RSS Feed

The One

Posted on

 The One

Author : Kim Hye Ma (IRF)

Tittle : The One

Main Cast : Quila L Wood (OC)

Support Cast : Prince of Ipsiwch, Princess Palvier, Ferguson Rycorft (OC)

Cameo : Pewel Family, Prof.Cristian Arculenta (OC)

Rating : AG

Genre : Fantasy, Family

Lenght : Series

Disclaimer : The cast it’s  mine!

The One Slide 1

Quila mengerjapkan matanya. Perlahan diliriknya jarum-jarum jam weker di atas meja. Tepat pukul 6 pagi. Ia bangkit dari posisi tidurnya sambil melakukan peregangan. Quila berdiri dan melangkah malas menuju kamar mandi. Dibasuhnya wajah yang masih mengantuk. Perlahan ia menatap lekat wajahnya di cermin.

“Tak ada yang berubah” gumamnya. “Namun semua hal telah berubah dalam sehari” lanjutnya sambil memandangi diri sendiri di cermin.

Lalu ia melangkah ke luar kamar mandi. Matanya memutar memandangi sekeliling ruangan yang ia tempati tadi malam untuk sejenak melepas penat dan segala hal yang membuatnya begitu frustasi. Yah frustasi. Banyak bayangan serta pikiran menyebalkan yang terus bersarang dikepalanya. Quila lelah. Sangat lelah. Sejenak ia termenung sesaat setelah sampai di pinggir tempat tidur dan terduduk disana.

‘Siapakah aku sebenarnya?’

***

Flashback, 5 hari yang lalu.

Quila berjalan sendiri mengelilingi taman di dekat rumahnya. Kira-kira 3 blok dari rumahnya. Lebih tepatnya rumah paman dan bibi Quila. Quila yatim piatu sejak kecil. Ibunya meninggal ketika Quila berumur 3 tahun. Dalam waktu bersamaan ayahnya menghilang, tidak ada yang tahu kemana perginya.

Quila terus berjalan. Matanya terus memandang sekeliling. Ia terduduk ketika melihat sebuah bangku taman kecil di bawah pohon mapple.

‘Musim semi yang indah’ gumamnya pelan

Matanya menerawang sekeliling. Matanya terhenti ketika melihat sebuah keluarga kecil sedang asiknya bercanda. Quila iri. Ia tak pernah mengenal kedua orangtuanya. Karena saat ibunya meninggal dan ayahnya meninggalkannya begitu saja, Quila mengalami amnesia. Tak satu hal pun ia ketahui tentang mereka. Tak satupun. Ia hanya terus mendengar samar-samar suara teriakan seorang wanita dan pria yang menangis histeris. Disaat bersamaan juga ia mendengar tawa menggelegar sekelompok orang dan umpatan yang tak pantas. Hanya itu yang ia ingat, hanya suara itu. Tak ada apapun. Tak ada.

Angin berhembus lemah menerpa rambut hitam pekat milik Quila yang dibiarkannya tergerai rapi. Sesekali Quila mencoba menghirup aroma dedaunan dan bunga-bunga nan harum dan segar yang terbawa oleh angin. Angin musim semi memang sangat menyejukkan. Perlahan Quila mulai memejamkan mata. Mencoba kembali merasakan sejuknya angin musim semi yang begitu nyaman dirasa. Suasana menjadi begitu tenang dan makin tenang. Inilah yang Quila butuhkan, sebuah ketenangan.

***

Hari telah senja. Sinar menyilau orange memancar ke arahnya. Mata Quila terbuka. Dilihatnya sekeliling. Taman sudah sepi. Ia bangkit berdiri. Tak terasa sudah dua jam ia terduduk disana dengan mata terpejam.

Quila melangkah ke arah barat tepat dimana matahari dengan nakalnya bersinar menyilaukan kearahnya. Quila harus terus berjalan hingga 3 blok kedepan dimana rumah paman-bibinya berada. Rumah yang terletak di sebuah kota kecil bernama Friendship, tepatnya daerah Namforks, Edmonton USA.

Rumah bergaya tudor dengan halaman yang cukup luas. Ada pohon cemara di beranda rumah. Rumput-rumput  segar menghias di taman. Ada beberapa tanaman unik milik bibi Quila yang berjejer di beranda rumah. Bunga dendalion di sekitar pagar. Hal itu cukup bagi Quila. Ditambah Keluarga Pewel, paman-bibinya sangat ramah terhadapnya.

Paman Pewel adalah adik ibu Quila. Sekaligus keluarga satu-satunya yang Quila miliki. Beliau dan istrinya, Ny.Pewel memutuskan mengasuh Quila hingga ia bisa hidup mandiri suatu saat nanti. Mereka mempunyai 3 orang anak. Lavia Pewel, dia adalah anak pertama Keluarga Pewel. Dia sebaya dengan Quila yang berumur 17 tahun.  Jonathan Pewel dan Sarah Pewel, mereka kembar. Mereka adik Livia Pewel yang berjarak 5 tahun darinya.

Cahaya senja masih setia menyilaukan mata. Tinggal beberapa rumah lagi dan Quila akan sampai di Wall Street 4 tempat ia tinggal selama ini.

Quila sampai dirumah paman-bibinya. Rumah yang cukup baginya. Ia melangkah masuk dan pandangannya terhenti pada kotak surat yang sudah terisi beberapa surat yang saling berjejalan. Ia melangkah mengambilnya, ada 3 buah surat dengan warna yang berbeda. Putih polos untuk Tuan Pewel dari Kantor Kehakiman Namforks, tempat Paman Pewel bekerja selama ini. Coklat untuk Sarah Pewel dari Namfoks School. Dan yang terakhir, surat perkamen coklat untuk “Tunggu! Untukku?” Gumam Quila pada diri sendiri.

Ia tak  pernah menyangka akan ada surat yang dikirimkan untuknya. Karena pada dasarnya tak ada sanak saudara selain Keluarga Pewel yang ia punya. Ini pertama kalinya ia mendapatkan surat.

“Tapi dari siapa ya?” lanjutnya sambil membolak-balik surat perkamen coklat yang tertera namanya, Quila L Wood.

Dengan penuh tanda tanya ia masuk ke dalam rumah.

“Aku pulang” Serunya sambil membuka sepatu dan menaruhnya ditempat sepatu. Quila melangkahkan kakinya kedapur. Aroma soup sudah tercium sejak ia masuk rumah.

“Masak apa?” Tanyanya

“Kau sudah pulang rupanya. Kemana saja kau heh?” timpal Livia sinis.

“Hanya menghirup aroma musim semi”

“Waw .. kau tau saja aku sedang lapar” Quila berteriak senang karena Livia memasakan soup jagung kesukaannya sedangkan Livia hanya bisa menggelengkan kepala.

“Apa itu ditanganmu?” Tanya Livia sambil mematikan kompor.

“Oh ini?.. ada surat untuk paman, Sarah, dan aku”

“Benarkah kau mendapatkan surat, Quila? Aku kira kau tak punya teman” Ucap Jonathan dari lantai dua. Nadanya seperti biasa penuh dengan kesinisan.

“Entahlah” Quila hanya tersenyum kecut. Sikap Jonathan memang sudah seperti itu sejak Quila ada disana. Ia tak pernah suka dengan Quila.

“Hentikan Jo!” Teriak Livia yang  langsung mendapat cibiran dari Jonathan.

“Jangan terlalu membelanya kak” Jonathan turun kelantai satu dan dengan segera mengambil duduk di meja makan.

“Kau bisa menaruh suratnya disana Qui” Jonathan mengalihkan pandangannya setelah menunjuk tempat kerja ayahnya.

“Baiklah, aku akan ke atas” Quila berjalan ke arah meja dan meletakkan surat untuk Paman Pewel disana serta surat untuk Sarah tentunya.

***

Perlahan pintu kamar terbuka. Quila masuk ke kamarnya di lantai dua. Kamar berukuran 4×4 meter ini sudah menjadi temannya sejak ia tinggal disini. Kamar berwarna biru itu tampak menyejukkan saat lampu menyala terang. Ia mulai melangkah dan terduduk di ranjang kecilnya. Perlahan ia membuka surat perkamen coklat yang baru saja ia terima. Ia mengambil sebuah tumpukan perkamen di dalamnya. Ada 4 perkamen dengan nomor yang berbeda.

Dibukanya perkamen pertama. Alisnya saling bertaut saat mendapati sebuah logo dengan tulisan aneh.

“Apa ini?” Gumamnya lirih. Belum rasa penasarannya hilang. Quila kembali dikejutkan dengan terbangnya surat perkamen yang ia pegang. Angin mulai bersemilir di rongga-rongga rambutnya. Sekelebat sinar mulai terpancar dari perkamen tersebut. Dua buah cahaya menyilaukan mulai mengitarinya.

“Hai, kau Quila bukan?” Dua buah cahaya tadi berubah menjadi dua peri yang terus bergentayangan di sekitar Quila.

Quila mulai ketakutan. “Si-Siapa kalian?” Kedua peri itu masih terus berputar-putar disekeliling Quila dan tepat berhenti di depan wajah Quila. Quila terjengkang, dia terlalu terkejut dengan sinar yang secara tibia-tiba menyerang matanya.

“Kau tak apa?” Kedua sinar itu masih menatapnya. Quila segera terbangun. “Ehm..” Quila berdehem. Lalu ia menghela nafas panjang dan mulai menatap kedua sinar itu intens.

“Siapa kalian?”

About hanhyema

96line. Love music and fiction world. Setiap kali aku melihat cermin, yang aku tatap adalah masa lalu. Masa lalu yang kujanjikan akan berubah. Jika tidak bisa didunia nyata, kuharap aku bisa di dunia imajinasiku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s