukan undangan di tempat ia menaruh kertas rencana pembatalan pertunangannya.

Sehun pun membuka undangan itu dengan perasaan cemas. Ia takut hal yang paling di takutkannya terjadi. Dan ia menemukan hal menakutkan itu di sana. Choi Sulli akan menikah dengan seorang pemuda bernama Edison Huang. Sehun tercekat sesaat. Ia terkejut dengan undangan dari pacarnya atau mungkin sekarang bisa di sebut mantan pacarnya. Yang kedua ia terkejut dengan mempelai prianya yang ia yakani adalah orang yang tak asing baginya. Namun dia itu siapa?

Sehun meremas undangan itu dan segera mengambil handphone untuk menghubungi Seohyun. Karena ia yakan yang menaruh undangan itu adalah Seohyun. Dan yang membuat Sehun marah adalah karena Sehun tak membangunkannya saat ia menerima undangan itu.

“Yoboseyo?”  Suara Seohyun terdengar dari seberang sambungan.

“Siapa yang mengantarkan undangan itu?” Tanya Sehun langsung. Seohyun hanya terdiam dan ia tak tahu harus menjawab pertanyaan itu bagaimana.

“Cepat katakan!” Teriak Sehun dari seberang telepon. Seohyun masih terdiam.

“Jangan katakan itu dari Sulli! Ayo jawab!”

“Dan kau tak memberitahuku pada saat ia memberikan undangan itu? Apa kau tak tahu itu penting bagiku?” Seohyun meneteskan air mata. Ia tahu perasaan Sehun dan ia sangat bersalah. ‘Maafkan aku.’ Ucapnya di hati. Namun ia belum berani mengutarakan itu pada Sehun.

“Kau tahu. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggantika posisinya. Dan itu termasuk dirimu.” Seohyun mengangguk. ‘Aku tahu.’

“Baiklah jika kau tak mau mengatakannya. Aku akan ke sana dan bertanya apa yang ingin aku tanyakan. Dan kau tak usah mencampuri urusanku lagi.” Sambungan terputus seketika. Sekelumit perasaan cemas dan was-was menghampiri Seohyun.

‘Apa yang akan di lakukan bocah bodoh itu?’

*

Dengan langkah terburu Sehun mendatangi sebuah rumah mewah. Tangannya mengenggam erat sebuah undangan yang membuatnya kesal.

‘Kau sedang berusaha untuk membuatku marah, bukan? Ini hanya lelucon, bukan?’

Ingin rasanya Sehun bertanya seperti itu. Namun sungguh sayang. Ketika sampai di rumah itu, ia tidak menemukan siapapun. Kosong dan senyap. Sehun hanya bisa tersenyum miris untuk dirinya sendiri.

‘Kau benar-benar berhasil membuatku marah. Jadi tolong hentikan semua ini. Aku sudah marah dan kesal. Jadi tolong hentikan semua ini.’

Mata Sehun tak pernah lepas dari sebuah jendela di sudut kanan rumah itu. Sebuah jendela yang mengingatkannya pada seorang gadis yang benar-benar sangat ia cintai –Sulli- yang kini mencampakkannya. Atau mungkin ia yang mencampakkan gadis itu. Entahlah. Namun yang pasti kedua-duanya saling mencampakkan satu sama lain. Karena satu hal –Perjodohan-.

                ‘Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menghentikan pernikahanmu? Apa itu yang ingin aku lakukan untukmu? Tapi kenapa kau mengantarkan undangan ini ke rumahku?’

Sehun terus mengenggam erat undangan itu, sampai Tanpa sadar undangan itu sudah tertekuk dan rusak akibat begitu eratnya genggaman Sehun.

‘Apa aku harus datang dengan rasa sakit ini dan melihatmu menikah dengan orang lain yang bukan diriku?’

Sehun membuang undangan itu tepat di depan pintu gerbang rumah Sulli. Wajahnya benar-benar sedih dan kesal. Ia benar-benar tak mengira akan terjadi hal segila ini. Sebuah perjodohan yang membuatnya mencampakkan dan dicampakkan orang lain. ‘Ini benar-benar GILA.’ Runtuknya dalam hati.

‘Jangan pernah memaksaku untuk datang jika kau menginginkan hal itu. Aku tak cukup kuat dan kau tahu itu.’

Dengan tubuh terhuyun Sehun pulang dengan langkah demi langkah yang terus mengenang kisah cintanya dengan seorang gadis menyenangkan bernama Choi Sulli.

*

Seohyun dengan perasaan was-was menunggu di depan rumah Sehun. Setelah pembicaraan keduanya di telepon yang berakhir dengan perginya Sehun ke rumah Sulli walaupun hari sudah tengah malam.

‘Apa yang ia lakukan di sana? Apa dia membuat keributan?’

Kini Seohyun tak mempedulikan bahwa Sehun adalah orang yang paling ia benci ketika rasa iba itu mulai muncul. Terlebih lagi Seohyun juga ikut merasa bersalah. Seohyun merasa walaupun sedikit, ia juga turut menyumbang akan pisahnya Sehun dengan Sulli. Hati kecilnya benar-benar merasa bersalah. Walaupun tak dapat di pungkiri bahwa Seohyun setengah mati ingin melawan rasa bersalah itu dan bersikap cuek. Namun ia tak dapat melakukannya.

‘Sebegitukah besarnya kau menyukai gadis itu? Dia memang gadis yang baik. Aku mengakui itu.’

Akhir musim panas memang terasa dingin saat malam datang. Ah, Seohyun pun merasakan hal yang sama. Dia berada di depan rumah orang lain –Sehun- Tanpa menggunakan jaket yang tebal atau benda lain yang setidaknya membuatnya tetap merasa hangat. Walaupun begitu Seohyun belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia masih terlalu khawatir dengan Sehun.

‘Dia tidak akan bunuh diri, bukan? Ah, jika itu terjadi aku akan semakan bersalah.’

Seohyun mengamati sekeliling untuk membunuh rasa sepi dan dingin yang menyerangnya di saat bersamaan. Matanya berhenti pada sebuah pohon di halaman rumah Sehun yang entah apa itu namanya. Seohyun teringat ketika masih kecil, ia dan Sehun suka sekali bermain di pohon itu. Tentu saja sebelum kejadian tiga belas tahun yang lalu yang membuat hubungan keduanya tak pernah akur lagi. Entah apa itu.

Suara langkah terseok membuat Seohyun menoleh kea rah sumber langkah terdengar. Tanpa di komando kaki Seohyun pun berlari dengan cepat menghampiri langkah itu.

‘Kau benar-benar  bodoh!’

Seohyun tercekat sesaat dan menghentikan langkahnya saat Sehun dengan tanpang menyedihkan berjalan melewatinya.

“Apa yang terjadi?” Seohyun bertanya pada Sehun yang dengan tak pedulinya masuk ke dalam halaman rumahnya Tanpa menengok atau berbicara sekedar ‘Mengapa kau berada di rumahku?’.

Seohyun berjalan mendekati pintu gerbang yang terbuka dan memanggil nama Sehun berulang kali namun Sehun tetap tak menggubrisnya.

“Apa yang kau lakukan di rumah Sulli? Apa kau membuat keributan  di sana?” Medengar nama Sulli di sebut, Sehun langsung  menengok kesal kea rah Seohyun yang  masih berdiri di depan pintu gerbang Tanpa ada keinginan  untuk pergi.

“Pulanglah!” Ucap Sehun datar dan masuk ke dalam rumah. Untuk sekali lagi ia tak mempedulikan Seohyun yang peduli kepadanya.

Pintu gerbang secara otomatis tertutup dari dalam  dan hal itu memaksa Seohyun untuk pulang ke rumah dengan-masih membawa rasa bersalah.

Di dalam rumah Sehun terdiam di kamarnya. Ia meringkuk  di sebelah tempat tidurnya  dan terdiam di sana Tanpa menangis. Bagi Sehun menangis adalah hal yang memalukan untuk seorang laki-laki dan ia tak mau melakukannya.

                ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tanpamu?’

*

Keesokan harinya, Tao mendatangi rumah kediaman Keluarga Seo. Ia membawa sebuket bunga dan coklat untuk Seohyun. Ia ingin memberikans sebuah kejutan dengan kedatanganya ke Korea. Yah, walaupun bukan untuk menemui Seohyun seperti rencananya semula.

‘Apa kabarmu di sini? Maaf aku harus datang pada saat situasi segila ini. Aku akan menikah dan itu bukan denganmu. Dan aku juga akan menikah dengan gadis yang bukan dirimu. Apa itu membuat kita tanpak menyedihkan Seohyun-ah?’

Itu adalah satu hal yang ingin Tao ucapkan seketika samapai di sana –Rumah Seohyun-. Namun, ia tak mendapati satu orang pun di rumah itu. Seorang tetangga rumah mengatakan “Oh kau mencari keluarga Seo? Ah anak muda, mereka sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya sih maumenjenguk seseorang.”

                ‘Dan keadaan menjadi bertambah rumit ketika aku tak bisa bertemu denganmu. Apa aku juga harus membuat segalanya menjadi rumit ketika tahu orang lain itu Sehun? Aku tak dapat menerimanya! Aku akan menerima jika orang lain itu bukan dia. Siapapun dan bukan dia.’

Dan dengan membawa kembali bunga dan coklat yang sekarang tergeletak di mobilnya. Tao berusaha menghubungi Seohyun. Namun sungguh malang. Sambungan telepon yang terus bersarang di mailbox. Akhirnya Tao memutuskan untuk bertemu Donghae. Ia ingin menanyakan masalah Seohyun dan Sehun yang di jodohkan.

*

Nyonya Oh menyambut Seohyun dengan hangat. Beliau benar-benar merasa senang dengan pertunangan antara anaknya –Sehun- dan Seohyun yang berhasil.

“Aku harap kalian akan terus bersama. Ah, kalian harus bersama.” Ucap Nyonya Oh dan hal itu sejujurnya membuat Seohyun tersenyum miris untuk dirinya sendiri.

‘Haruskah aku berakhir seperti Sulli?’ Tanyanya pada diri sendiri.

Seohyun mendorong Nyonya Oh yang menggunakan kursi roda menuju mobil yang akan membawa kedua keluarga minus Sehun menuju kediaman keluarga  Oh.

‘Apa dia baik-baik saja? Aku harap ia tidak menunjukkan tanpang seperti kemarin di depan ibunya.’

Sesampainya di kediaman keluarga Oh. Tuan Oh mempersilahkan masuk  karena hari mulai beranjak siang dan matahari sedang mencapai puncaknya di kisaran 41oF.

Suasana rumah begitu sepi dan tidak ada satu orang pun di dalam. Dan kedua keluarga  pun bertanya kemanakah gerangan Sehun pergi di saat ibunya baru saja kembali dari  rumah sakit? Tak terkecuali dengan Seohyun yang mulai kembali merasa khawatir pada Sehun. ‘Kemana dia pergi?’

“Ah mungkin dia sedang membeli sesuatu. Jangan terlalu memikirkan yang berlebihan.” Ucap Nyonya Seo menenangkan Nyonya Oh yang terlihat nampak khawatir.

“Semoga saja.” Ucap Nyonya Oh berharap dan menatap sebuah foto Sehun berserta dirinya dan tentu saja Tuan Oh karena itu foto keluarga.

“Seohyun terima kasih.” Lanjut Nyonya Oh dan ia pun meninggalkan ruang tamu dengan Tuan Oh yang ingin mengantarkan ke tempat tidur untuk beristirahat.

Hanya dua kata yang Nyonya Oh ucapkan. Dua kata yang di sebut terima kasih. Namun itu meninggalkan berbagai makna pada Seohyun. Terima kasih untuk menjenguknya. Terima kasih untuk mengantarnya. Terima kasih untuk ketersediaannya dalam perjodohan itu. Terima kasih untuk bersama Sehun. Seohyun hanya bisa tersenyum sangsi. ‘Haruskah?’

*

Donghae sedang menekuni hobi barunya. Menjadi seorang fotografer dan tentu saja masih amatir karena ia baru belajar kemarin. Beberapa kali ia memotret dan hasilnya masih jauh dari sempurna dan hal itu membuatnya kesal.

Tao mendatangi Donghae yang sedang berada di lantai 3 sebuah café yang sedang menjadi tempat bidikannya.

“Jika kau memfoto dengan cara seperti itu. Hasilnya tidak akan maksimal. Jaga emosimu hyung.” Ucap Tao yang langsung duduk di balkon café dengan masih menatap Donghae.

“Tapi tetap saja menyebalkan.” Tao hanya tertawa melihat Donghae yang duduk di depannya dengan tanpang tak beraturan.

“Kau nampak senang. Apa kau berhasil menemui Seohyun?” Tao seketika menghentikan tawanya dan hal itu sudah menunjukkan Tao tak bertemu dengan Seohyun.

“Setelah semua usahamu untuk mendapatkannya dan setelah hasil yang kau dapatkan. Ini sia-sia. Benar bukan?” Tao hanya mengangguk.

“Apa kau masih mengharapkan orang itu bukan Sehun?” Tao mengangguk lagi.

“Usaha benar-benar menjadi sia-sia bila akhirnya mereka tetap bersama. Aku bisa menerima jika Seohyun tidak bisa lagi aku miliki. Namun .. kau tahu maksudku.” Kini giliran Donghae yang mengangguk.

“Kita buat rencana?” Usul Donghae. Tao memandang hyungnya dengan perasaan cemas.

“Rencana?” Donghae mengangguk.  “Seperti dulu?” Donghae tersenyum.

*

Seohyun memandangi kertas rencana pembatalan pertunangan yang di buat Sehun. Entah perasaan apa yang membuat Seohyun tidak berniat melakukannya. Ia teringat Nyonya Oh yang begitu menginginkan semua itu dan perasan iba itu mulai muncul kembali.

Seohyun kembali membaca rencana itu. Cukup rasional dan tidak segila rencana kemarin. Namun ia membutuhkan satu orang perempuan yang bisa membuat rencana itu berhasil. Jujur ini bisa menghancurkan nama baik Sehun dan menyelamatkan nama baik Seohyun sendiri. Dan ini berarti tak merugikan Seohyun sama sekali dan malah menguntungkan. Namun tetap saja Seohyun tak ingin itu terjadi.

                ‘Aku tahu kau sebenarnya orang baik Sehun-ah. Seandainya saja kau tak melakukan sebuah kesalahan tiga belas tahun yang lalu. Pasti aku bersedia dengan perjodohan itu. Namun kenyataannya aku tak bersedia. Tapi tolong jangan lakukan rencana ini. Namamu akan benar-benar hancur.’

Seohyun melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam laci. Ia membayangkan ke tiga belas tahun yang lalu saat semua kebencian itu muncul.

                ‘Apa aku masih membencinya sampai sekarang?’

*

Seohyun kecil melangkah dengan tergesa-gesa menuju taman dekat rumahnya. Matanya lebam seperti habis menangis. Ia terus memegangi boneka teddy bear putih pemberian ayahnya yang sekarang sedang pergi dinas di luar kota.

“Sehun-ya!!” Teriak Seohyun pada namja yang sedang bermain pasir di bak pasir. Manik mata Sehun kecil pun memandang Seohyun sambil tersenyum.

“Ah Seohyun cepat kemarilah, aku sudah menyelesaikan kastil kita. Lihat cepat kemari!” Sehun berdiri dan tangannya melambai-lambai pada Seohyun yang masih saja diam di tempatnya memangil Sehun tadi.

“Kau lamban sekali Seohyun. Ayo cepat!” Sehun kecil menghampiri Seohyun. Tangan yang bebas tak menggenggam boneka sehun tarik kea rah bak pasir.

“Lepaskan!” Seohyun menarik kembali tangannya. Sehun pun terdiam.

“Ada apa denganmu? Bukankah kau ingin aku membangun kastil pasir?” Manik mata Sehun kebingungan. Ia belum pernah lihat wajah seohyun yang memerah akibat menahan marah.

“Kau pencuri!” Teriak Seohyun kecil lantang. Sehun tersentak kaget.

“Aku bukan pencuri!” Balas Sehun kecil.

“Pembohong!” Seohyun memukul-mukul Sehun dengan boneka teddy bear yang ada di tangannya. Sehun pun terus mengaduh kesakitan, namun Seohyun tetap memukulkan boneka itu pada badan Sehun.

“Sakit.. Seo.. sakit!” Teriak Sehun namun tak digubris oleh Seohyun. Alhasil secara reflex Sehun menampik boneka milik dan membuat boneka itu terbang dan mendarat(?) mulus di atas kolam ikan.

“Be! Bonekaku!” Seohyun berteriak panik. Ia segera berlari ke kolam ikan yang letaknya di samping tempat ia berdiri. Bonekanya basah dan kotor. Seohyun membenci kotor dan itu membuatnya bertambah marah pada Sehun.

“Kau jahat! Kau mencuri liontinku dan sekarang kau mengotori Be!” Hardik seohyun. Sehun pun semakan kebingungan.

“Aku tak pernah mencuri apapun! Aku laki-laki, mana mungkin aku mencuri liontinmu. Dan kalau masalah Be itu salahmu yang memukulku!” Ucap sehun. Seohyun yang tidak peduli dengan yang diucapkan Sehun pun memanggil Sehun dengan sebutan pencuri dan al itu membuat Sehun marah.

“Jangan pernah memanggilku dengan sebutan kotor Seohyun-ya!” Teriak Sehun.

“Kau memang pencuri!” Teriak Seohyun kecil.

Sehun yang sudah geram pun kembali berteriak “Apa buktinya aku mencuri hah?” Seohyun pun siap membalas perkataan Sehun.

“Hanya kau yang main di rumahku kemarin. Dan hanya kau yang aku tunjukan liontin pemberian halmoni yang sudah meninggal. Itu barang satu-satunya yang halmoni berikan padaku dank au mengambilnya! Dasar pencuri!”Ucap Seohyun.

Sehun pun berteriak “Tukang mengada-ada! Apa aku tertarik dengan liontin jelekmu itu? Itu liontin terjelek dan aku tidak akan pernah mengambilnya!” Teriak Sehun kemudian.

“Kau bukan temanku lagi!” Ucap Seohyun setelah Sehun berucap menjelekkan liontin pemberian almarhum halmoninya.

“Kau juga bukan temanku lagi!” Sehun berlari masuk ke dalam bak pasir dan mendang kastil yang ia bangun untuk Seohyun dan berlari pergi.

Seohyun terkejut dengan reaksi Sehun yang menendang kastil pasir. Dalam hati Seohyun semakan marah dan ia semakan tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menangis.

“Aku benci Sehun! Aku benci Sehun! Aku benci Sehun!” Seohyun terus menerus mengulangi kata itu sambil menangis sesenggukan dan terduduk sambil memegangi Be yang kotor.

-oo0oo-/To Be Continued

Bagimana dengan kelanjutannya. Saya minta maaf atas keterlambatan pempublishan FF ini. Laptop saya rusak dan itu memaksa saya untuk menunda pempublishan. Saya juga berusaha memperbaiki FF ini dengan mencoba menghilangkan typo. Apakah masih ada? *Beritahu saya ya?. TCE juga sudah selesai di part 2B/END. Saya juga berusaha semaksimal mungkin di sana. Dan saya mengharapkan RCL dari para pembaca untuk perbaiakn FF saya kedepannya. *Deepbow

baca part 2B/END in here

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

2 responses »

  1. oh jadi yg bikin keadaan benci itu karna sehun to
    lanjuut baca ya thor

    Balas
  2. ohh jadi itu alasan seo benci sm sehun O.o next

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s